Baal dalam Mitologi Kuno dan Isu yang Dikaitkan dengan Kasus Jeffrey Epstein
Baal-Instagram-
Baal sebagai dewa kesuburan dan badai
Dalam mitologi Kanaan, Baal digambarkan sebagai dewa kesuburan yang menguasai alam dan menentukan keberlangsungan hidup manusia melalui hujan dan hasil bumi.
Ia juga dipahami sebagai dewa badai, yang kekuatannya menentukan datang atau tidaknya hujan. Peran ini membuat Baal sangat penting bagi masyarakat agraris pada masa itu.
Sejumlah peneliti menilai figur Baal yang paling menonjol merupakan hasil peleburan dewa-dewa lokal dengan Hadad, dewa badai dari Mesopotamia, sekitar abad ke-16 hingga ke-17 sebelum Masehi.
Penggalian arkeologis di situs Ugarit, Suriah barat laut, pada 1928 menemukan prasasti yang memberikan gambaran rinci tentang Baal. Salah satunya menggambarkan Baal sebagai prajurit bertopi tanduk, mengangkat senjata, dan memegang tombak yang melambangkan kesuburan.
Dalam beberapa tradisi, Baal juga disebut berdasarkan wilayah pemujaannya, seperti Baal dari Aleppo atau Baal dari Zaphon, yang dikaitkan dengan Gunung Zaphon di perbatasan Suriah dan Turki.
Baal dalam teks Alkitab
Dalam Perjanjian Lama, nama Baal disebut puluhan kali dan umumnya ditempatkan sebagai simbol berhala yang ditentang oleh umat Israel.
Teks-teks tersebut menggambarkan Baal sebagai dewa palsu yang penyembahannya dianggap menyimpang. Dalam sejumlah kisah, umat Israel digambarkan menerima hukuman karena berpaling dan menyembah Baal.
Nama Baal juga muncul dalam konteks perintah penghancuran altar dan simbol-simbol pemujaannya. Salah satu kisah yang sering dirujuk adalah peristiwa Baal-Peor dalam Kitab Bilangan, yang dikaitkan dengan penyembahan berhala dan perilaku amoral.
Klarifikasi soal nama “Baal” dalam berkas Epstein
Dokumen yang memicu perbincangan publik berupa memo transfer bank yang tercantum dalam berkas Epstein. Pada salah satu salinan digital, terlihat kata “Baal” dalam kolom keterangan.
Namun, penelusuran terhadap dokumen tersebut menunjukkan tidak ada indikasi penggunaan nama Baal sebagai rekening atau identitas khusus.
Kata “Baal” diduga kuat muncul akibat kesalahan pemindaian saat dokumen fisik dialihwujudkan ke format digital. Kesalahan serupa terlihat pada bagian lain dokumen, seperti tanda baca yang tidak lazim dan teks yang terpotong.
Bagian yang seharusnya bertuliskan “Bank Name” terbaca keliru menjadi “Baal name” akibat proses pemindaian yang tidak sempurna.
Dalam memo tersebut, satu-satunya nama rekening yang terbaca jelas adalah “One Clearlake Centre, LLC”. Dokumen transfer lain dalam berkas yang sama juga menampilkan penulisan “Bank Name” secara normal.
Dengan demikian, kemunculan kata “Baal” dalam berkas Epstein tidak menunjukkan kaitan simbolis maupun religius, melainkan lebih masuk akal dipahami sebagai kesalahan teknis dalam proses digitalisasi dokumen.