Gugatan yang diajukan American Civil Liberties Union (ACLU) menuding penyidik utama kasus, Scott O'Connell, sengaja menghilangkan bukti yang meringankan, termasuk data pembaca pelat nomor yang menunjukkan kendaraan Dillon tak pernah berada di dekat lokasi kejadian.

"Alih-alih menguji jawaban mesin terhadap bukti yang seharusnya membebaskannya, para petugas justru membangun kasus untuk mengonfirmasi hasil mesin itu," demikian isi gugatan tersebut, dilansir The Guardian.

Dillon menyebut dirinya kini tak lagi merasa nyaman bersikap ramah kepada anak-anak, dan tak ada satu pun lembaga penegak hukum yang meminta maaf.

Direktur litigasi privasi Electronic Frontier Foundation (EFF), Adam Schwartz, menyebut kasus Richardson sebagai kasus salah tangkap ke-14 akibat kesalahan sistem pengenalan wajah yang diketahui publik, dengan mayoritas korban adalah orang kulit hitam.

Kantor Sheriff Jacksonville menolak anggapan bahwa teknologinya diskriminatif terhadap warna kulit tertentu.

>>> 5 Rekomendasi Body Lotion Tanpa Pewangi untuk Kulit Sensitif dan Parfum Tahan Lama

Sementara itu, investigasi The Guardian pada Mei lalu menemukan pengawasan terhadap sistem pengenalan wajah berbasis AI di Inggris maupun negara lain masih sangat minim, sedangkan kemajuan teknologinya jauh melampaui kemampuan otoritas untuk mengaturnya.