close ads x

Khutbah Jumat 27 Maret 2026: Saat Langit dan Bumi Bersedih Melepas Bulan Suci

Khutbah Jumat 27 Maret 2026: Saat Langit dan Bumi Bersedih Melepas Bulan Suci

masjid-pixabay-

Ramadhan memasuki fase penutup. Waktu yang tersisa hanya hitungan hari, sementara kesempatan meraih limpahan pahala kian menyempit.

Dalam tradisi Islam, bulan ini terbagi dalam tiga fase utama: awal penuh rahmat, pertengahan dipenuhi ampunan, dan penghujung menjadi momentum pembebasan dari api neraka.



Hadis riwayat ulama terdahulu menyebutkan, Ramadhan membawa limpahan karunia yang tidak ditemukan pada bulan lainnya. Karena itu, perpisahan dengannya menjadi kehilangan besar bagi umat Islam.

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ وَفَّقَ بِرَحْمَتِهِ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادِهِ، فَعَرَفُوْا أَقْدَارَ مَوَاسِمِ الْخَيْرَاتِ، وَعَمَرُوْهَا بِالْإِكْثَارِ مِنَ الطَّاعَاتِ، وَخَذَلَ مَنْ شَاءَ بِحِكْمَتِهِ، فَعُمِيَتْ مِنْهُمْ القُلُوْبُ وَالْبَصَائِرُ، وَفَرَطُوْا فِي تِلْكَ المَوَاسِمِ، فَبَاءُوْا بِالْخَسَائِرِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ اَلْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ اَلْقَاهَّرُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَقْوَمَ النَّاسِ بِطَاعَةِ رَبِّهِ فِي البَوَاطِنِ وَالظَّوَاهِرِ، فَصَلَّى اللهُ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْراً.

أما بعد: أيها الناس، اتقُوا اللهَ حَقَّ تُقاتِهِ ولا تـَمُوتُنَّ الا وانتُمْ مُسلمُون، واعلموا انهُ قد قطعتُم الأكثرُ من شهرِ الصيامِ ولم يبقَ منهُ إلا اليسيرُ من الليالي والأيام، فمن كانَ منكم قام بحقه فليُتِمَّ ذلكَ وليحمد اللهَ وليسألْهُ القبولَ، ومن كان منكم قد فرط فيه وأساء فليتُب إلى الله فهو أرحم الراحمين.


قال الله تعالى: قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, ketakwaan adalah bekal utama dalam menjalani kehidupan. Dengan itulah seseorang meraih keberuntungan, baik di dunia maupun di akhirat.

Kini, kita berada di detik-detik akhir Ramadhan. Fase yang menjadi puncak dari seluruh rangkaian ibadah selama sebulan penuh.

Antara Kegembiraan dan Kehilangan

Sebagian orang menyambut berakhirnya puasa dengan rasa lega. Aktivitas kembali normal tanpa menahan lapar dan dahaga.

Namun dari sudut pandang keimanan, perasaan itu patut direnungkan. Sebab, berakhirnya Ramadhan berarti berkurangnya kesempatan meraih pahala berlipat.

Momentum yang menghadirkan kemudahan doa, penerimaan sedekah, dan pelipatgandaan amal akan segera berlalu.

Langit dan Bumi Menangis

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa saat Ramadhan berakhir, langit, bumi, dan para malaikat turut bersedih.

إذَا كَانَ اَخِرُ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ بَكَتِ السَّمَوَاتُ وَاْلاَرْضُ وَالْمَلاَئِكَةُ مُصِيْبَةً لِاُمَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Disebutkan bahwa perpisahan dengan Ramadhan merupakan musibah bagi umat, karena di bulan itulah doa mudah dikabulkan, sedekah diterima, amal dilipatgandakan, dan azab ditangguhkan.

Kesedihan tersebut menjadi pengingat bahwa Ramadhan bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan kesempatan langka yang belum tentu kembali ditemui.

Baca juga: Harga Emas Antam di Pegadaian 20 Maret 2026 Turun, Buyback Ikut Melemah

TAG:
Sumber:

Berita Lainnya