Matcha Rp400 Ribu per Gelas di Jakarta Viral, Netizen Bandingkan Harga dengan Jepang: Di Sana Malah Lebih Murah!

Matcha Rp400 Ribu per Gelas di Jakarta Viral, Netizen Bandingkan Harga dengan Jepang: Di Sana Malah Lebih Murah!

matcha-pixabay-

Matcha Rp400 Ribu per Gelas di Jakarta Viral, Netizen Bandingkan Harga dengan Jepang: Di Sana Malah Lebih Murah!

Jakarta kembali dihebohkan oleh tren kuliner premium yang memicu perdebatan sengit di jagat maya. Kali ini, sorotan tertuju pada secangkir ceremonial matcha—teh hijau berkualitas tinggi asal Jepang—yang dijual seharga Rp400 ribu per gelas di sebuah kafe di ibu kota. Harga selangit tersebut bukan hanya mencuri perhatian, tapi juga memicu gelombang komentar pedas dari warganet yang membandingkannya langsung dengan harga aslinya di Negeri Sakura.



Ceremonial Matcha Grade Tertinggi, Diklaim Lebih Premium dari Brand Terkenal di Kyoto
Menurut video viral yang diunggah oleh akun X @handavidian pada Senin, 12 Januari 2026, kafe tersebut menggunakan bubuk ceremonial matcha dengan grade tertinggi—bahkan disebut-sebut lebih unggul dibandingkan produk dari salah satu brand ternama di Kyoto, yang selama ini dikenal sebagai rujukan utama pecinta teh Jepang di seluruh dunia.

“Gradenya lebih tinggi dari yang di Ha**** Kyoto punya,” demikian narasi dalam video yang dikutip pada Rabu, 14 Januari 2026.

Klaim tersebut didukung dengan narasi bahwa bubuk teh hijau tersebut diimpor langsung dari Jepang, dan proses panennya dilakukan secara manual—dengan tangan—oleh petani berpengalaman di perkebunan teh premium. Proses selektif ini, menurut pihak kafe, menjadi alasan utama mengapa harga minumannya mencapai angka fantastis.


Dari Sensasi Rasa hingga Simbol Status Sosial
Bagi sebagian kalangan urban Jakarta, secangkir matcha seharga empat ratus ribu rupiah bukan sekadar minuman, melainkan simbol eksklusivitas dan gaya hidup. Mereka yang memesan kerap membagikan pengalaman tersebut di media sosial, lengkap dengan foto estetik dan caption penuh apresiasi terhadap “keaslian budaya Jepang”.

Namun, di balik kemewahan itu, muncul pertanyaan kritis: apakah harga tersebut benar-benar mencerminkan nilai intrinsik produknya?

Netizen Bandingkan Langsung dengan Harga di Jepang: “Di Tokyo Cuma Rp120 Ribu!”
Alih-alih terkesan, banyak netizen justru merasa geram dan heran. Pasalnya, ketika mereka membandingkan harga yang ditawarkan di Jakarta dengan harga asli di Jepang, selisihnya terlampau jauh.

“Enih kan? Pernah beli di cabang Tokyo cuma 120 ribu aja padahal. Nyampe Indo harganya naik berkali-kali lipat,” tulis salah satu pengguna X.

Pengguna lain menambahkan pengalaman serupa saat berkunjung ke Asakusa, Tokyo:

“Sempet coba yang di Asakusa. Paling mahal ¥1300 (tanpa topping) udah dapet grade paling OK.”

Untuk konteks, ¥1300 setara dengan sekitar Rp150–160 ribu (tergantung kurs), jauh di bawah harga Rp400 ribu yang ditawarkan di Jakarta—meski tanpa tambahan topping atau sajian mewah lainnya.

Bahkan ada yang menyindir dengan nada sarkastik:

“Sekapitalis-kapitalisnya Jepang, Ha**** Tokyo gapernah nggetok se cup 2000 yen+.”

Padahal, 2000 yen Jepang setara dengan sekitar Rp240–250 ribu, masih jauh lebih murah daripada harga di Jakarta.

Mengapa Harga Bisa Melambung Tinggi? Ini Penjelasan Ekonominya
Menurut pengamat ekonomi konsumen, lonjakan harga seperti ini biasanya dipengaruhi oleh beberapa faktor: biaya impor, margin keuntungan ritel, branding eksklusif, serta positioning sebagai produk limited edition atau artisanal. Namun, dalam kasus ini, banyak yang mempertanyakan rasio antara harga dan nilai nyata yang diterima konsumen.

“Kalau memang matcha-nya benar-benar grade tertinggi dan prosesnya sangat artisanal, mungkin bisa dimaklumi. Tapi kalau hanya mengandalkan label ‘premium’ tanpa transparansi soal asal-usul dan proses produksinya, itu rentan dianggap sebagai strategi markup harga semata,” ujar seorang pakar pemasaran gaya hidup yang enggan disebut namanya.

Antara Gengsi dan Realitas Pasar Kuliner Indonesia
Fenomena ini juga mencerminkan dinamika pasar kuliner premium di Indonesia, khususnya di kota besar seperti Jakarta. Di tengah persaingan ketat antar kafe, banyak pelaku usaha memilih strategi diferensiasi melalui kelangkaan dan harga tinggi, dengan harapan menarik segmen konsumen high-end.

Namun, respons publik kali ini menunjukkan bahwa konsumen semakin kritis. Mereka tak lagi mudah terpukau oleh label “import” atau “grade tertinggi” tanpa bukti konkret. Apalagi di era digital, informasi tentang harga global begitu mudah diakses—sehingga perbandingan lintas negara menjadi senjata ampuh untuk menilai wajar tidaknya suatu harga.

TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya