Rumah Panggung Program KDM di Karangligar Tetap Terendam Banjir Warga Sempat Ajukan Penyesuaian Desain

Rumah Panggung Program KDM di Karangligar Tetap Terendam Banjir Warga Sempat Ajukan Penyesuaian Desain

Rumah panggung-Instagram-

Banjir yang melanda Desa Karangligar, Kecamatan Telukjambe Barat, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, kembali menenggelamkan permukiman warga. Peristiwa ini terjadi pada Senin, 19 Januari 2026, dan memicu perhatian luas setelah dokumentasinya beredar di media sosial.

Genangan air terlihat menutup sebagian besar kawasan Kampung Kampek. Dalam sejumlah rekaman yang beredar, ketinggian air dilaporkan melampaui tiga meter hingga mendekati atap rumah warga.



Rumah panggung yang dibangun melalui program Pemerintah Provinsi Jawa Barat atas inisiatif Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau KDM juga tak luput dari rendaman. Air bahkan masuk ke lantai atas rumah panggung tersebut.

Baca juga: Siapa Anak dan Istri AKP Ibnu Suryatno? Kapolsek Kebonarum Klaten yang Meninggal Dunia, Benarkah Bukan Orang Sembarangan?

Ketinggian Air Melebihi Desain Rumah Panggung

Berdasarkan keterangan warga, ketinggian banjir di wilayah itu mencapai sekitar 3,5 meter. Kondisi tersebut membuat rumah panggung dengan tinggi sekitar 3,2 meter tidak lagi mampu menahan luapan air.


Sebanyak 14 dari total 24 unit rumah panggung dilaporkan terendam air setinggi 20 hingga 50 sentimeter. Sementara rumah warga non-panggung di sekitarnya tertutup air hingga ke atap.

Fasilitas Umum Ikut Terendam

Banjir juga berdampak pada fasilitas pendidikan. SMP Negeri 1 Telukjambe Barat yang berada di Desa Karangligar ikut terendam dengan genangan air menutup ruang kelas, masjid sekolah, dan kantor guru.

Dari dokumentasi yang beredar, hanya bagian atap bangunan sekolah yang terlihat di tengah luasnya genangan air.

  • Ruang kelas terendam sepenuhnya
  • Masjid sekolah ikut tergenang
  • Kantor guru tidak dapat digunakan

Kondisi tersebut menyebabkan aktivitas belajar mengajar terhenti sementara.

Banjir Berlangsung Lebih dari Satu Bulan

Seorang warga Kampung Kampek bernama Guil menjelaskan bahwa banjir di wilayah tersebut telah berlangsung selama 46 hari. Menurutnya, air mulai menggenangi permukiman sejak 7 Desember 2025 dan tidak pernah benar-benar surut.

Tiga hari terakhir disebut sebagai periode terparah, dengan ketinggian air menyentuh atap rumah. Warga pun terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka dan mengungsi ke rumah kerabat maupun tenda darurat.

Guil menuturkan bahwa sebelum pembangunan rumah panggung dilakukan, warga sempat mengusulkan agar tinggi bangunan ditambah. Namun, usulan tersebut tidak diakomodasi karena desain proyek telah ditetapkan.

“Rumah panggung yang diharapkan bisa menjadi solusi justru ikut terendam dan tak bisa ditempati. Saya sendiri akhirnya harus mengontrak,” ujarnya.

BPBD Fokus Evakuasi Warga

Kepala Pelaksana BPBD Karawang, Usep Supriatna, membenarkan bahwa sebagian rumah panggung terendam banjir. Ia menyampaikan bahwa kondisi wilayah yang sulit dijangkau membuat pihaknya memprioritaskan keselamatan warga.

BPBD bersama instansi terkait terus melakukan evakuasi serta pendistribusian bantuan logistik ke lokasi pengungsian.

Warga Harapkan Normalisasi Sungai

Sementara itu, Kokom, pemilik salah satu rumah panggung di Dusun Kampek, menyebut air banjir naik dengan sangat cepat pada hari kejadian. Warga sebenarnya telah bersiaga sejak siang, namun debit air meningkat drastis menjelang sore.

Ia berharap pemerintah segera melakukan normalisasi sungai, khususnya di kawasan Kedungurang yang menjadi pertemuan Sungai Citarum dan Sungai Cibeet.

Menurutnya, penanganan sungai menjadi langkah penting agar banjir tidak terus berulang di wilayah Karangligar.

“Terima kasih atas bantuan rumah panggung, tetapi yang paling kami harapkan sekarang adalah normalisasi sungai agar banjir tidak terus berulang,” kata Kokom.

TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya