Survei: Pekerja RI Tolak Kenaikan Gaji Jika Kantor Masih Toxic
Survei terbaru Jobstreet by SEEK mengungkapkan mayoritas pekerja Indonesia enggan bekerja di lingkungan kerja yang toxic meskipun ditawari kenaikan gaji lebih tinggi.
Managing Director Indonesia Jobstreet by SEEK Wisnu Dharmawan mengatakan, pekerja Indonesia bersedia melakukan pengorbanan demi pendapatan lebih besar, tetapi tidak semua hal bisa ditukar dengan uang.
>>> INALSA Luncurkan Air Fryer Stainless Steel SteelChef DW5.5 5,5L
"Pekerja Indonesia bersedia bekerja ekstra atau direlokasi ke kota lain jika mendapat kenaikan gaji.
Namun, bukan berarti mereka mau mengorbankan apa saja demi uang," kata Wisnu dalam paparan Salary Pulse 2026 di Jakarta, Selasa (23/6/2026).
Hanya 3% Bersedia di Lingkungan Toxic
Dalam laporan Salary Pulse 2026, hanya 3% pekerja Indonesia yang mengaku bersedia bekerja di perusahaan dengan budaya kerja toxic demi kenaikan gaji 10%.
Angka tersebut menjadi yang paling rendah dibandingkan bentuk kompromi lain.
Sebanyak 29% responden bersedia menerima panggilan kerja di luar jam kerja atau on call, dan 29% lainnya bersedia direlokasi ke kota atau negara lain demi kenaikan gaji 10%.
Ketika menyangkut nilai pribadi dan budaya kerja, mayoritas pekerja memilih tidak berkompromi.
Hanya 6% responden bersedia bekerja di perusahaan yang tidak sejalan dengan nilai mereka, dan hanya 10% yang bersedia menerima pekerjaan yang kurang bermakna.
>>> JBL Live 780NC dan Live 680NC Resmi Diluncurkan di India dengan True Adaptive Noise Cancelling 2.0
Wisnu menilai temuan ini menunjukkan pekerja Indonesia tidak hanya mengejar gaji tinggi, tetapi juga mempertimbangkan kualitas lingkungan kerja.
Laporan juga menemukan kepuasan terhadap gaji berdampak langsung pada motivasi dan loyalitas.
Pekerja yang puas dengan gajinya 1,7 kali lebih termotivasi memberikan usaha lebih, sedangkan yang tidak puas 2,2 kali lebih mungkin mencari pekerjaan baru.
Digaji Layak Belum Tentu Puas
Salary Pulse 2026 menunjukkan 81% responden merasa digaji secara layak atau adil untuk posisi mereka saat ini, menjadikan Indonesia salah satu negara dengan persepsi kelayakan gaji tertinggi di Asia Pasifik.
Namun, tingkat kepuasan terhadap gaji hanya 66%.
Wisnu mengatakan pekerja tidak hanya ingin gaji sesuai standar pasar, tetapi juga ingin merasa dihargai atas kontribusi mereka.
"Perbedaan antara rasa 'layak' dan 'puas' dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari biaya hidup, kebutuhan keluarga, hingga target keuangan pribadi," ujarnya.
>>> Badai Memflation Melanda, Harga Smartphone Diprediksi Naik
Survei Salary Pulse 2026 dilakukan terhadap 1.010 pekerja Indonesia berusia 18 hingga 64 tahun pada Februari 2026.
Update Terbaru
Tugas Gold Lane di Mobile Legends: Peran Wajib Dikuasai
Rabu / 01-07-2026, 10:14 WIB
YouTuber Kim Se Ui Ditahan di Sel Isolasi Usai Sebar Bukti Palsu Kencan Kim Soo Hyun dan Kim Sae Ron
Rabu / 01-07-2026, 10:14 WIB
Ramalan Zodiak 1 Juli: Cancer Jangan Tergesa-gesa, Leo Tetap Waspada
Rabu / 01-07-2026, 10:14 WIB
Harga Emas Antam di Pegadaian Turun pada 1 Juli 2026, Simak Daftar Harga Terbarunya
Rabu / 01-07-2026, 10:14 WIB
Mbappe Cetak Brace, Samai Rekor Gol Messi saat Prancis Libas Swedia
Rabu / 01-07-2026, 10:11 WIB
Apakah Samsung Galaxy A57 5G Cepat Panas dan Lag? Ini Jawabannya
Rabu / 01-07-2026, 10:10 WIB
Solar dengan Kandungan Sawit 50 Persen Resmi Diberlakukan
Rabu / 01-07-2026, 10:10 WIB
17 Ribu Platform Belum Lapor PP Tunas, Akun-akun Terancam Dihapus
Rabu / 01-07-2026, 10:10 WIB
Hasil Piala Dunia Hari Ini: Prancis Singkirkan Swedia, Haaland Antar Norwegia ke 16 Besar
Rabu / 01-07-2026, 10:08 WIB
Jadwal Bioskop Trans TV 2 - 5 Juli 2026
Rabu / 01-07-2026, 10:07 WIB
Veteran Baldur's Gate 2 Tolak Tawaran Garap Baldur's Gate 4
Rabu / 01-07-2026, 10:00 WIB
Keyboard Edisi Ghost in the Shell dari IQUNIX, Perpaduan Estetika Cyberpunk dan Performa Gaming
Rabu / 01-07-2026, 10:00 WIB






