Dua Kapal Kontainer Cosco Mundur di Selat Hormuz Saat Ketegangan Iran Menutup Jalur Energi Dunia
ilustrasi selat hormuz--
Dua kapal kontainer raksasa yang berafiliasi dengan perusahaan pelayaran milik negara China, Cosco Shipping Corp., sempat mencoba keluar dari Teluk Persia melalui Selat Hormuz pada Jumat (27/3/2026). Namun upaya tersebut tidak berlanjut setelah keduanya berbalik arah di perairan dekat Iran.
Berdasarkan data pelacakan kapal, CSCL Indian Ocean dan CSCL Arctic Ocean awalnya bergerak dari perairan lepas Dubai menuju arah timur laut. Kedua kapal kemudian mengubah sinyal identitasnya menjadi milik serta diawaki pihak China.
Perjalanan mereka terhenti di sekitar pulau Larak dan Qeshm, dua wilayah Iran yang berada di dekat bagian sempit Selat Hormuz. Setelah mencapai area tersebut, kedua kapal memutuskan berbalik arah dan kembali menuju Teluk.
Taktik Sinyal China untuk Jalur Aman
Perubahan sinyal identitas menjadi kapal milik China bukan langkah baru di kawasan tersebut. Strategi itu sebelumnya pernah digunakan sejumlah kapal pengangkut curah maupun tanker bahan bakar dengan harapan memperoleh jalur pelayaran yang lebih aman.
Sejumlah kapal yang menggunakan taktik serupa dilaporkan berhasil meninggalkan Teluk Persia. Namun bagi armada Cosco Shipping, percobaan kali ini menjadi yang pertama untuk melintasi Selat Hormuz sejak konflik di kawasan meningkat.
Selat Hormuz Tertekan Konflik
Ketegangan militer yang melibatkan Iran membuat jalur strategis itu praktis tidak berfungsi normal. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia yang menghubungkan produksi minyak dan gas Teluk dengan pasar global.
Gangguan terhadap lalu lintas kapal telah mempersempit pasokan minyak mentah, gas alam, serta produk energi lainnya dari kawasan tersebut. Kondisi ini turut mendorong lonjakan harga energi di pasar internasional.
Aktivitas pelayaran kini menurun tajam. Sejumlah kapal yang berafiliasi dengan Iran masih terlihat melintas, termasuk pengangkut gas minyak cair.
Teheran juga memperketat kontrol terhadap selat melalui kombinasi serangan terhadap kapal serta peringatan terbuka kepada pemilik kapal. Situasi tersebut membuat sebagian operator pelayaran memilih menahan armadanya tetap berada di dalam Teluk.
Di sisi lain, beberapa kapal dilaporkan berhasil keluar melalui rute yang disetujui Iran. Pemerintah Iran juga menyampaikan rencana untuk mulai mengenakan biaya bagi kapal yang melintasi selat tersebut.