Sarjana Sulit Terserap Kerja, Gen Z Amerika Mulai Tinggalkan Bangku Kuliah
ilustrasi kampus--
Perubahan pasar kerja akibat kecerdasan buatan mulai memengaruhi keputusan pendidikan generasi muda di Amerika Serikat. Fenomena ini terlihat dari menurunnya minat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Data menunjukkan kampus-kampus di Amerika Serikat mengalami penurunan pendaftaran sekitar 15 persen dalam periode 2010 hingga 2022. Kekhawatiran sulitnya memperoleh pekerjaan setelah lulus menjadi salah satu faktor utama.
Lulusan baru perguruan tinggi juga menghadapi tantangan serius di pasar kerja. Tingkat pengangguran fresh graduate tercatat lebih tinggi dibanding kelompok pekerja lain.
Baca juga: Konsumsi Daging Disebut Tingkatkan Peluang Umur Panjang pada Lansia
Baca juga: Komdigi Selidiki Data Pelamar Loker Terbuka di Google Usai Viral di Media Sosial
Baca juga: Viral! Pesulap Merah Diduga Mengaku Menikah Lagi dengan Ratu Rizky Nabila Sejak 2022
Berdasarkan data Federal Reserve Bank of New York, tingkat pengangguran lulusan perguruan tinggi baru mencapai 5,8 persen. Angka ini sekitar 1,7 poin persentase lebih tinggi dibanding rata-rata seluruh sektor pekerjaan.
Jumlah pengangguran fresh graduate bahkan mencapai dua kali lipat dibanding rata-rata seluruh lulusan perguruan tinggi, yang berada di kisaran 2,9 persen.
Salah satu sorotan utama adalah berkurangnya program magang di perusahaan-perusahaan besar. Kondisi ini mempersempit jalur masuk lulusan baru ke dunia kerja.