close ads x

Khutbah Jumat 6 Maret 2026 Menguatkan Iman Melalui Rasa Malu

Khutbah Jumat 6 Maret 2026 Menguatkan Iman Melalui Rasa Malu

masjid-pixabay-

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Di antara tanda melemahnya iman adalah hilangnya rasa malu saat seseorang berbuat salah. Dosa dianggap biasa, pelanggaran dipertontonkan, dan nurani seakan tak lagi bersuara.



Padahal dalam ajaran Islam, rasa malu bukan kelemahan. Ia justru benteng kokoh yang menjaga kehormatan diri dan memperkuat ketakwaan kepada Allah SWT.

Khutbah Jumat hari ini, 27 Februari 2026, mengajak kita merenungkan kembali kedudukan rasa malu sebagai bagian yang tak terpisahkan dari iman. Terlebih menjelang atau memasuki momentum Ramadhan, memperbaiki akhlak menjadi kebutuhan yang mendesak.

Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلٰهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه. اَللّٰهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمّدٍ وَعَلَى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.


فَيَا عِبَادَاللهُ اُوصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَاالله. اِتَّقُواللهَ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْن. أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Para ulama terdahulu menjaga keimanan mereka dengan satu sifat yang sangat kuat, yaitu malu. Sifat ini bukan sekadar perasaan, melainkan kesadaran spiritual yang membimbing perilaku.

Imam Al-Mawardi dalam kitab Adab Ad-Dunya wa Ad-Din menjelaskan bahwa rasa malu terbagi menjadi tiga bentuk yang saling melengkapi.

Malu kepada Allah

Malu yang paling utama adalah malu kepada Allah SWT. Bentuknya bukan hanya pengakuan lisan, melainkan ketaatan nyata dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Dari Abdullah bin Mas’ud RA, Rasulullah SAW bersabda:

“Malulah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu.”

Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh kami sudah malu kepada Allah, alhamdulillah.”

Beliau bersabda:

“Bukan itu yang dimaksud. Akan tetapi, malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu adalah engkau menjaga kepala dan apa yang dikandungnya, menjaga perut dan apa yang di dalamnya, mengingat kematian dan kebinasaan. Barangsiapa menginginkan akhirat, ia meninggalkan perhiasan dunia. Barangsiapa melakukan hal itu, maka ia telah malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu.” (HR Tirmidzi).

Hadis ini menegaskan bahwa rasa malu tercermin dalam cara kita menjaga pikiran, pandangan, ucapan, makanan, serta kehormatan diri. Kesadaran akan kematian menjadi pengingat agar tidak terjerumus dalam kelalaian.

Malu kepada Sesama Manusia

Bentuk kedua adalah malu kepada manusia. Rasa ini mendorong seseorang untuk tidak menyakiti orang lain dan tidak terang-terangan melakukan kemaksiatan.

Rasulullah SAW bersabda:

“Setiap umatku dimaafkan kecuali orang-orang yang menampakkan keburukannya. Di antara menampakkan keburukan adalah seseorang melakukan dosa di malam hari dan Allah telah menutupinya, lalu pada pagi hari ia berkata: ‘Wahai Fulan, tadi malam aku melakukan ini dan itu.’ Padahal semalam Allah telah menutupinya, tetapi pagi hari ia membuka tutup Allah darinya.” (Muttafaq ‘alaih).

Hadis ini menjadi peringatan keras agar kita tidak bangga dengan dosa, apalagi menyebarkannya. Rasa malu kepada sesama adalah pagar sosial yang menjaga masyarakat dari kerusakan moral.

Malu kepada Diri Sendiri

Jenis ketiga adalah malu kepada diri sendiri. Seseorang menjaga kehormatan dan integritasnya, baik saat dilihat orang lain maupun ketika sendirian.

Sering kali manusia berusaha tampak saleh di hadapan publik, tetapi berbeda ketika tidak ada yang menyaksikan. Padahal nilai sejati seorang mukmin terlihat saat ia tetap taat meski tak ada manusia yang melihatnya.

Para ulama menyatakan, siapa yang melakukan perbuatan yang ia malu jika dilakukan terang-terangan, maka ia telah kehilangan harga dirinya.

Semoga tiga bentuk rasa malu ini tumbuh dalam diri kita sehingga iman semakin kokoh dan hidup kita dipenuhi ketaatan kepada Allah SWT.

بَارَكَ الله ُلِى وَلَكُمْ فِي اْلقُرْاَنِ اْلعَظِيمِ وَنَفَعَنِى وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلاَيَاتِ وَالذِّكْرِاْلحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ اِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ اْلعَلِيْمِ

Baca juga: Wafatnya Alex Noerdin Bikin Video Lama 8 Menit 37 Detik Kembali Disorot

TAG:
Sumber:

Berita Lainnya