Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan bahwa serangan pasukannya terhadap fasilitas energi menjadi penyebab utama kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang mulai dirasakan masyarakat di berbagai wilayah Rusia.

Menurut Zelensky, kondisi itu merupakan dampak langsung dari perang yang terus dilanjutkan Presiden Rusia Vladimir Putin.

>>> Hanya Syarat KTP Jakarta, Lowongan 2.843 Posisi Pemprov DKI Diserbu 100 Ribu Pelamar

Ia menyindir situasi ketika warga negara musuh harus mengantre di stasiun pengisian bahan bakar meski Rusia dikenal sebagai salah satu produsen minyak terbesar di dunia.

"Dalam negara penghasil minyak, atau 'pom bensin' sebagaimana Rusia sering dijuluki, kini menghadapi kelangkaan bahan bakar," kata Zelensky, dikutip Rabu (1/7).

Ia menegaskan bahwa kelangkaan tersebut bukan terjadi secara kebetulan, melainkan konsekuensi dari keputusan musuh mempertahankan perang melawan Ukraina.

"Ini adalah konsekuensi langsung dari perang. Salah satu dari sekian banyak konsekuensi.

Ini juga merupakan contoh bagaimana kami merespons -- dengan presisi, bukan melalui terorisme," ujar Zelensky.

Pernyataan itu disampaikan setelah usulan Ukraina untuk menghentikan serangan jarak jauh dan mengurangi intensitas pertempuran ditolak Rusia. Menurut Zelensky, keputusan tersebut justru memperpanjang penderitaan masyarakat Rusia.

>>> Amran Borong Jagung Lokal Rp5.500/Kg untuk Cadangan Pakan Unggas

Ukraina dalam beberapa bulan terakhir meningkatkan intensitas serangan drone terhadap berbagai fasilitas minyak dan kilang di wilayah Rusia.

Serangan itu bertujuan mengganggu rantai pasokan energi yang menjadi penopang utama logistik militer Moskow.

Pemerintah Rusia berupaya meredam kekhawatiran publik. Putin mengakui negaranya mengalami kekurangan pasokan bahan bakar, tetapi menegaskan situasinya belum mencapai tingkat kritis.

Ia mengatakan pemerintah telah mengambil berbagai langkah untuk mengatasi persoalan tersebut agar distribusi bahan bakar kembali normal.

Zelensky menilai kondisi itu menunjukkan bahwa perang tidak hanya berdampak di medan tempur, tetapi juga mulai dirasakan langsung oleh masyarakat Rusia melalui terganggunya pasokan energi domestik.

Dengan menjadikan infrastruktur energi sebagai sasaran serangan presisi, ia mengklaim mampu memberikan tekanan terhadap musuh tanpa harus menargetkan warga sipil.

>>> Xbox Dikabarkan Akan Batalkan Marvel's Blade dan Tutup Arkane Studios

Menurut Kyiv, strategi itu merupakan bagian dari upaya memaksa musuh mempertimbangkan kembali keberlanjutan perang yang telah berlangsung sejak 2022.