Sedikitnya sembilan universitas membuka program studi embodied intelligence, yaitu teknologi yang menggabungkan AI dengan robot atau perangkat fisik.

Permintaan tenaga kerja di sektor AI juga terus meningkat. Platform rekrutmen Zhilian Zhaopin mencatat lowongan untuk posisi AI Product Manager melonjak 81% dibandingkan tahun lalu.

Sementara platform Maimai mencatat kenaikan hingga 369% untuk posisi serupa.

Selain merombak jurusan kuliah, pemerintah China juga menargetkan melatih satu juta anak muda tahun ini dalam bidang AI, manufaktur canggih, ekonomi ketinggian rendah, serta kendaraan energi baru.

Belum Tentu Jadi Solusi

Meski demikian, sejumlah pakar menilai perubahan jurusan saja belum tentu mampu menyelesaikan persoalan pengangguran.

Peneliti senior National Institute of Education Sciences, Chu Zhaohui mengatakan, banyak program studi yang kini dihapus sebenarnya baru dibuka beberapa tahun lalu sehingga belum sempat berkembang.

Ia menilai universitas seharusnya memberikan keleluasaan lebih besar kepada mahasiswa untuk memilih mata kuliah sesuai minat dan membangun kompetensinya sendiri, dibanding terus-menerus mengganti jurusan mengikuti tren pasar kerja.

Pandangan serupa mulai dianut sebagian orang tua di China.

Salah satunya Vincent Zhao, pemilik perusahaan produksi media di Beijing, yang memilih mengarahkan putrinya mengambil jurusan statistik dan tata kelola data karena dianggap memiliki prospek lebih luas.

>>> Komut Pertamina: Keselamatan Kerja Fondasi Utama Keandalan Operasional

Bagi banyak keluarga di China, konsep lama bahwa satu jurusan akan mengantarkan seseorang pada satu pekerjaan tetap hingga pensiun kini dinilai sudah tidak lagi relevan.