Israel Siaga Penuh: Ancaman Perang dengan Iran Menggantung di Udara

Israel Siaga Penuh: Ancaman Perang dengan Iran Menggantung di Udara

Iran-Instagram-

Israel Siaga Penuh: Ancaman Perang dengan Iran Menggantung di Udara. Tegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas. Israel kini berada dalam status siaga penuh menyusul meningkatnya ketidakpastian terkait potensi serangan balasan dari Iran. Langkah ini diambil seiring memasuki pekan ketiga gelombang protes besar-besaran yang melanda berbagai kota di Iran, serta kekhawatiran akan eskalasi konflik regional akibat campur tangan militer Amerika Serikat.

Menurut laporan Al Jazeera yang dikutip pada Senin (12/1/2026), otoritas pertahanan Israel telah menaikkan tingkat kesiapsiagaan ke level tertinggi, terutama di wilayah front dalam negeri. Angkatan Udara Israel dan sistem pertahanan udara—termasuk jaringan Iron Dome, David’s Sling, dan Arrow—dikabarkan telah diperkuat dan ditempatkan dalam posisi siap tempur penuh. Langkah ini bukan tanpa alasan. Intelijen Israel mendeteksi adanya kemungkinan respons militer Iran jika AS benar-benar melancarkan serangan terhadap Teheran dalam waktu dekat.



Persiapan Tanpa Kepanikan
Meski berada dalam kondisi siaga ekstrem, pemerintah Israel berusaha keras menjaga stabilitas psikologis warganya. Pimpinan Front Dalam Negeri telah mengeluarkan instruksi resmi kepada seluruh otoritas lokal untuk menyiapkan tempat perlindungan sipil dan memastikan infrastruktur darurat berfungsi optimal. Namun, secara bersamaan, mereka juga menekankan pentingnya menjaga kesan bahwa “kehidupan berjalan normal”.

Pesan tersebut tampak jelas dalam komunikasi publik pemerintah: tidak ada pengumuman evakuasi massal, tidak ada penutupan sekolah atau fasilitas umum, dan media nasional diminta untuk tidak memperkeruh suasana dengan spekulasi berlebihan. Tujuannya? Mencegah kepanikan sosial sambil tetap mempersiapkan skenario terburuk.

Rapat Darurat dan Evaluasi Strategis
Di balik layar, situasinya jauh lebih tegang. Lembaga politik dan keamanan Israel dikabarkan tengah menggelar serangkaian rapat darurat secara intensif. Fokus utamanya adalah mengevaluasi kesiapan sipil dan militer menghadapi kemungkinan konfrontasi multi-front—bukan hanya dengan Iran, tetapi juga dengan kelompok-kelompok sekutunya seperti Hizbullah di Lebanon dan Hamas di Gaza.


Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yang saat ini sedang menghadapi tekanan internasional akibat surat perintah penangkapan dari Mahkamah Pidana Internasional (ICC) atas dugaan kejahatan perang di Gaza, diketahui telah melakukan serangkaian pertemuan keamanan langsung dengan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel, Letnan Jenderal Iyal Zamir. Selain itu, Netanyahu juga mengaktifkan forum keamanan tertinggi negara itu—dikenal sebagai “Kabinet Mini” atau Kitchen Cabinet—untuk membahas berbagai skenario strategis.

Forum ini, yang terdiri atas menteri pertahanan, kepala intelijen, dan pejabat senior lainnya, kini bekerja hampir nonstop. Salah satu agenda utamanya adalah menilai risiko serangan roket presisi tinggi dari Iran atau proksi-proksinya, serta dampak potensial terhadap infrastruktur vital Israel, termasuk pembangkit listrik, bandara, dan pusat komando militer.

Ancaman Konfrontasi Mendadak
Dalam rapat tertutup yang digelar pekan lalu, badan intelijen Israel (Mossad dan Shin Bet) memberikan peringatan eksplisit: konfrontasi militer dengan Iran bisa meletus kapan saja, bahkan tanpa peringatan awal. Skenario “serangan mendadak” menjadi fokus utama simulasi perang terbaru yang dilakukan oleh Komando Pertahanan Udara Israel.

Iran, yang selama ini menghindari konflik terbuka dengan Israel, kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, rezim Teheran menghadapi tekanan internal akibat gelombang demonstrasi anti-pemerintah yang dipicu oleh isu ekonomi dan kebebasan sipil. Di sisi lain, ancaman intervensi militer AS—yang belakangan semakin vokal mengecam program nuklir Iran—mendorong Teheran untuk menunjukkan kekuatan, termasuk melalui opsi militer.

Analis keamanan dari Universitas Tel Aviv, Dr. Eyal Zisser, mengatakan, “Israel tidak ingin perang, tapi juga tidak akan ragu merespons jika diserang. Yang menakutkan adalah kemungkinan kesalahan perhitungan—misalnya, serangan terhadap target sipil yang disalahartikan sebagai agresi militer. Itu bisa memicu spiral kekerasan yang tak terkendali.”

TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya