Apakah Sholat Subuh Itu Wajib? Cara Berpikir yang Tidak Selalu Hitam Putih

Apakah Sholat Subuh Itu Wajib? Cara Berpikir yang Tidak Selalu Hitam Putih

masjid-pixabay-

Ketika dunia hanya dipahami lewat dua kotak, membelah masyarakat menjadi dua kelompok menjadi sangat mudah. Fenomena ini terlihat jelas dalam berbagai isu sosial dan politik.

Polarisasi tentu tidak muncul dari satu sebab. Rendahnya literasi, ketimpangan ekonomi, politik identitas, hingga algoritma media sosial ikut memperkuatnya.



Kondisi tersebut kemudian mendorong orang untuk mencari dan mempertahankan identitas kelompok. Ironisnya, kebutuhan ini justru memperkokoh pola pikir biner.

Dalam situasi yang terpolarisasi, bersikap netral sering disalahpahami. Pihak satu menganggap netral sebagai lawan, sementara pihak lain memandangnya sebagai pengkhianatan.

Padahal, netralitas yang dimaksud bukan soal berdiri di tengah, melainkan menjaga kemerdekaan berpikir.


Kemerdekaan berpikir memungkinkan seseorang sejalan dengan satu kelompok pada satu isu, lalu berbeda pandangan pada isu lain. Itu bukan inkonsistensi, melainkan hasil penilaian terhadap gagasan.

Menariknya, pola pikir biner tidak hanya tumbuh di lingkungan awam. Bahkan dalam komunitas yang akrab dengan diskusi kritis, kecenderungan ini masih kerap dijumpai.

Biasanya muncul dalam bentuk sikap gemar membantah semata-mata untuk terlihat berbeda. Ini bukan berpikir kritis, melainkan contrarian.

Cara berpikir contrarian lahir dari dorongan untuk selalu berseberangan, bukan dari proses pengujian data, logika, dan konteks.

Akibatnya, argumen yang disampaikan sering dangkal dan tidak kokoh.

Padahal, kehidupan dipenuhi oleh variabel yang nyaris tak terbatas. Akan sangat disayangkan jika kemampuan berpikir hanya dipakai untuk memilih antara dua pilihan sempit.

Dari sinilah kemudian muncul pertanyaan reflektif yang terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menuntut cara pandang yang lebih jernih: apakah sholat Subuh itu wajib?

TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya