Tutup Gunung Semeru Pakai Semen atau Pindahkan Saja!: Curhat Pilu Ibu di Lereng Semeru yang Hidup dalam Bayang-Bayang Erupsi
Gimah-Instagram-
Tutup Gunung Semeru Pakai Semen atau Pindahkan Saja!: Curhat Pilu Ibu di Lereng Semeru yang Hidup dalam Bayang-Bayang Erupsi
Di balik megahnya Gunung Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa, tersimpan kisah pilu seorang ibu paruh baya yang hidupnya terus-menerus digelayuti ketakutan akan erupsi. Namanya Gimah, warga Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Ia kini menjadi sorotan publik setelah videonya viral di media sosial, meminta hal yang terdengar mustahil: menutup puncak Semeru dengan semen atau bahkan memindahkan gunung itu demi keselamatan dirinya dan keluarganya.
Permintaan tersebut bukanlah candaan. Di balik nada lugu dan spontan, tersirat jeritan hati seorang perempuan yang telah berkali-kali mengalami trauma akibat letusan gunung berapi aktif tersebut—terutama saat erupsi besar terjadi pada 19 November 2025, yang menyebarkan abu vulkanik hingga ke pemukiman warga di sekitar zona merah.
Hidup di Bawah Ancaman Letusan Setiap 4 Tahun Sekali
Dalam video yang diunggah oleh akun Instagram @undercover.id pada Kamis (15/1/2026), Gimah tampak berbicara kepada seorang prajurit TNI dengan suara gemetar namun penuh harap. Ia menyampaikan keinginannya yang terdengar “nyeleneh” namun justru menyentuh nurani banyak orang.
“Coba dipindahkan sama bapak itu gunung (Semeru), kemana gitu, biar saya aman di sini,” ujarnya polos.
Gimah mengungkapkan bahwa selama empat tahun terakhir, wilayahnya selalu dilanda erupsi secara periodik. Baginya, ini bukan sekadar bencana alam biasa—melainkan siklus penderitaan yang terus berulang.
“Masa 4 tahun sekali harus begini?” tanyanya retoris, seolah menuntut keadilan dari alam dan pemerintah.
Permintaannya untuk menutup kawah Semeru dengan semen pun muncul dari rasa putus asa. Ia bahkan sempat bertanya kepada para tetangga sesama ibu rumah tangga: apakah mungkin mereka bersama-sama menutup sumber api di puncak gunung?
“Kalau gunungnya bisa ditutup, coba tanya ibu-ibu yang lain, bisa tidak ya, kita tutup?” katanya.
Namun, di tengah kepolosannya, Gimah juga sadar betapa mustahil permintaan itu. Dengan nada getir, ia berkata:
“Se-Indonesia dibawakan semen untuk menutup lubang api itu pasti tidak dapat menutupi separuhnya.”
Trauma Mendalam: Rumah Tertutup Abu, Motor Penyelamat ‘Tenggelam’
Gimah bukan hanya bicara soal ketakutan masa depan—ia juga membawa luka masa lalu. Saat erupsi November 2025 lalu, rumahnya dihantam abu vulkanik hingga tak tersisa sudut yang bersih.
“Saya lahir dan besar di sini, jadi pahitnya erupsi saya tahu betul,” ungkapnya dengan suara bergetar.
“Rumah saya tertutup abu, semuanya kena.”
Meski demikian, ia bersyukur karena dirinya dan sang suami selamat dari bencana tersebut. Namun, kenangan paling menyedihkan justru datang dari motor kesayangannya—kendaraan yang menjadi penyelamat nyawanya.
“Tapi ini motor saya tenggelam. Kalau tidak ada motor ini, mungkin saya ikut tenggelam, Pak,” katanya sambil menunjuk motor yang terkubur material vulkanik.
Ia menceritakan detik-detik evakuasi darurat bersama suaminya. Saat itu, mereka menggunakan sepeda motor untuk melarikan diri dari awan panas dan lahar dingin. Namun, medan yang rusak parah memaksa mereka meninggalkan kendaraan di tengah jalan.
“Kalau saya waktu itu lari menggunakan kaki, mungkin saya juga tenggelam seperti motor ini,” ucapnya penuh syukur.
“Soalnya saat itu yang lari lebih cepat lavanya daripada saya.”
Antara Harapan dan Realitas: Apa yang Bisa Dilakukan?
Permintaan Gimah untuk “memindahkan Semeru” atau “menutupnya dengan semen” memang terdengar tidak rasional dari sudut pandang ilmiah. Namun, di balik itu, tersembunyi seruan mendesak bagi pemerintah untuk memperkuat mitigasi bencana, relokasi warga dari zona rawan, serta memberikan perlindungan sosial yang lebih baik bagi korban erupsi berulang.