Siapa Sosok Artis Arogan dalam Buku Broken Strings Aurelie Moeremans? Netizen Tuduh Nikita Willy, Citra Ibu Muda Panutan Pun Tergoyahkan
Nikita-Instagram-
Siapa Sosok Artis Arogan dalam Buku Broken Strings Aurelie Moeremans? Netizen Tuduh Nikita Willy, Citra Ibu Muda Panutan Pun Tergoyahkan
Jakarta – Dunia hiburan Tanah Air kembali digemparkan oleh pengakuan mengejutkan yang tertuang dalam buku terbaru Aurelie Moeremans berjudul Broken Strings. Bukan hanya kisah masa lalu yang menyakitkan, buku ini juga memicu spekulasi luas di kalangan netizen mengenai identitas seorang artis papan atas yang disebut bersikap arogan dan merendahkan Aurelie saat syuting sinetron beberapa tahun silam. Nama Nikita Willy, aktris senior sekaligus ibu muda yang dikenal santun, tiba-tiba menjadi sorotan utama.
Buku Broken Strings, yang baru-baru ini viral di media sosial, tidak hanya mengupas luka batin Aurelie terkait trauma masa kecil, tetapi juga mengungkap dinamika kelam di balik layar industri hiburan—termasuk perlakuan tidak menyenangkan dari rekan sesama artis. Salah satu bagian paling menyentuh menggambarkan momen ketika Aurelie, yang masih muda dan penuh rasa hormat, bertemu dengan seorang bintang utama yang justru memperlakukannya seperti “barang tak diundang”.
“Lalu dia masuk, pemeran utama, bintang yang semua orang mengitari. Ia menatap tepat padaku. Aku berdiri, berusaha sopan, tubuhku bergerak lebih cepat daripada otakku. Aku tersenyum kecil, gugup dan hormat. Ia tidak membalas senyum. Tidak menyapa. Ia mengamatiku dari ujung rambut sampai ujung kaki, seperti ada barang yang tiba-tiba dikirim ke rumahnya tanpa ia pesan,” tulis Aurelie dalam buku tersebut.
Penggalan itu langsung memicu gelombang diskusi di jagat maya. Netizen mulai menghubung-hubungkan ciri-ciri sang artis dengan figur publik tertentu, dan nama Nikita Willy pun muncul sebagai kandidat utama. Alasannya? Selain statusnya sebagai “ratu sinetron” di era 2000-an, Nikita memang pernah bekerja sama dengan Aurelie dalam sejumlah proyek televisi—dan kabarnya sempat menolak Aurelie sebagai lawan main karena alasan yang tak pernah diungkap secara resmi.
Netizen Geram, Citra Nikita Willy Sebagai Panutan Mulai Luntur
Reaksi publik tak bisa dibendung. Akun Instagram Nikita Willy dipenuhi komentar pedas dari warganet yang merasa kecewa. Padahal selama ini, Nikita dikenal sebagai sosok ibu muda yang rendah hati, aktif di kegiatan sosial, dan kerap menjadi panutan bagi generasi muda. Namun, tuduhan sebagai “pelaku bullying” di masa lalu membuat citra positifnya goyah.
“Ternyata sejahat itu si NW, peluk Aurelie dong!”
“Kecewa sih kalau bener ceritanya…”
“Minta maaf sana, jangan pura-pura suci terus.”
Komentar-komentar tersebut terus membanjiri unggahan Nikita, bahkan pada postingan yang tidak berkaitan dengan isu ini. Banyak yang menilai bahwa jika kisah Aurelie benar, maka Nikita telah menyalahgunakan posisinya sebagai artis senior untuk merendahkan rekan kerja yang lebih muda.
Jejak Masa Lalu: Nikita Willy dan Reputasi ‘Ratu Sinetron’ yang Kontroversial
Spekulasi ini bukan tanpa dasar. Dalam sebuah episode podcast bersama Jordi Onsu beberapa waktu lalu, Nikita sempat membahas reputasinya di dunia sinetron. Saat itu, Jordi menceritakan bagaimana Nikita memiliki pengaruh besar di lokasi syuting—bahkan bisa menentukan nasib karakter pemain lain.
“Kalau ada pemain yang nggak disukai Nikita, perannya bisa hilang begitu saja. Bisa dimatikan, atau malah jadi korban air keras biar wajahnya rusak,” ungkap Jordi sambil tertawa.
Nikita hanya tersenyum mendengar cerita tersebut, seolah mengakui kebenarannya. Namun, ia kemudian memberikan klarifikasi. Menurutnya, keputusan itu bukan semata-mata karena urusan pribadi, melainkan terkait sikap profesional di lokasi syuting.
“Kadang-kadang ada satu pemain yang attitude-nya jelek. Gue orangnya sangat pro kru banget. Buat gue, kru di lokasi itu keluarga. Jadi kalau ada pemain yang nggak respect sama kru, ya gue bisa bilang, ‘I don’t like this person’,” jelas Nikita.
Meski demikian, penjelasan tersebut belum cukup meredakan amarah publik. Banyak yang menilai bahwa kekuasaan di lokasi syuting seharusnya tidak digunakan untuk membalas dendam atau mempermalukan rekan kerja—apalagi yang masih muda dan sedang belajar.