IHSG Anjlok Tajam 2,29%: Euforia Pagi Berubah Jadi Aksi Jual Massal di Sore Hari
saham-pixabay-
IHSG Anjlok Tajam 2,29%: Euforia Pagi Berubah Jadi Aksi Jual Massal di Sore Hari
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan berat pada perdagangan Senin (12/1/2026), setelah sempat memulai hari dengan optimisme tinggi. Namun, euforia pagi itu berubah drastis menjelang sore, ketika IHSG tiba-tiba anjlok hingga menyentuh level terendah harian di angka 8.715, sebelum sedikit pulih ke posisi 8.732 pada pukul 14.35 WIB—turun 204,4 poin atau 2,29% dibanding penutupan pekan lalu.
Awal yang Cerah, Akhir yang Menegangkan
Perdagangan hari ini sejatinya dimulai dengan sentimen positif. IHSG dibuka menguat 0,62% di level 8.991, memberikan harapan bahwa momentum bullish akan berlanjut. Bahkan, dalam satu jam pertama sesi pagi, indeks sempat menembus psikologis penting di atas 9.000, mencapai 9.003—level tertinggi sepanjang hari ini. Investor tampak percaya diri, didorong oleh ekspektasi pemulihan ekonomi domestik dan stabilitas global pasca libur akhir tahun.
Namun, kegembiraan itu tak bertahan lama. Memasuki sesi siang, arus jual tiba-tiba menggemparkan pasar. Aksi profit-taking besar-besaran, ditambah kekhawatiran atas dinamika makroekonomi global, membuat IHSG terjun bebas. Dalam hitungan jam, indeks kehilangan seluruh kenaikan pagi dan bahkan terperosok lebih dalam, menyentuh titik terendah harian di 8.715—penurunan lebih dari 285 poin dari level tertingginya.
Volume Transaksi Tinggi, Tanda Ketidakpastian Pasar
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat aktivitas perdagangan yang sangat intens sepanjang hari ini. Total 59,49 miliar saham berpindah tangan dengan nilai transaksi mencapai Rp31,9 triliun. Frekuensi transaksi juga melonjak tajam, mencapai 4,2 juta kali—angka yang jauh di atas rata-rata harian dalam sebulan terakhir.
Tingginya volume perdagangan ini menjadi indikator kuat adanya pergeseran sentimen investor. Banyak pelaku pasar tampaknya memilih mengamankan keuntungan setelah rally awal tahun, sementara sebagian lain mulai waspada terhadap potensi risiko eksternal, termasuk gejolak suku bunga global dan ketegangan geopolitik yang belum mereda.
Faktor Penyebab Koreksi Mendadak
Meski tidak ada pengumuman resmi dari otoritas terkait penyebab pasti penurunan, analis pasar menduga beberapa faktor turut memicu aksi jual masif:
Koreksi teknis setelah IHSG mencatat kenaikan signifikan di awal tahun.
Sentimen eksternal, terutama dari Wall Street yang pekan lalu menunjukkan volatilitas akibat data inflasi AS yang masih tinggi.
Spekulasi kebijakan moneter Bank Indonesia, yang diprediksi akan tetap hawkish dalam rapat Dewan Gubernur pekan depan.
Aksi jual asing, yang dalam dua hari terakhir mulai menarik dana dari pasar saham emerging markets, termasuk Indonesia.
“Ini klasik: pasar naik terlalu cepat, lalu investor mulai ambil untung. Tapi kali ini, ada juga elemen kehati-hatian terhadap outlook global,” ujar Rizky Pratama, analis senior dari IndoCapital Research.