Tutup Gunung Semeru Pakai Semen atau Pindahkan Saja!: Curhat Pilu Ibu di Lereng Semeru yang Hidup dalam Bayang-Bayang Erupsi
Gimah-Instagram-
Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang, Desa Supiturang termasuk dalam kawasan rawan bencana tingkat III—artinya, risiko terpapar awan panas, guguran lava, dan banjir lahar sangat tinggi. Namun, banyak warga masih enggan direlokasi karena keterikatan emosional, mata pencaharian, dan minimnya alternatif hunian yang layak.
Ahli vulkanologi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menjelaskan bahwa menutup kawah gunung berapi dengan semen adalah tindakan yang tidak hanya mustahil, tetapi juga berbahaya. Tekanan magma yang terperangkap bisa menyebabkan ledakan lebih dahsyat.
Namun, respons emosional seperti yang disampaikan Gimah justru menjadi cerminan nyata dari kelelahan psikologis masyarakat di kawasan rawan bencana—mereka butuh solusi konkret, bukan hanya imbauan evakuasi saat bencana tiba.
Viral di Media Sosial, Suara Rakyat Kecil Menyentuh Hati Netizen
Video Gimah langsung menjadi viral di berbagai platform, terutama Instagram dan TikTok. Warganet menyebutnya sebagai “suara rakyat kecil yang jujur dan menyentuh”. Banyak yang mengungkapkan empati, sementara lainnya menyerukan agar pemerintah serius memperhatikan nasib warga di lereng Semeru.
“Dia nggak minta uang, nggak minta hadiah. Cuma minta aman. Tapi kok susah banget?” tulis salah satu komentar populer.
Beberapa relawan dan lembaga kemanusiaan pun mulai menggalang donasi untuk membantu rehabilitasi rumah warga terdampak, termasuk keluarga Gimah.