Menjadi 'Kulit Kedua' untuk Buah

Keunggulan lain dari inovasi ini adalah kemampuannya membentuk lapisan tipis yang dapat dimakan, mudah terurai, dan aman dikonsumsi.

Lapisan tersebut bekerja layaknya “kulit kedua” yang melindungi buah tanpa menghambat pertukaran udara. Hasilnya, buah kehilangan air lebih lambat, proses pencokelatan berkurang, dan masa simpannya menjadi lebih panjang.

“Lapisan tersebut bertindak seperti kulit kedua yang memungkinkan udara masuk.

Ukuran kualitas makanan seperti keasaman dan gula larut juga tetap lebih tinggi pada buah yang dilapisi,” jelas Dr. Yang.

Lapisan ini juga memiliki sifat antimikroba yang membantu menghambat pertumbuhan bakteri penyebab pembusukan.

Mengurangi Limbah Pangan

Menurut para peneliti, manfaat terbesar teknologi ini mungkin bukan hanya pada keamanan pangan, melainkan pada potensinya mengurangi limbah makanan.

Buah yang lebih tahan lama berarti lebih sedikit produk yang dibuang selama distribusi, penyimpanan, maupun di rumah tangga.

>>> Honda Monkey Terbaru: Warna Segar dan Jok Kotak-Kotak Makin Ikonik

Dalam konteks perubahan iklim, pengurangan limbah pangan dinilai penting karena makanan yang terbuang juga berarti pemborosan air, energi, lahan, dan emisi yang dihasilkan selama proses produksinya.