Bitcoin Melonjak ke Level Tertinggi Sejak Pertengahan November, Tembus US$96 Ribu: Apa yang Memicu Rally Ini?
bit-pixabay-
Bitcoin Melonjak ke Level Tertinggi Sejak Pertengahan November, Tembus US$96 Ribu: Apa yang Memicu Rally Ini?
Dunia kripto kembali diguncang oleh gejolak positif. Bitcoin (BTC), aset digital paling dominan di pasar global, mencatatkan performa spektakuler pada Rabu pagi (14/1/2026), melonjak hingga 2,4% dan menyentuh level intraday tertingginya sejak 16 November lalu—menembus angka US$96.348. Pergerakan ini tidak hanya menjadi sinyal kuat bagi investor institusional, tetapi juga menandai babak baru dalam dinamika pasar aset berisiko di tengah ketidakpastian geopolitik dan moneter global.
Lonjakan harga Bitcoin kali ini terjadi bersamaan dengan rally luas di aset-aset alternatif, termasuk logam mulia seperti emas dan saham teknologi berkapitalisasi tinggi. Fenomena ini mengakhiri periode stagnasi selama beberapa pekan terakhir, di mana BTC sempat terjebak dalam rentang perdagangan sempit antara US$87.000 hingga US$92.000, nyaris tak terpengaruh oleh euforia pasar saham global.
Short Squeeze dan Sentimen Makro Jadi Katalis Utama
Salah satu pendorong utama rally ini adalah penyempitan posisi short (short squeeze) yang tajam di pasar derivatif kripto. Menurut data dari CoinGlass, dalam kurun waktu 24 jam terakhir, sekitar US$290 juta posisi short Bitcoin telah dilikuidasi, sementara total likuidasi posisi short di seluruh pasar kripto mencapai US$600 juta. Angka ini menunjukkan betapa cepatnya sentimen negatif berubah menjadi optimisme ekstrem.
“Ini bukan sekadar reli teknis—ini adalah respons terhadap perubahan fundamental dalam persepsi risiko,” ujar Vincent Liu, Kepala Investasi di Kronos Research. “Pelaku pasar mulai memandang Bitcoin sebagai pelindung nilai yang lebih andal dibanding dolar AS, terutama dalam konteks ketegangan politik dan moneter yang sedang memanas.”
Inflasi Inti AS Turun, Kepercayaan pada Fed Goyah
Faktor makroekonomi turut memperkuat momentum bullish. Pada Selasa (13/1), data resmi dari Biro Statistik Tenaga Kerja AS menunjukkan bahwa inflasi inti (core inflation) naik lebih rendah dari ekspektasi pasar. Angka ini menjadi isyarat awal bahwa tekanan harga mungkin mulai mereda, membuka ruang bagi Federal Reserve untuk mempertimbangkan pemotongan suku bunga lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.
Namun, kepercayaan terhadap bank sentral AS justru goyah setelah Departemen Kehakiman AS mengeluarkan panggilan sidang juri besar terhadap The Fed pada awal pekan ini. Meski rincian kasus tersebut belum diungkap secara publik, insiden ini memicu kekhawatiran tentang independensi dan transparansi lembaga moneter paling berpengaruh di dunia.
“Situasi ini menyoroti pentingnya aset ‘keras’ dan netral seperti Bitcoin,” kata Justin d’Anethan, Kepala Riset di Arctic Digital. “Dalam jangka menengah, saya percaya kita akan melihat alokasi portofolio yang lebih besar ke Bitcoin, terutama karena narasi ‘gold-catch-up’—di mana investor mulai membandingkan emas digital ini dengan logam mulia tradisional.”
Arus Masuk ETF Tembus Rekor Harian, Sinyal Kuat dari Investor Institusional
Dukungan terkuat datang dari arus modal institusional. Pada Selasa (13/1), investor menyuntikkan US$754 juta ke dalam 12 produk ETF Bitcoin yang terdaftar di bursa AS—jumlah terbesar sejak 7 Oktober 2025. Angka ini menjadi indikator penting bahwa keyakinan terhadap prospek jangka panjang Bitcoin tetap solid, bahkan di tengah volatilitas jangka pendek.
ETF Bitcoin, yang pertama kali disetujui SEC pada awal 2024, kini menjadi pintu gerbang utama bagi manajer aset tradisional untuk masuk ke ekosistem kripto tanpa harus menyimpan aset digital secara langsung. Aliran dana yang terus meningkat menunjukkan bahwa permintaan institusional tidak hanya bertahan, tetapi justru berkembang.
Target Berikutnya: US$100 Ribu dan Beyond
Dengan harga yang kini stabil di atas US$95.000, analis pasar mulai menetapkan target psikologis berikutnya: US$100.000. Bahkan, beberapa memproyeksikan potensi kenaikan lebih jauh.