TransJakarta Cares Gagal Lindungi Penyandang Disabilitas, Pramono Anung Janji Evaluasi Total dan Tegur Direksi
Tunanetra-Instagram-
TransJakarta Cares Gagal Lindungi Penyandang Disabilitas, Pramono Anung Janji Evaluasi Total dan Tegur Direksi
Insiden memilukan yang menimpa seorang penyandang disabilitas tunanetra di kawasan Halte TransJakarta CSW, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Minggu (11/1/2026) lalu, kini menjadi sorotan publik. Video kejadian tersebut viral di media sosial pada Senin (12/1/2026), memicu gelombang keprihatinan nasional dan menguak celah dalam layanan publik yang seharusnya inklusif.
Dalam rekaman yang beredar luas, terlihat sang korban terjatuh ke dalam got saat hendak menuju halte. Tragisnya, insiden ini terjadi meskipun korban telah menggunakan layanan TransJakarta Cares, program antar-jemput gratis yang dirancang khusus untuk membantu penyandang disabilitas mengakses transportasi umum dengan aman dan nyaman. Namun, petugas yang seharusnya mendampingi hingga titik aman justru tidak melaksanakan tugasnya secara penuh—meninggalkan korban tanpa pengawalan di area rawan bahaya.
Layanan yang Seharusnya Menjadi Harapan
TransJakarta Cares bukan sekadar fasilitas tambahan, melainkan bentuk komitmen PT TransJakarta dalam mewujudkan Jakarta sebagai kota yang ramah disabilitas. Layanan ini menyediakan kendaraan khusus dan pendamping profesional untuk menjemput penyandang disabilitas dari rumah, mengantarkan mereka ke halte TransJakarta yang telah dilengkapi aksesibilitas, lalu memastikan mereka sampai di tujuan akhir dengan selamat.
Namun, kegagalan dalam pelaksanaan standar operasional prosedur (SOP) kali ini justru menunjukkan betapa rapuhnya sistem perlindungan bagi kelompok rentan, meski infrastruktur dan kebijakan sudah tersedia. Banyak netizen pun mempertanyakan: Jika layanan khusus saja gagal, bagaimana nasib difabel yang tak memiliki akses ke TransJakarta Cares?
Respons Cepat dari Gubernur DKI Jakarta
Menanggapi insiden yang mengguncang kepercayaan publik, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung langsung angkat suara. Dalam konferensi pers pada Rabu (14/1/2026), ia menyampaikan permohonan maaf secara langsung kepada korban dan seluruh masyarakat penyandang disabilitas.
“Yang seperti ini tidak boleh terulang kembali. Dan secara khusus untuk ini, saya minta maaf,” ujar Pramono dengan nada tegas namun penuh penyesalan.
Lebih lanjut, Pramono mengumumkan bahwa ia akan memberikan teguran keras kepada jajaran direksi dan manajemen PT TransJakarta. Ia menegaskan bahwa kejadian semacam ini tidak seharusnya terjadi di ibu kota negara yang sedang giat membangun citra sebagai kota inklusif.
“Saya akan memberikan teguran kepada jajaran direksi dan juga manajemen TransJakarta,” tegasnya.
Gubernur juga menekankan komitmen Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk terus memperkuat perlindungan dan pelayanan bagi penyandang disabilitas. “Jakarta harus menjadi tempat yang aman, nyaman, dan setara bagi semua warganya—tanpa terkecuali,” imbuhnya.
Langkah Perbaikan dan Evaluasi Men menyeluruh
Tak hanya sekadar permintaan maaf, PT TransJakarta dikabarkan telah melakukan komunikasi langsung dengan korban. Manajemen tidak hanya menyampaikan penyesalan, tetapi juga memberikan pendampingan psikologis dan medis sesuai kebutuhan korban pasca-kejadian.
Selain itu, perusahaan mengaku telah memulai evaluasi menyeluruh terhadap SOP layanan TransJakarta Cares, terutama pada aspek pendampingan, pelatihan petugas, serta mekanisme pengawasan internal. Rencananya, evaluasi ini akan melibatkan organisasi penyandang disabilitas dan akademisi untuk memastikan rekomendasi yang dihasilkan benar-benar responsif terhadap kebutuhan nyata di lapangan.