Khutbah Jumat 27 Februari 2026 Singkat Tekankan Kejahatan Kuat karena Kebaikan Bungkam
masjid-pixabay-
Jamaah Jumat rahimakumullah, segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat iman dan kesempatan untuk terus memperbaiki diri. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, serta umatnya hingga akhir zaman.
Allah SWT memerintahkan manusia untuk bertakwa sesuai kemampuan. Orang-orang bertakwa adalah mereka yang beruntung karena mampu menjaga diri dari keburukan dan memperbanyak amal saleh.
Dalam Surah Al-Ahqaf ayat 15, Allah menggambarkan doa seorang hamba ketika mencapai usia matang, 40 tahun. Salah satu permohonannya adalah agar diberi kemampuan mengerjakan amal saleh yang diridai-Nya.
Permohonan ini menunjukkan bahwa tidak semua amal dipandang bernilai di sisi Allah. Amal yang diterima adalah yang benar dan diridhai-Nya, termasuk dalam urusan sosial kemasyarakatan.
Kebaikan Tidak Boleh Diam
Realitas di tengah masyarakat memperlihatkan maraknya berbagai bentuk kejahatan, mulai dari korupsi hingga penyalahgunaan kekuasaan. Kondisi ini kerap dianggap sebagai tanda kuatnya kebatilan.
Padahal, Al-Qur’an menegaskan bahwa kebatilan pada hakikatnya lemah dan pasti lenyap ketika kebenaran ditegakkan.
Allah berfirman:
“Dan katakanlah: Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu pasti lenyap.”
Ayat ini menegaskan bahwa kejahatan bukan menjadi kuat karena kehebatannya, melainkan karena kebenaran tidak diperjuangkan. Ketika orang-orang baik memilih diam, ruang kosong itu diisi oleh kebatilan.
Keberanian Moral sebagai Bentuk Hidayah
Memberantas keburukan membutuhkan keteguhan mental dan keberanian moral. Hidayah bukan hanya berupa pengetahuan, tetapi juga kekuatan untuk bersikap tegas terhadap kemungkaran.
Contoh penegakan hukum yang tegas di sejumlah negara menunjukkan bahwa keseriusan dalam memberantas korupsi dapat mengubah keadaan secara drastis. Ketegasan itu lahir dari komitmen dan keberanian mengambil risiko.
Dalam konteks keagamaan, para ulama memiliki tanggung jawab moral untuk menyuarakan kebenaran. Ilmu harus melahirkan rasa takut kepada Allah, sebagaimana firman-Nya bahwa yang paling takut kepada Allah di antara hamba-Nya adalah para ulama.
Keberanian menyampaikan kebenaran harus disertai integritas. Ulama dan tokoh agama dituntut menjaga diri dari perkara syubhat serta memastikan setiap langkahnya bersih dari kepentingan duniawi.