Rabu Abu Tandai Awal Masa Prapaskah dan Seruan Pertobatan Umat Katolik

Rabu Abu Tandai Awal Masa Prapaskah dan Seruan Pertobatan Umat Katolik

rabu abu-pixabay-

Makna Kerendahan Hati

Menurut romo tersebut, abu juga mengandung pesan tentang asal-usul manusia.

“Dalam tradisi Gereja dan masyarakat zaman dulu, abu adalah tanda kehinaan dan asal-usul manusia. Kita berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu,” tuturnya.



Kesadaran akan keterbatasan dan kerapuhan itu menjadi pintu masuk pertobatan. Tanda abu mengajak setiap orang untuk rendah hati di hadapan Tuhan.

“Tanda abu menjadi pengingat akan ketidaklayakan, kehinaan, sekaligus kesederhanaan kita sebagai manusia. Dari sanalah kita belajar rendah hati di hadapan Tuhan,” ujarnya.

Tiga Pilar Prapaskah

Masa Prapaskah berlangsung selama 40 hari hingga Kamis Putih sebelum Misa Perjamuan Tuhan. Dalam rentang waktu tersebut, Gereja mengajak umat menghidupi tiga pilar utama:

  • Doa sebagai penguatan relasi dengan Tuhan.
  • Puasa sebagai latihan pengendalian diri.
  • Derma sebagai wujud kepedulian kepada sesama.

Puasa pada Rabu Abu dan Jumat Agung diwajibkan bagi umat berusia 18 tahun hingga menjelang 60 tahun, dengan ketentuan satu kali makan kenyang dan dua kali makan ringan secukupnya.

Namun, puasa tidak dimaknai sebatas mengurangi asupan makanan. “Bukan sekadar menahan lapar, tetapi melatih diri untuk menguasai keinginan dan memperdalam kasih kepada Tuhan serta sesama,” jelas sang romo.

Melalui doa, puasa, dan derma, umat diajak menata ulang arah hidup. Di tengah kesibukan dan hiruk-pikuk keseharian, Rabu Abu menjadi undangan untuk berhenti sejenak, memeriksa batin, dan kembali kepada Tuhan dengan hati yang diperbarui.

Perjalanan rohani ini berpuncak pada perayaan Paskah, ketika kebangkitan Kristus dirayakan sebagai kemenangan atas dosa dan maut.

Seruan itu kembali menggema, “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil,” mengantar umat menapaki hari-hari Prapaskah dengan harapan dan kerendahan hati.

TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya