Waspada! Ini 5 Tanda Child Grooming yang Sering Dianggap Biasa, Menurut Psikolog Anak
bully-Anemone123/pixabay-
Waspada! Ini 5 Tanda Child Grooming yang Sering Dianggap Biasa, Menurut Psikolog Anak
Pernahkah Anda melihat seseorang dewasa yang terlihat sangat baik kepada anak Anda—selalu memberi perhatian ekstra, hadiah tak terduga, atau bahkan menawarkan bantuan tanpa diminta—namun ada sesuatu dalam hati kecil Anda yang merasa “aneh”?
Jangan abaikan insting itu.
Menurut para ahli psikologi, rasa waspada seperti ini justru bisa menjadi pertahanan pertama melawan praktik berbahaya yang dikenal sebagai child grooming. Meski terdengar jauh dari kenyataan sehari-hari, praktik ini nyata terjadi—dan sering kali berlangsung secara diam-diam, bahkan di lingkungan yang dianggap aman: sekolah, komunitas agama, klub olahraga, hingga dunia maya.
Apa Itu Child Grooming?
Child grooming adalah proses manipulasi sistematis yang dilakukan oleh pelaku (biasanya orang dewasa) untuk membangun kedekatan emosional dengan anak, serta—dalam banyak kasus—juga keluarganya. Tujuannya? Menciptakan relasi kuasa yang memungkinkan pelaku melakukan eksploitasi, termasuk kekerasan seksual, tanpa ketahuan.
Psikolog Klinis Anak dan Remaja, Gisella Tani Pratiwi, M.Psi., menjelaskan bahwa grooming bukanlah tindakan impulsif, melainkan strategi yang direncanakan dengan cermat.
“Child grooming itu proses di mana pelaku membangun relasi khusus dengan anak—dan kadang juga dengan keluarga besarnya—untuk mendapatkan kepercayaan dan membentuk relasi kuasa atau otoritas atas anak, sebagai persiapan melakukan tindakan kekerasan (abusive),” ujar Gisella dalam wawancara dengan ANTARA, Kamis (15/1/2026).
Yang paling mengkhawatirkan? Pelaku sering kali bukan orang asing. Bisa jadi tetangga, guru les, pelatih, kerabat jauh, atau bahkan figur publik yang tampak terhormat. Karena itulah, penting bagi orang tua dan pengasuh untuk mengenali tanda-tandanya—meski terlihat sepele.
1. Hadiah dan Perhatian yang “Terlalu Baik” hingga Tak Wajar
Salah satu taktik paling umum dalam child grooming adalah memberikan hadiah, uang, atau perhatian yang jauh melebihi batas normal. Misalnya, seseorang yang baru dikenal tiba-tiba memberikan gadget mahal, mengajak jalan-jalan eksklusif, atau selalu “menyelamatkan” anak saat ada masalah.
Menurut Gisella, yang perlu diwaspadai bukan hanya nilai materinya, tapi ketidaksimetrisan hubungan tersebut. Jika anak mulai memiliki kedekatan intens dengan seseorang yang jauh lebih tua—apalagi jika hubungan itu bersifat rahasia atau tidak transparan—itu bisa menjadi lampu kuning.
“Ketika ada orang dewasa yang terlalu ‘baik’ tanpa alasan jelas, dan anak mulai menyembunyikan interaksi tersebut, itu harus dicermati,” tambahnya.
2. Adanya “Rahasia Kecil” yang Hanya Diketahui Berdua
Pelaku grooming sangat ahli dalam menciptakan ikatan emosional eksklusif. Salah satu caranya adalah dengan mengajak anak membuat “rahasia bersama”—misalnya, “Jangan bilang Ibu ya, ini cuma antara kita berdua.”
Awalnya, rahasia itu mungkin terdengar tidak berbahaya: foto selfie, obrolan lucu, atau janji kecil. Namun, tujuan utamanya adalah mengisolasi anak secara emosional dari keluarga. Pelaku ingin anak percaya bahwa hanya dialah yang benar-benar “mengerti” dan “menerima” mereka.
Dalam jangka panjang, ini menciptakan jurang kepercayaan antara anak dan orang tua—yang justru mempermudah pelaku untuk melanjutkan eksploitasinya.
3. Perubahan Emosi dan Perilaku yang Mendadak
Anak yang sedang menjadi target grooming sering kali mengalami gejolak emosional yang tidak biasa. Mereka bisa berubah dari ceria menjadi murung, mudah marah, menarik diri dari teman-teman, atau justru menjadi terlalu patuh pada seseorang tertentu.
Penurunan prestasi akademik, gangguan tidur, atau enggan berbicara tentang aktivitas harian juga bisa menjadi indikator adanya tekanan psikologis.
“Anak sering merasa bingung. Di satu sisi, mereka merasa ‘diperhatikan’, tapi di sisi lain, ada rasa tidak nyaman yang tidak bisa mereka ungkapkan,” jelas Gisella.
Orang tua disarankan untuk tidak langsung menyalahkan atau menginterogasi, melainkan menciptakan ruang aman agar anak merasa nyaman bercerita.
4. Penggunaan Bahasa atau Perilaku Seksual yang Tidak Sesuai Usia
Salah satu tanda paling kritis—namun sering diabaikan karena rasa malu atau syok—adalah ketika anak tiba-tiba menggunakan istilah seksual yang tidak lazim bagi usianya, atau menunjukkan perilaku intim yang tidak wajar.
Ini bisa muncul dalam bentuk gambar yang digambar, komentar spontan, atau bahkan mimik tubuh yang meniru konten dewasa.
“Jika anak menunjukkan perilaku atau menggunakan kalimat bernuansa seksual di luar pengetahuan yang biasanya dia miliki, itu perlu ditindaklanjuti,” tegas Gisella.
Apalagi jika disertai dengan sikap protektif terhadap ponsel atau komputer, serta penolakan untuk menjelaskan aktivitas setelah pulang sekolah.
5. Aktivitas Online yang Sangat Rahasia dan Tidak Transparan
Di era digital, grooming tidak lagi terbatas pada interaksi tatap muka. Banyak pelaku kini memanfaatkan game online, media sosial, atau platform chatting untuk mendekati anak-anak dengan identitas palsu.
Mereka membangun kedekatan lewat obrolan intens di malam hari, memberikan pujian berlebihan, atau bahkan mengirim konten yang “seolah-olah” edukatif namun mengandung muatan tidak pantas.
Gisella mengingatkan:
“Jika anak tiba-tiba sangat defensif saat Anda mencoba melihat layar gawainya, atau marah ketika diminta membagikan siapa yang diajak ngobrol online, itu tanda bahaya.”
Lalu, Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua?
Mengenali tanda-tanda grooming hanyalah langkah awal. Yang lebih penting adalah membangun fondasi kepercayaan dan komunikasi terbuka sejak dini.
Berikut rekomendasi dari Psikolog Gisella: