Keutamaan Dzikir dalam Perspektif Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad: Jalan Menuju Ketenangan Jiwa dan Kedekatan dengan Sang Pencipta

Keutamaan Dzikir dalam Perspektif Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad: Jalan Menuju Ketenangan Jiwa dan Kedekatan dengan Sang Pencipta

alquran-pixabay-

Keutamaan Dzikir dalam Perspektif Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad: Jalan Menuju Ketenangan Jiwa dan Kedekatan dengan Sang Pencipta

Dalam hiruk-pikuk kehidupan modern yang penuh tekanan, umat Islam senantiasa diajak kembali kepada satu amalan sederhana namun luar biasa dahsyat: dzikir. Di antara sekian banyak ibadah dalam ajaran Islam, dzikir menempati posisi istimewa—bukan hanya sebagai ritual lisan, tetapi sebagai jembatan spiritual yang menghubungkan hamba dengan Rabb-nya. Salah satu tokoh sufi besar Nusantara, Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad, dalam karyanya yang monumental Ar-Risalah Al-Muawanah, memberikan penjelasan mendalam tentang hakikat, adab, dan buah-buah luhur dari amalan ini.



Dzikir: Tiang Spiritual dalam Perjalanan Thariqah
Menurut Al-Habib Abdullah, dzikir bukan sekadar mengucapkan kalimat-kalimat suci secara mekanis. Ia adalah amalan hati yang hidup, yang jika dilakukan dengan adab, kekhusyukan, dan kesadaran penuh, akan melahirkan rasa ketenangan batin, kemanisan ruhani, bahkan kelezatan yang tak tertandingi oleh kenikmatan duniawi mana pun. Dalam pandangannya, dzikir merupakan tiang utama dalam thariqah (jalan spiritual), sekaligus kunci menuju keyakinan yang kokoh dan senjata ampuh bagi para hamba Allah dalam menghadapi ujian hidup.

Lebih jauh lagi, ia menyebut dzikir sebagai pembuka jalan menuju kewalian—kedekatan khusus dengan Allah SWT yang hanya dianugerahkan kepada hamba-hamba pilihan. Sebagaimana dikatakan oleh para ‘arifin billah (orang-orang yang mengenal Allah secara mendalam), dzikir adalah napas jiwa orang yang beriman.

Adab dan Cara Berdzikir yang Dianjurkan
Al-Habib Abdullah menekankan pentingnya menjaga adab dalam berdzikir. Ia menganjurkan agar setiap Muslim menjadikan dzikir sebagai bagian tak terpisahkan dari kesehariannya—baik dalam bentuk wirid harian yang ditentukan jumlah dan waktunya, maupun dzikir spontan yang mengalir dari hati yang selalu ingat kepada-Nya.


Untuk membantu ketepatan hitungan, beliau memperbolehkan penggunaan tasbih atau alat bantu lainnya, asalkan tidak mengalihkan fokus dari makna dzikir itu sendiri. Yang terpenting, lisan dan hati harus bersatu: lisan mengucapkan, sementara hati meresapi makna di balik setiap kalimat—seperti keesaan Allah saat bertahlil (La ilaha illallah) atau kesucian-Nya saat bertasbih (Subhanallah).

Buah-Buah Spiritual dari Dzikir yang Ikhlas
Bagi siapa pun yang menekuni dzikir dengan penuh kekhusyukan dan konsistensi, Al-Habib Abdullah menjanjikan buah-buah spiritual yang luar biasa. Tingkatan pertama—yang disebutnya sebagai “hasil paling rendah”—adalah rasa manis dan lezat dalam berdzikir, sehingga segala kenikmatan dunia terasa hambar dibandingkan kelezatan ruhani ini.

Sementara itu, tingkatan tertinggi dari buah dzikir adalah fana’ fi dzikrillah—tenggelamnya jiwa dalam ingatan kepada Allah, hingga segala sesuatu selain-Nya lenyap dari kesadaran. Inilah puncak kedekatan hamba dengan Tuhannya: ketika diri benar-benar larut dalam nama-Nya, dan hanya Allah yang hadir dalam hati.

Praktik Dzikir Ideal Menurut Ajaran Sufi
Al-Habib Abdullah juga memberikan panduan praktis untuk menciptakan suasana dzikir yang kondusif. Ia menyarankan agar seseorang:

Duduk dalam keadaan suci (berwudhu),
Memilih tempat yang tenang dan sepi,
Menghadap kiblat,
Menundukkan kepala sebagai tanda kerendahan hati,
Dan mengucapkan dzikir dengan hati yang khusyuk dan penuh adab.
Jika seseorang melakukannya secara istiqamah, maka cahaya kedekatan dengan Allah akan memancar dari dirinya, dan rahasia-rahasia gaib—yang hanya diketahui oleh mereka yang dekat dengan-Nya—akan mulai tersingkap.

Dzikir: Amalan yang Tak Pernah Putus
Salah satu prinsip penting yang digarisbawahi oleh Al-Habib Abdullah adalah bahwa dzikir adalah wirid yang senantiasa bersambung. Oleh karena itu, seorang mukmin hendaknya berusaha agar lisannya selalu basah dengan dzikir, kecuali pada waktu-waktu tertentu yang memang tidak memungkinkan, seperti saat membaca Al-Qur’an, bertafakur, atau sedang berbicara dengan orang lain.

Namun, dzikir tidak harus dibatasi pada satu bentuk saja. Beliau menganjurkan agar umat Islam memiliki berbagai macam bacaan dzikir—dari yang ringkas hingga yang panjang, dari yang umum hingga yang khusus—agar jiwa tidak jenuh dan selalu segar dalam mengingat Allah.

Dzikir dalam Sunnah Nabi dan Ayat Suci
Anjuran untuk memperbanyak dzikir bukanlah sekadar nasihat ulama, melainkan perintah langsung dari Allah SWT dan Rasul-Nya. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

"Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku."
(QS. Al-Baqarah: 152)

Ayat lain menyatakan:

"Apabila kamu telah menyelesaikan shalat, berzikirlah kepada Allah... baik ketika berdiri, duduk, maupun berbaring."
(QS. An-Nisa’: 103)

Dan firman-Nya yang sangat populer:

"Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah Allah dengan zikir sebanyak-banyaknya."
(QS. Al-Ahzab: 41)

TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya