Kemenperin Petakan Empat Klaster Industri Terdampak Pelemahan Rupiah
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memetakan empat klaster sektor manufaktur yang terdampak oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Pemetaan tersebut disampaikan di Kompleks DPR RI Senayan, Jakarta, pada Senin (8/6/2026).
>>> Ai+ Smartphone Buka Pra-penjualan dengan Ulasan Bebas untuk Nova2 Neo dan Nova2 Pro
Nilai tukar dolar AS menguat 0,84 persen atau naik 151 poin hingga mencapai level Rp 18.187.
Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arief menjelaskan, kelompok pertama adalah industri dengan bahan baku impor yang menjual produknya di dalam negeri.
Kelompok kedua merupakan industri berbahan baku impor yang berorientasi ekspor. Klaster ketiga mencakup industri yang memanfaatkan bahan baku domestik untuk pasar lokal.
Sementara klaster keempat adalah industri dengan bahan baku dalam negeri yang menyasar pasar ekspor.
"Di antara 4 klaster itu yang perlu kita perhatikan adalah industri yang bahan bakunya impor dan produknya dijual di dalam negeri," kata Febri.
Ia mencontohkan industri tekstil, elektronik, komponen elektronik, petrokimia, dan bahan baku plastik yang masuk dalam kategori tersebut.
Sebagai langkah antisipasi, Kemenperin mendorong optimalisasi fasilitas Local Currency Settlement yang diinisiasi Bank Indonesia.
>>> IHSG Anjlok Hampir 5 Persen pada Perdagangan Sesi II
Fasilitas itu memungkinkan transaksi perdagangan menggunakan mata uang lokal, tidak harus dolar AS.
"Jadi, ketika mereka beli bahan baku impor itu tidak harus dalam dolar.
Tidak harus dalam dolar jika bisa menggunakan uang dari negara-negara yang sudah bekerja sama dengan kita seperti China, Jepang, Indonesia, Malaysia, Thailand," tutur Febri.
Kenaikan harga bahan baku impor akibat depresiasi rupiah dinilai dapat menjadi momentum untuk memacu kehadiran investor baru yang bersedia membangun fasilitas produksi bahan baku di dalam negeri.
Kemenperin juga meluruskan persepsi publik dengan memaparkan data bahwa porsi bahan baku impor dalam struktur manufaktur nasional hanya sekitar 21 persen.
Sebanyak 34 persen kebutuhan pasokan berasal dari sektor manufaktur hulu serta industri antara, sedangkan 45 persen sisanya dipasok oleh sektor hulu seperti perkebunan, kehutanan, pertambangan, minyak, listrik, dan gas.
"Jadi, dari struktur industri bahan baku kita hanya 21% yang dari impor. Karena selama ini kita terlena dengan narasi bahwa 70% bahan baku industri itu import.
>>> UniPin Series Road to FFNS 2026 Fall Masuki Grand Final
Itu terhadap total impor," kata Febri.
Update Terbaru
LG Kenalkan Smart Home AI ala Korea di Indonesia, Gandeng Minho SHINee
Rabu / 01-07-2026, 13:15 WIB
Koleksi Merchandise Disney F1 Ini Bikin Saya yang Bukan Penggemar Balap pun Tertarik
Rabu / 01-07-2026, 13:14 WIB
Twenty Below Coffee Tutup Dua Lokasi di Fargo dan Moorhead
Rabu / 01-07-2026, 13:14 WIB
Justin Wrobleski Dominasi Twins, Perkuat Peluang ke All-Star
Rabu / 01-07-2026, 13:14 WIB
RTX 3060 Kembali Dijual di Jerman, Tapi Harganya Lebih Mahal dari GPU Generasi Baru
Rabu / 01-07-2026, 13:10 WIB
Dave Roberts Raih Kemenangan ke-1.000 sebagai Manajer Dodgers
Rabu / 01-07-2026, 13:10 WIB
Niall Horan Hadiri Wimbledon 2026 Bersama Kekasih, Bicara Kesuksesan Album Baru
Rabu / 01-07-2026, 13:10 WIB
Bracket Knockout Piala Dunia 2026 Ditentukan, 32 Tim Bersaing
Rabu / 01-07-2026, 13:08 WIB
Dodgers Panggil Wyatt Mills, Designate Jonathan Hernandez
Rabu / 01-07-2026, 13:08 WIB
BMW Luncurkan X5 Generasi Kelima dengan Lima Pilihan Drivetrain
Rabu / 01-07-2026, 13:07 WIB
PERURI Pamerkan Inovasi Limbah Jadi Paving Block di Sunda Karsa Fest KKJ 2026
Rabu / 01-07-2026, 13:07 WIB
Kemenperin: Penguatan HGBT Jadi Penopang Industri Nasional
Rabu / 01-07-2026, 13:07 WIB
Syarat Terjadinya Integrasi Sosial di Masyarakat Menurut Ahli
Rabu / 01-07-2026, 13:07 WIB
Cara Cepat Dapat Saldo DANA 10 Dolar Lewat Aplikasi Puzzle Seru 2026
Rabu / 01-07-2026, 13:07 WIB






