Saham BBCA Anjlok 6,45 Persen ke Level Terendah Lima Tahun
Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengalami penurunan tajam pada penutupan perdagangan Jumat (5/6/2026) pekan lalu.
Emiten bank swasta terbesar ini merosot hingga 6,45 persen ke angka Rp 5.075 per saham.
>>> Dolar AS Kokoh di Level Tertinggi, Yen Jepang Terpuruk
Posisi tersebut menjadi level terendah bagi saham berkode BBCA dalam kurun waktu lima tahun terakhir.
Kejatuhan ini berjalan selaras dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang juga longsor 4,20 persen ke posisi 5.594.
Perdagangan mencatat sebanyak 572,61 juta saham BCA berpindah tangan dengan frekuensi 98.350 kali, serta nilai transaksi mencapai Rp 2,96 triliun.
Tekanan jual yang masif membuat investor asing membukukan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp 1,10 triliun dalam sehari.
Sepanjang tahun berjalan, performa saham Bank Central Asia sudah mengalami penurunan sebesar 37,15 persen.
CGS International Sekuritas memproyeksikan pergerakan saham BBCA untuk perdagangan Senin (8/6/2026) masih berisiko melemah.
Lembaga sekuritas tersebut menaksir potensi penurunan lanjutan dengan titik support pertama pada level 4.975 dan support kedua di posisi 4.875.
>>> Puspresnas Rilis Tata Tertib OSN-K 2026, Peserta Wajib Hadir 45 Menit Sebelum Ujian
Sebaliknya, saham BBCA berpeluang berbalik arah jika mampu menyentuh pivot 5.175, dengan target resistance pertama pada 5.275 dan resistance kedua di 5.475.
Analisis Teknikal dan Proyeksi
Di sisi lain, BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) menilai pergerakan BBCA secara teknikal masih terjebak dalam tren bearish. Kondisi ini terkonfirmasi melalui pola Head and Shoulders pada grafik mingguan.
Dominasi tekanan jual terlihat dari peningkatan volume transaksi saat harga saham mengalami koreksi, ditambah indikator MACD yang bergerak di area negatif.
BRIDS mencatat bahwa aksi jual bersih oleh investor asing (net foreign sell) sepanjang tahun berjalan telah menembus Rp 31,34 triliun hingga Kamis pekan lalu.
"Harga saat ini mendekati support kuat 4.775–4.100, yang berpotensi menjadi area pembentukan support," kata BRIDS dalam catatannya, Jumat sore.
Menurut penjelasan pihak broker, tren penurunan diperkirakan masih akan mendominasi pergerakan saham selama BBCA belum mampu merangkak naik kembali ke atas level 5.700–6.000.
>>> Piala Dunia 2026: Hadiah Fantastis untuk Tim Juara Capai Rp1 Triliun
"Kinerja terakhir solid dengan laba bersih kuartal I 2026 sebesar Rp 14,68 triliun (+4% yoy)," pungkas BRIDS.
Update Terbaru
Matt Smith Tak Percaya Keanu Reeves Nonton Film Gagalnya, Morbius
Jumat / 03-07-2026, 04:29 WIB
Manajer Komunitas Destiny 2 Kritik Pemimpin yang Buat Keputusan Buruk Bertahun-tahun
Jumat / 03-07-2026, 04:28 WIB
Mikel Oyarzabal Bawa Spanyol ke Babak 16 Besar Piala Dunia
Jumat / 03-07-2026, 04:28 WIB
Mike Rowe Gugat Discovery atas Biaya Narasi Deadliest Catch
Jumat / 03-07-2026, 04:28 WIB
Penampakan Hiu Paksa Penutupan Bergilir di Pantai Long Island dan Queens
Jumat / 03-07-2026, 04:28 WIB
Square Enix Manga & Books Umumkan 8 Manga dan 2 Buku Final Fantasy
Jumat / 03-07-2026, 04:26 WIB
Los Angeles Alami Suhu Lebih Dingin di Tengah Gelombang Panas Nasional
Jumat / 03-07-2026, 04:26 WIB
Zendaya Puji Dedikasi Tom Holland di Film Spider-Man: Brand New Day
Jumat / 03-07-2026, 04:26 WIB
Kebakaran Besar Melanda Bekas Pembangkit Listrik Aberthaw di Wales
Jumat / 03-07-2026, 04:21 WIB
BBC Hentikan Serial Winterwatch Setelah 14 Tahun, Ganti dengan Naturewatch
Jumat / 03-07-2026, 04:21 WIB
Resiliensi dan Fokus Baja: AS Kalahkan Bosnia di Piala Dunia
Jumat / 03-07-2026, 04:21 WIB
Piala Dunia 2026: Taruhan USMNT Cetak Rekor Baru
Jumat / 03-07-2026, 04:16 WIB
Psywar Jelang Portugal vs Kroasia, Cristiano Ronaldo Disebut Impoten
Jumat / 03-07-2026, 04:16 WIB
Invasi Suporter Argentina di Miami: Tiket Mahal dan Keamanan Diperketat
Jumat / 03-07-2026, 04:16 WIB






