Puasa Ikut NU, Lebaran Ikut Muhammadiyah Bolehkah Ini Penjelasan Hukumnya
tanda tanya-geralt/pixabay-
Perbedaan penetapan Hari Raya Idul Fitri kembali terjadi seiring perbedaan awal Ramadhan antara pemerintah atau Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.
Situasi ini memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat mengenai kemungkinan menjalankan puasa mengikuti satu kelompok, namun merayakan lebaran dengan kelompok lainnya.
Perbedaan Metode Penentuan
Perbedaan waktu Idul Fitri berakar pada metode penentuan awal bulan Hijriah yang digunakan masing-masing pihak.
Pemerintah bersama NU menggabungkan metode hisab dan rukyat, yakni perhitungan astronomi yang dikonfirmasi dengan pengamatan hilal.
Sementara itu, Muhammadiyah menggunakan hisab hakiki dengan pendekatan wujudul hilal dalam menetapkan awal bulan.
Pentingnya Konsistensi dalam Ibadah
Dalam penjelasannya, Ustaz Felix menekankan pentingnya konsistensi dalam menentukan awal hingga akhir ibadah puasa.
Menurutnya, keyakinan terhadap metode yang digunakan harus dijalankan secara utuh, baik dalam memulai puasa maupun mengakhiri dengan Idul Fitri.
Penjelasan Hukum dari Perspektif Fikih
Pakar fikih Ahmad Zahro memberikan pandangan bahwa secara hukum, menggabungkan dua ketetapan masih dimungkinkan dengan syarat tertentu.
Ia menegaskan bahwa durasi puasa menjadi aspek utama yang harus diperhatikan agar tetap sah.
Batas Minimal dan Maksimal Puasa
- Minimal puasa adalah 29 hari
- Maksimal puasa adalah 30 hari
Jika durasi puasa berada di luar batas tersebut, maka ibadah dianggap tidak sesuai ketentuan dan wajib diganti.