IHSG Ambrol 4,20 Persen, Pengamat Sebut Ada Krisis Kepercayaan Pasar Domestik
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami penurunan tajam pada perdagangan Jumat (5/6/2026). Indeks komposit terpangkas 4,20% atau 245,01 poin ke level 5.594.
Dalam sepekan terakhir, IHSG telah merosot 8,73%. Sementara dalam sebulan ke belakang, indeks anjlok 19,75%.
>>> Subsidi dan Kompensasi Energi Tembus Rp203,7 Triliun per Mei 2026
Data IDX Mobile menunjukkan sebanyak 656 saham ditutup melemah, 115 saham menguat, dan 188 saham stagnan.
Total volume transaksi mencapai 34,74 miliar saham dengan nilai Rp31,44 triliun, sehingga kapitalisasi pasar menyusut menjadi Rp9.807 triliun.
Saham-saham big caps bergerak loyo.
BBCA terkoreksi 6,45% ke Rp5.075, BREN ambrol 10,25% ke Rp3.590, dan DCII melemah 5,46% ke Rp180.250.
BBRI turun 2,49% ke Rp2.740, sedangkan BMRI melemah 3,27% ke Rp3.840.
Di tengah tekanan, beberapa saham big caps masih mampu menguat.
MPRO naik 2,11% ke Rp8.450, MDKA bertambah 3,21% ke Rp2.570, ADMR menguat 1,45% ke Rp1.400, dan INCO meningkat 4,10% menjadi Rp4.570.
>>> OJK Wajibkan Fintech Lending Penuhi Ekuitas Minimum Rp12,5 Miliar
Krisis Kepercayaan Domestik
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai koreksi tajam IHSG mengindikasikan krisis kepercayaan serius di pasar domestik.
Menurutnya, penurunan ini tidak hanya dipicu faktor eksternal seperti konflik AS-Iran yang mendorong harga minyak mendekati US$100 per barel.
Tekanan diperberat oleh akumulasi sentimen domestik yang belum menemukan titik terang.
Beberapa di antaranya adalah pelemahan rupiah mendekati Rp18.000 per dolar AS, kekhawatiran kebijakan ekspor satu pintu, serta aksi jual asing yang berlanjut.
"Di tengah bursa Asia yang mayoritas justru menguat, kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap pasar domestik lebih banyak berasal dari faktor internal dibandingkan eksternal," ujar Hendra Wardana.
Menanggapi situasi ini, Pjs.
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, menegaskan bahwa reformasi pasar modal yang dijalankan bersama OJK bertujuan memulihkan kepercayaan investor.
>>> Sabar/Reza Tembus Semifinal Indonesia Open 2026 Usai Kalahkan Wakil China
"Dengan meningkatkan transparansi, granularisasi data, dan informasi high shareholding concentration, itu seluruhnya adalah upaya kami untuk meningkatkan kembali kepercayaan investor," jelas Jeffrey Hendrik.
Update Terbaru
PS5 Disc Drive Jadi Tidak Berguna pada 2028? Sony Hentikan Produksi Fisik
Jumat / 03-07-2026, 03:26 WIB
Dow Cetak Rekor Tertinggi, Nasdaq Tertekan Aksi Jual Saham Chip
Jumat / 03-07-2026, 03:26 WIB
Anak 11 Tahun di Kanada Meninggal Akibat Rabies Setelah Terpapar Kelelawar
Jumat / 03-07-2026, 03:26 WIB
Spanyol Siap Hadapi Austria di Piala Dunia, Skuad Pulih Cedera
Jumat / 03-07-2026, 03:21 WIB
FBI Kerahkan 260 Personel untuk Investigasi Pemilu 2020 di Georgia
Jumat / 03-07-2026, 03:21 WIB
Polisi Geledah Markas Sepak Bola Jerman Terkait Dugaan Korupsi Euro 2024
Jumat / 03-07-2026, 03:21 WIB
Tuchel Kritik Aturan FIFA yang Rugikan Inggris Jelang Lawan Meksiko
Jumat / 03-07-2026, 03:16 WIB
Oliver Kahn Murka: Timnas Jerman di Piala Dunia 2026 Dihuni Pemain Mental Tempe
Jumat / 03-07-2026, 03:16 WIB
Mikel Oyarzabal Bawa Spanyol Ungguli Austria 1-0 di Babak 32 Besar
Jumat / 03-07-2026, 03:16 WIB
2026-27 NBA Finals: Spurs Favorit, 76ers Naik Setelah Dapat Brown
Jumat / 03-07-2026, 03:15 WIB
PLN Retrofit PLTU untuk Gunakan Batubara Kalori Rendah
Jumat / 03-07-2026, 03:14 WIB
Mantan Atlet Olimpiade Didakwa Rusak Kolam Refleksi Lincoln Memorial
Jumat / 03-07-2026, 03:14 WIB
Mantan Atlet Olimpiade David Hearn Bantah Dakwaan Kasus Reflecting Pool
Jumat / 03-07-2026, 03:14 WIB
George Kittle dan Istri Terlihat di New York Jelang Pernikahan Taylor Swift
Jumat / 03-07-2026, 03:14 WIB






