Vance vs Rubio: Kabinet Trump Terpecah soal Iran?
Kabinet Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan terpecah dalam menyikapi penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan Iran untuk mengakhiri perang.
Wakil Presiden JD Vance gencar membela kesepakatan tersebut di berbagai media. Ia menyebut perundingan telah menghasilkan kemajuan yang baik dan meletakkan fondasi kuat untuk kesepakatan final.
>>> Ronald Koeman Mundur dari Kursi Pelatih Belanda
Vance bahkan mengkritik Israel yang menentang MoU tersebut. Ia memperingatkan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk mendukung kesepakatan ini.
"Donald J.
Trump adalah satu-satunya kepala negara di dunia yang saat ini benar-benar berpihak kepada Israel," kata Vance kepada wartawan awal bulan ini.
Ia juga menyindir pendekatan militer Israel yang kerap membombardir tanpa pandang bulu hingga menyebabkan banyak korban sipil.
Sikap berbeda ditunjukkan Menteri Luar Negeri Marco Rubio. Ia menghindari kritik terbuka terhadap Israel dan lebih memilih mengecam pemerintah Iran.
Pekan lalu, Rubio mengunjungi Timur Tengah untuk meyakinkan negara-negara Teluk yang sempat menjadi sasaran serangan Iran.
>>> Yowayowa Sensei Hindi Dub Kini Tersedia di Ani-One India
Ketika dimintai tanggapan mengenai kritik Vance, Rubio menghindari jawaban langsung dan justru mengungkit serangan Hezbollah terhadap pos pemeriksaan Israel.
Perbedaan nada pernyataan Vance dan Rubio dalam sepekan terakhir memicu spekulasi adanya perbedaan pandangan di dalam pemerintahan Trump.
Gedung Putih membantah adanya perpecahan.
Vance dan Rubio merupakan dua tokoh diplomasi paling berpengaruh dalam pemerintahan Trump. Keduanya mewakili dua arus pemikiran berbeda dalam kebijakan luar negeri Partai Republik.
Sebelum menjabat wakil presiden, Vance kerap mengkritik keterlibatan AS dalam perang di luar negeri.
Sebaliknya, Rubio dikenal sebagai politikus garis keras yang mendorong kebijakan konfrontatif terhadap Iran, Rusia, dan Kuba.
>>> Ronald Koeman Mundur dari Kursi Pelatih Belanda
Keduanya juga dipandang sebagai calon penerus Trump dan mewakili dua faksi besar dalam Partai Republik: kelompok neokonservatif yang mendukung intervensi militer, dan kelompok yang menilai perang luar negeri hanya menimbulkan biaya besar.
Update Terbaru
Prancis Lolos Perempat Final Piala Dunia 2026 Usai Bantai Swedia 3-0
Rabu / 01-07-2026, 06:25 WIB
VW ID. Tiguan Bukan Sekadar Facelift ID.4, Ini Bedanya
Rabu / 01-07-2026, 06:25 WIB
Masalah Keuangan, VW Didorong Jual Ducati Saat Gacor di MotoGP
Rabu / 01-07-2026, 06:25 WIB
Daftar 6 Tim Lolos ke Babak 16 Besar Piala Dunia 2026
Rabu / 01-07-2026, 06:25 WIB
Fakta-Fakta Vonis Kasus Laptop Nadiem Makarim
Rabu / 01-07-2026, 06:25 WIB
IHSG Diramal Merah di Awal Juli, Analis Beri Rekomendasi Saham
Rabu / 01-07-2026, 06:24 WIB
Toy Story 5 Diproyeksi Jadi Film Toy Story Terlaris
Rabu / 01-07-2026, 06:24 WIB
Sennheiser Luncurkan Earbud Clip-On Pertama dengan Driver 12mm dan LDAC
Rabu / 01-07-2026, 06:07 WIB
Yoon Eun Hye 'Coffee Prince' Ungkap Rahasia Diet, Tubuh Kencang di Usia 41
Rabu / 01-07-2026, 06:07 WIB
ESA Sebut Server Minecraft Pribadi Ilegal, Upaya Stop Killing Games Kembali Gagal
Rabu / 01-07-2026, 06:05 WIB
ESA Sebut Server Minecraft Pribadi Ilegal, RUU Stop Killing Games Gagal di California
Rabu / 01-07-2026, 06:05 WIB
Moral Ambiguity dalam Grave Seasons: Tidak Ada Jawaban Benar dalam Plot Pembunuhan Supernatural
Rabu / 01-07-2026, 06:00 WIB
Moral Ambiguity dalam Grave Seasons: Tidak Ada Jawaban Benar di Plot Pembunuhan Supernatural
Rabu / 01-07-2026, 06:00 WIB
Ecuador Adukan Gangguan Suporter Meksiko ke FIFA
Rabu / 01-07-2026, 06:00 WIB






