Apakah Sholat Subuh Itu Wajib? Cara Berpikir yang Tidak Selalu Hitam Putih
masjid-pixabay-
Sejak anak saya duduk di bangku sekolah menengah pertama, saya kerap mengajaknya berdiskusi dengan pertanyaan yang tampak sederhana, tetapi sebenarnya menyimpan banyak lapisan makna.
Salah satu pertanyaan yang sering saya lontarkan adalah soal halal dan haram. Menariknya, ia tidak lagi menjawab secara spontan, melainkan memilih diam sejenak untuk memahami arah dan maksud pertanyaan.
Responsnya biasanya mengerucut pada dua kemungkinan. Ia menjelaskan jawabannya dengan mempertimbangkan konteks, atau justru balik bertanya tentang kondisi yang dimaksud.
Sikap ini bukan upaya untuk mengaburkan batas benar dan salah. Saya ingin ia terbiasa memahami bahwa sebuah pertanyaan bisa lahir dari niat, sudut pandang, dan situasi yang berbeda.
Sejak usia sekolah dasar, saya sengaja membiasakannya dengan dialog semacam ini. Dunia, menurut saya, jarang bekerja dalam garis tegas hitam dan putih.
Dalam banyak hal, terdapat prinsip umum yang harus dipegang, tetapi ada pula kondisi tertentu yang menuntut kehati-hatian dalam mengambil sikap.
Sayangnya, cara berpikir biner masih dominan di ruang publik. Jika bukan satu pilihan, maka dianggap berada di kubu yang berseberangan.
Pola ini juga memengaruhi cara orang berargumen. Hubungan sebab akibat kerap disederhanakan, seolah satu tindakan pasti menghasilkan satu konsekuensi tanpa mempertimbangkan variabel lain.
Saya berharap anak saya tidak terjebak dalam kerangka pikir semacam ini. Sebab, penyederhanaan berlebihan sering menjadi pintu masuk lahirnya polarisasi.
Baca juga: Roger Allers Sakit Apa? Benarkah Kanker? Berikut Kronologi Kematian Sutradara The Lion King