Swasembada Pangan Diumumkan, Tapi Harga Beras dan Komoditas Pokok Masih Bikin Dompet Jebol
beras-pixabay-
Swasembada Pangan Diumumkan, Tapi Harga Beras dan Komoditas Pokok Masih Bikin Dompet Jebol
Di tengah gegap gempita pengumuman pencapaian swasembada pangan oleh Presiden Prabowo Subianto pada awal tahun 2026, realitas di lapangan justru menunjukkan cerita yang berbeda. Meski pemerintah menyatakan Indonesia kini tak lagi bergantung pada impor pangan, harga beras dan sejumlah komoditas pokok lainnya masih terasa mahal bagi masyarakat kebanyakan—terutama di wilayah-wilayah terpencil dan daerah 3TP (Terdepan, Terluar, Tertinggal).
Berdasarkan data terbaru dari Panel Harga Pangan Strategis per 12 Januari 2026, harga rata-rata beras medium di tiga zona utama Indonesia masih berada di level yang cukup tinggi. Di Zona 1 (meliputi Pulau Jawa dan Bali), harga beras medium mencapai Rp13.290 per kilogram. Angka ini naik menjadi Rp13.848/kg di Zona 2 (Sumatra, Kalimantan, Sulawesi), dan melonjak signifikan hingga Rp15.357/kg di Zona 3 (Maluku, Papua, Nusa Tenggara Timur).
Padahal, pemerintah telah menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) nasional untuk beras medium sebesar Rp12.500/kg. Artinya, harga pasar saat ini masih melebihi batas yang ditentukan—terutama di luar Jawa.
Beras Bulog Lebih Murah, Tapi Akses Masih Jadi Kendala
Satu-satunya kabar baik datang dari pasokan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) atau yang lebih dikenal sebagai beras Bulog. Harga rata-rata beras SPHP di tingkat konsumen turun tipis dari Rp12.500/kg menjadi Rp12.404/kg, dan secara konsisten berada di bawah HET di seluruh zona.
Rinciannya:
Zona 1: Rp12.171/kg
Zona 2: Rp12.653/kg
Zona 3: Rp13.180/kg
Namun, pertanyaan besar tetap menggantung: apakah beras murah ini benar-benar menjangkau masyarakat luas? Banyak warga di daerah pedalaman mengeluh bahwa stok beras SPHP seringkali langka di pasar tradisional, sementara distribusi digital belum merata. “Kami tahu ada beras murah dari Bulog, tapi jarang ketemu di warung,” keluh Siti, ibu rumah tangga asal Kabupaten Sumba Timur.
Swasembada Pangan: Prestasi Politik atau Kenyataan Lapangan?
Pernyataan Presiden Prabowo dalam acara Panen Raya dan Pengumuman Swasembada Pangan di Karawang, Rabu (7/1/2026), memang menggembirakan. Ia menyebut bahwa target swasembada pangan—yang awalnya direncanakan tercapai dalam empat tahun—telah berhasil diraih hanya dalam satu tahun masa kepemimpinannya.
“Kalau waktu saya dilantik jadi presiden, memang saya beri target empat tahun swasembada beras, swasembada pangan. Terima kasih seluruh komunitas pertanian di Indonesia, saudara bekerja keras, saudara bersatu, saudara kompak,” ujar Prabowo dengan penuh semangat.
Ia menegaskan bahwa capaian ini membuktikan Indonesia mampu mencapai kemandirian pangan tanpa impor. Namun, para ekonom dan aktivis sosial mengingatkan agar klaim tersebut tidak hanya dilihat dari sisi produksi, melainkan juga dari keterjangkauan harga dan distribusi yang adil.
“Swasembada bukan hanya soal produksi surplus, tapi juga aksesibilitas dan stabilitas harga bagi seluruh rakyat,” tegas Dr. Lina Wijaya, pakar kebijakan pangan dari Universitas Gadjah Mada.
Minyak Goreng dan Bumbu Dapur: Tekanan Tak Kunjung Usai
Tak hanya beras, komoditas pangan pokok lainnya juga masih memberikan tekanan pada anggaran rumah tangga. Minyakita, minyak goreng bersubsidi pemerintah, justru dijual di atas HET. Harga rata-rata nasionalnya mencapai Rp17.381/liter, naik 10,71% dari HET sebesar Rp15.700/liter.
Sementara itu, minyak goreng kemasan dan curah masing-masing dibanderol Rp20.703/liter dan Rp17.182/liter—angka yang jauh dari ideal bagi keluarga berpenghasilan menengah ke bawah.
Di sektor bumbu dapur, disparitas harga antarwilayah sangat mencolok. Bawang putih bonggol secara nasional berada di kisaran Rp38.098/kg, masih dalam rentang Harga Acuan Penjualan (HAP) nasional Rp38.000–Rp40.000/kg. Namun, di kawasan Indonesia Timur dan 3TP, harganya melambung hingga Rp53.750/kg—naik hampir 41% dari rata-rata nasional.
Bawang merah juga tak kalah membebani. Harga rata-rata nasional mencapai Rp42.362/kg, melebihi batas atas HAP (Rp41.500/kg). Begitu pula cabai rawit merah yang dijual Rp49.726/kg, meski secara teknis masih dalam rentang HAP nasional (Rp40.000–Rp57.000/kg), namun tetap memberatkan konsumen harian.
Daging, Telur, dan Ikan: Naik Turun, Tapi Masih Mahal
Harga daging ayam ras rata-rata nasional berada di Rp38.528/kg, sementara telur ayam ras dijual Rp30.801/kg—sedikit di atas HAP nasional Rp30.000/kg. Kenaikan ini dipicu oleh lonjakan harga pakan ternak, terutama jagung.
Berbicara soal jagung, harga di tingkat peternak kini mencapai Rp6.802/kg, naik 17,28% dari Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp5.800/kg. Ini menjadi salah satu faktor utama kenaikan biaya produksi protein hewani.