Waspada! 250 Aplikasi Android Ini Terdeteksi Kuras Saldo Rekening
Ancaman keamanan siber kembali menghantui pengguna Android. Laporan terbaru mengungkapkan ratusan aplikasi ilegal menyamar sebagai platform populer untuk menipu korban.
Zimperium, perusahaan keamanan siber, mengidentifikasi hampir 250 aplikasi jahat. Aplikasi ini secara sembunyi-sembunyi menyedot uang pengguna.
>>> Sinopsis Dragon Forever Film Jackie Chan Bioskop Trans TV Hari ini 1 Juni 2026
Modus penipuan ini telah memakan banyak korban di sedikitnya empat negara berbeda.
Modus Penyamaran dan Teknik Serangan
Pelaku kejahatan menggunakan taktik penyamaran dengan meniru aplikasi serta game populer. Beberapa di antaranya mencatut nama TikTok, Facebook Messenger, Threads, Minecraft, dan Grand Theft Auto.
Setelah terpasang, aplikasi akan mendaftarkan pengguna ke layanan berlangganan premium secara otomatis. Akibatnya, tagihan telepon korban membengkak tanpa sepengetahuan mereka.
Berikut teknik canggih yang digunakan malware:
- Injeksi JavaScript: Memanipulasi halaman web dan menjalankan perintah otomatis di latar belakang.
- Pencegatan OTP: Membaca dan mengambil kode One-Time Password (OTP) dari SMS.
- Otomasi WebView: Mendaftarkan langganan pada portal billing operator secara rahasia.
- Eksfiltrasi Data: Mencuri data pribadi dari perangkat korban.
Teknik-teknik tersebut membuat aplikasi jahat sulit dideteksi. Penipuan ini bahkan menyesuaikan serangan berdasarkan kartu SIM dan operator seluler tertentu.
>>> Sinopsis 1911 Revolution Film Jackie Chan Bioskop Trans TV Hari ini 1 Juni 2026
Target Operasi dan Wilayah Terdampak
Berdasarkan data Zimperium, sebagian besar serangan menyasar pengguna di Malaysia, Thailand, Rumania, dan Kroasia. Malware membaca informasi kartu SIM untuk memastikan operator yang ditargetkan.
Jika pengguna bukan dari operator target, aplikasi menampilkan halaman web normal untuk menghindari kecurigaan. Namun, bagi yang menjadi target, malware segera melancarkan rekayasa sosial untuk mencuri akses akun.
Kampanye ini dimulai pada Maret 2025 dan masih berlangsung hingga Januari 2026. Hampir 250 aplikasi berbahaya telah diidentifikasi, menarget pengguna Android dengan operator seluler tertentu.
Tanggapan Google dan Langkah Pencegahan
Google menyatakan bahwa ratusan aplikasi berbahaya tersebut tidak ditemukan di Google Play Store. Sistem keamanan bawaan mereka sudah bekerja untuk memitigasi risiko.
Juru bicara Google menjelaskan bahwa pengguna Android otomatis mendapat perlindungan dari Google Play Protect. Fitur ini biasanya aktif secara default pada perangkat dengan layanan Google Play Services.
>>> Catat, Ini 10 Kriteria Cacat Hewan yang Bikin Kurban Idul Adha 2026 Tidak Sah
Pengguna tetap diimbau untuk tidak mengunduh aplikasi dari sumber pihak ketiga yang tidak terpercaya. Mengunduh file APK dari situs sembarangan menjadi pintu masuk utama bagi malware ini.
Update Terbaru
Biodata Sarah Alana Gibson, Selebgram yang Buka Dugaan Perselingkuhan Suami
Jumat / 03-07-2026, 19:11 WIB
Nasya Kaila Nafizah Viral Dikecam usai Konten Hewan Berbulu Warna-warni Tuai Sorotan
Jumat / 03-07-2026, 19:06 WIB
Peretas Bisa 'Hipnotis' Browser AI untuk Menyerang Pengguna
Jumat / 03-07-2026, 19:01 WIB
G-Dragon Resmi Jadi Duta Kehormatan Komite Warisan Dunia UNESCO
Jumat / 03-07-2026, 19:01 WIB
Kode 100 Days at Sea Juli 2026: Cara Dapatkan Pearls Gratis
Jumat / 03-07-2026, 19:01 WIB
Kode Haze Seas Juli 2026: Dapatkan Cash, Gems, dan Hadiah Lainnya
Jumat / 03-07-2026, 19:00 WIB
Serangan Rudal Rusia Tewaskan 30 Orang di Kyiv
Jumat / 03-07-2026, 19:00 WIB
Brad Dalke Cetak 69 di BMW International Open, Kembali ke Turnamen Ranking Dunia
Jumat / 03-07-2026, 19:00 WIB
Pinjaman KTA Online Bunga Rendah 2026: Daftar Terbaik dan Cara Ajukan
Jumat / 03-07-2026, 19:00 WIB
AMD: AI PC Kini Jadi Standar Baru Komputasi Personal
Jumat / 03-07-2026, 18:56 WIB
Fitur Tersembunyi Amazon Echo yang Membuat Saya Berhenti Berteriak pada Asisten Rumah
Jumat / 03-07-2026, 18:56 WIB
Federasi Iran Minta AS Dilarang Jadi Tuan Rumah Piala Dunia Lagi
Jumat / 03-07-2026, 18:56 WIB






