Kemenpar juga memberikan perhatian pada aspek keselamatan melalui pelatihan peningkatan kompetensi pemandu wisata, khususnya penanganan pertama pada aktivitas wisata ekstrem.

Pendampingan berkelanjutan dilakukan melalui asistensi KSW 5.0 kepada 65 desa wisata pada 2022–2023 dan 10 desa wisata pada 2024 di sejumlah Destinasi Pariwisata Prioritas.

Destinasi tersebut antara lain Danau Toba, Borobudur–Yogyakarta–Prambanan, Mandalika, Labuan Bajo, Wakatobi, dan Bromo-Tengger-Semeru.

Di bidang pelestarian lingkungan, Kemenpar menggandeng GoTo Impact Foundation dalam pengelolaan sampah di Desa Hariarapohan, Besakih, dan Golo Mori.

Program Eco Village bersama Pocari Sweat dijalankan selama tiga tahun hingga 2027 di Dusun Sade dan tujuh desa penyangga Mandalika.

>>> Daftar Wilayah Bisa Saksikan Gerhana Matahari Total Terlama Abad Ini

Sinergi lintas sektor turut menjadi pilar pengembangan desa wisata.

Kemenpar menjalin kerja sama dengan tujuh kementerian/lembaga serta 25 mitra yang terdiri atas korporasi, asosiasi, dan perguruan tinggi.

Kolaborasi dilakukan bersama Kementerian Desa, Kementerian Keuangan melalui BPDLH, Kementerian Koperasi, Kementerian UMKM, BNPB, dan BMKG.

Kemitraan juga dibangun bersama sektor swasta.

PT Astra International membina 45 desa wisata melalui program Desa Sejahtera Astra dan Kampung Berseri Astra.

BCA mendukung penguatan fasilitas serta literasi keuangan bagi 19 desa wisata melalui program Bakti BCA.

Digitalisasi tata kelola desa wisata diperkuat melalui kerja sama dengan Atourin melalui penerapan Visitor Management System (VMS) dan digitalisasi paket wisata.

Di sisi promosi, platform Jadesta terus dikembangkan sebagai pusat data dan publikasi desa wisata nasional.

Upaya membuka akses pasar internasional diwujudkan melalui partisipasi tiga desa wisata binaan pada ajang ITB Berlin 2025 di Jerman, hasil kolaborasi Kemenpar bersama BCA.