Kontroversi Rencana Wajibkan Bensin E20: Solusi Energi atau Ancaman Lingkungan?

Kontroversi Rencana Wajibkan Bensin E20: Solusi Energi atau Ancaman Lingkungan?

Bahlil-Instagram-

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi, menegaskan bahwa Pertamax tanpa campuran etanol tetap akan tersedia di pasaran. Namun, versi “hijau”—yang disebut Pertamax Green 95—akan diperluas peredarannya secara bertahap, terutama di wilayah-wilayah tertentu.

“Tentunya masih ada [Pertamax biasa], karena produknya kan Pertamax Green 95 itu yang diperbanyak maksudnya dan dipertimbangkan di lokasi-lokasi tertentu, bukan langsung ke semua pulau di Indonesia ya,” jelas Eniya kepada Bloomberg Technoz, Jumat (9/1/2026).



Baca juga: Tanggapan atas pemberitaan PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk, WOM Finance Jogja Jadi Sorotan Nasabah...

Meski demikian, banyak konsumen khawatir bahwa lambat laun opsi BBM non-etanol akan dikurangi atau bahkan dihapus—sebagaimana terjadi di sejumlah negara yang telah menerapkan mandatori biofuel.

Aspermigas Desak Dialog Terbuka Sebelum Kebijakan Dipaksakan
Menghadapi ketidakjelasan tujuan kebijakan ini, Aspermigas mendesak pemerintah membuka ruang dialog inklusif dengan seluruh pemangku kepentingan—termasuk industri otomotif, petani, konsumen, hingga aktivis lingkungan.


“Sekali lagi saya pertanyakan, ini tujuannya apa sih sebenarnya? Mengurangi impor tidak? Tidak. Swasembada energi? Enggak juga. Masalah lingkungan? Tidak juga. Jadi apa? Nah, ini yang kita mesti pertanyakan ke Pak Menteri,” tegas Moshe.

Tanpa visi yang jelas dan studi dampak menyeluruh, kebijakan E20 berisiko menjadi langkah gegabah yang justru memperburuk masalah daripada menyelesaikannya.

 

TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya