Harga Tembaga Mendekati Rekor Tertinggi: Kekhawatiran Pasokan dan Dolar Melemah Picu Lonjakan Harga Logam Dasar
tembaga-pixabay-
Harga Tembaga Mendekati Rekor Tertinggi: Kekhawatiran Pasokan dan Dolar Melemah Picu Lonjakan Harga Logam Dasar
Dunia komoditas kembali diguncang oleh gejolak harga tembaga yang melonjak mendekati level tertinggi sepanjang masa. Di tengah kekhawatiran akan kelangkaan pasokan global dan pelemahan nilai dolar AS, logam merah—sebutan populer untuk tembaga—menjadi sorotan utama pasar komoditas awal tahun ini.
Pada perdagangan Senin pagi (12/1), kontrak berjangka tembaga tiga bulan di London Metal Exchange (LME) naik hingga 1,5%, mencapai US$13.195 per ton. Angka ini hanya selangkah lagi dari rekor tertinggi historis yang sempat dicatatkan pekan lalu. Tak hanya tembaga, logam dasar lain seperti aluminium dan timah juga menunjukkan performa mengesankan, masing-masing berada pada level tertingginya sejak 2022.
Dorongan dari Ketidakpastian Pasokan dan Kebijakan Perdagangan
Lonjakan harga tembaga tidak terjadi dalam ruang hampa. Sejak pertengahan November 2025, harga logam ini telah melonjak lebih dari 20%, didorong oleh spekulasi pasar atas potensi gangguan pasokan global. Salah satu pemicu utamanya adalah antisipasi kebijakan tarif impor baru oleh pemerintahan mantan Presiden AS, Donald Trump, yang diperkirakan akan membatasi arus tembaga ke Amerika Serikat.
Langkah tersebut, meski belum resmi diumumkan, telah memicu aksi borong besar-besaran oleh para pelaku industri dan investor yang khawatir akan terjadinya kelangkaan pasokan di pasar global. Tembaga, sebagai bahan baku penting dalam pembuatan kabel listrik, panel surya, kendaraan listrik, dan infrastruktur digital, menjadi komoditas strategis yang tak bisa diabaikan di era transisi energi ini.
Tekanan Politik terhadap The Fed dan Pelemahan Dolar
Di sisi makroekonomi, tekanan politik terhadap Federal Reserve (The Fed) turut memperkuat tren kenaikan harga komoditas. Departemen Kehakiman AS baru-baru ini mengancam akan mengajukan dakwaan pidana terhadap bank sentral tersebut—langkah yang disebut Gubernur The Fed Jerome Powell sebagai bagian dari upaya sistematis pemerintahan Trump untuk mempengaruhi keputusan suku bunga.
Ketidakpastian ini membuat nilai tukar dolar AS melemah terhadap mata uang utama dunia. Akibatnya, komoditas yang diperdagangkan dalam dolar—seperti tembaga—menjadi lebih murah bagi pembeli internasional, sehingga permintaan meningkat dan harga ikut terkerek naik.
Rally Tahun Baru Logam Dasar: LMEX Catat Performa Terbaik Sejak Agustus
Indeks LMEX, yang mencerminkan pergerakan rata-rata enam logam dasar utama di LME, mencatatkan empat minggu berturut-turut menguat sejak awal tahun. Ini merupakan performa terbaik sejak Agustus 2025. Investor tampaknya semakin percaya diri bahwa kombinasi pelonggaran kebijakan moneter AS, pelemahan dolar, dan gangguan rantai pasokan global akan terus menjadi angin segar bagi aset-aset keras (hard assets) seperti logam.
“Pasar sedang memposisikan diri untuk skenario reflation—di mana inflasi kembali naik akibat stimulus fiskal dan moneter yang agresif,” ujar seorang analis komoditas di Jakarta yang enggan disebut namanya. “Tembaga, sebagai indikator ekonomi global, menjadi cerminan optimisme terhadap pemulihan permintaan industri.”
Stok Tembaga Comex Tembus Rekor, Tapi Pasar Tetap Khawatir
Ironisnya, meski harga terus naik, stok tembaga di gudang yang dilacak oleh Commodity Exchange (Comex)—salah satu indikator utama pergeseran kepemilikan global—justru meningkat selama 42 minggu berturut-turut, mencapai level tertinggi sepanjang masa. Namun, kenaikan stok ini tidak serta-merta menenangkan pasar.
Banyak analis berpendapat bahwa penumpukan stok di Comex justru mencerminkan ketidakseimbangan geografis pasokan, di mana logam terkonsentrasi di gudang-gudang AS, sementara permintaan tinggi datang dari Asia—terutama Tiongkok dan India. Hal ini menciptakan kelangkaan regional yang tetap mendukung kenaikan harga di pasar spot global.