Sampah Antariksa Lintasi Langit Lampung, Pakar Ungkap Penyebabnya Jatuh ke Bumi

Sampah Antariksa Lintasi Langit Lampung, Pakar Ungkap Penyebabnya Jatuh ke Bumi

Sampah antariksa-Instagram-

Efek Atmosfer Menyebabkan Orbit Turun

Fenomena jatuhnya benda buatan manusia dari orbit sebenarnya bukan kejadian langka.

Peneliti Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaludin, menjelaskan bahwa satelit atau sisa roket yang berada di orbit rendah perlahan kehilangan ketinggian.



Objek yang mengorbit pada ketinggian di bawah 1.000 kilometer terus mengalami hambatan dari lapisan atmosfer Bumi.

"Dengan efek pengereman maka orbitnya makin lama makin rendah, dan akhirnya jatuh. Jadi mengapa sampah antariksa jatuh? Ya itu karena ada efek pengereman dari atmosfer, sehingga orbitnya makin rendah dan akhirnya jatuh," jelas Thomas.

Sampah antariksa sendiri merupakan istilah untuk berbagai benda buatan manusia di luar angkasa yang sudah tidak berfungsi, seperti bekas roket, satelit mati, maupun fragmen dari tabrakan objek di orbit.


Pengamatan lembaga antariksa dunia memperkirakan lebih dari 20.000 benda berukuran di atas 10 sentimeter saat ini mengorbit Bumi sebagai sampah antariksa.

Fragmen Kecil Tetap Berbahaya

Meskipun terlihat seperti percikan kembang api saat terbakar di atmosfer, sampah antariksa sebenarnya menyimpan risiko besar bagi aktivitas ruang angkasa.

Objek di orbit Bumi dapat melaju dengan kecepatan sekitar 25.200 kilometer per jam.

Astronom Universitas Arizona, Vishnu Reddy, menjelaskan bahwa energi tumbukan di luar angkasa sangat dipengaruhi oleh kecepatan benda tersebut.

Profesor MIT, Kerri Cahoy, menambahkan bahwa ukuran kecil tidak selalu berarti aman.

"Peluru yang kecil bisa menyebabkan banyak kerusakan karena bergerak dengan kecepatan cukup tinggi," kata Cahoy.

Fragmen seukuran butiran cat atau kacang polong sekalipun dapat menimbulkan kerusakan serius pada wahana antariksa, bahkan meninggalkan penyok besar pada Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).

Dalam hukum internasional, negara yang meluncurkan satelit atau roket tetap bertanggung jawab jika sisa perangkatnya jatuh dan menimbulkan kerugian di wilayah negara lain. Proses penyelesaiannya umumnya dilakukan melalui jalur diplomatik antarnegara.


Berita Lainnya