Saham Properti Ambles 37,27 Persen Sepanjang 2026, Tertekan Suku Bunga dan Rupiah
Kondisi ini berpotensi membuat calon pembeli menunda pengajuan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) serta memperketat penyaluran kredit dari perbankan.
"Valuasi sektor properti masih murah sehingga risk-reward atraktif, tapi rerating berkelanjutan kemungkinan baru terjadi bila bunga berbalik turun dan daya beli pulih secara nyata," kata Wafi.
Sektor properti masih memiliki peluang dorongan positif dari perpanjangan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) 100 persen hingga tahun 2027.
Namun, pelaku pasar tetap harus mencermati risiko kenaikan beban bunga laba dan potensi keluarnya dana asing.
Di tengah tekanan sektor hunian, properti kawasan industri dinilai memiliki ketahanan yang lebih baik.
Permintaan lahan untuk kebutuhan pusat data, logistik kendaraan listrik, serta pemindahan fasilitas produksi masih terjaga dengan kuat.
"Kenaikan suku bunga BI lebih menahan laju KPR residensial dalam jangka pendek. Namun, investasi asing (PMA) di kawasan industri minim dampak karena menggunakan pendanaan global," tutur Ester.
Muhammad Wafi menambahkan bahwa emiten dengan utang tinggi akan menghadapi tekanan beban bunga yang lebih besar seiring tingkat suku bunga BI di level 5,75 persen.
Keberlanjutan pemulihan sektor ini akan memerlukan bukti nyata dari peningkatan angka prapenjualan.
"Sentimen positif bisa dari insentif PPN DTP dan pipeline proyek di kuartal II. Sementara, sentimen negatif berasal dari rupiah lemah dan foreign outflow yang berlanjut," ungkapnya.
Sebagai strategi investasi, Muhammad Wafi menyarankan untuk fokus pada emiten properti yang memiliki pendapatan berulang yang kuat serta rasio utang terkendali.
David Kurniawan merekomendasikan opsi beli untuk saham PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA).
Sementara itu, Ester Mulyani melihat PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) memiliki daya tarik di era suku bunga tinggi karena kinerjanya bertumpu pada segmen industri.
Dari sisi penilaian, emiten ini memiliki rasio PER di bawah 10 kali dan PBV di bawah 1 kali.
"Dari valuasi, saham KIJA tergolong paling menarik di antara emiten kawasan industri dengan price to earning ratio (PER) di bawah 10 kali dan price to book value (PBV) di bawah 1 kali," paparnya.
Saham KIJA diperkirakan berpeluang melanjutkan tren penguatan menuju rentang harga Rp 220 hingga Rp 230 per saham.
>>> Pemprov DKI Siapkan Agenda Budaya Setahun Jelang HUT ke-500 Jakarta
Untuk target jangka menengah, pergerakan saham emiten kawasan industri tersebut diproyeksikan berada di kisaran Rp 250 sampai Rp 260 per saham.
Update Terbaru
FIFA Temukan 89 Ribu Cacian di Piala Dunia 2026, Naik 13 Kali Lipat
Kamis / 02-07-2026, 00:21 WIB
Babak I: RD Kongo Cetak Gol Cepat, Inggris Tertinggal 0-1
Kamis / 02-07-2026, 00:21 WIB
My Neighbor Totoro Kembali ke Bioskop AS untuk Lima Malam di Bulan Juli
Kamis / 02-07-2026, 00:21 WIB
Sony Konfirmasi Produksi Cakram Game PlayStation Berakhir pada 2028
Kamis / 02-07-2026, 00:21 WIB
My Hero Academia in Concert Rilis Video Perdana Jelang Tur Dunia Musim Gugur
Kamis / 02-07-2026, 00:20 WIB
Oblivion Remastered di Switch 2 Dikonfirmasi 1080p/30 FPS dengan DLSS
Kamis / 02-07-2026, 00:20 WIB
Sony Hentikan Produksi Cakram Fisik untuk Game Baru Mulai 2028
Kamis / 02-07-2026, 00:20 WIB
Bintik Merah Kecil di Luar Angkasa Ternyata Bintang Lubang Hitam Tersembunyi
Kamis / 02-07-2026, 00:20 WIB
Mantan Tentara AS Divonis Mencuri MRE Senilai Rp17 Miliar
Kamis / 02-07-2026, 00:16 WIB
5 HP Gaming Rp3 Jutaan Terbaik untuk Multitasking di 2026
Kamis / 02-07-2026, 00:16 WIB
Samsung Galaxy Tab S12+ dan S12 Ultra Dikabarkan Meluncur September
Kamis / 02-07-2026, 00:16 WIB
Samsung Bocorkan Tanggal Peluncuran Galaxy Z Flip 8 dan Z Fold 8
Kamis / 02-07-2026, 00:16 WIB
Fakta Mengejutkan tentang Kupu-Kupu yang Mengubah Cara Pandang Anda
Kamis / 02-07-2026, 00:15 WIB
Ilmuwan Akhirnya Ungkap Alasan Nyamuk Lebih Suka Menggigit Orang Tertentu
Kamis / 02-07-2026, 00:15 WIB






