Ramalan Harga Batu Bara Pekan Depan: Masih Kuat atau Siap Tertahan? Simak Analisis Terkini!

Ramalan Harga Batu Bara Pekan Depan: Masih Kuat atau Siap Tertahan? Simak Analisis Terkini!

pabrik-pexels/pixabuy-

Ramalan Harga Batu Bara Pekan Depan: Masih Kuat atau Siap Tertahan? Simak Analisis Terkini!

Di tengah dinamika pasar energi global yang terus berubah, batu bara kembali mencuri perhatian investor dan pelaku industri. Sepanjang pekan ini, harga komoditas yang kerap dijuluki “si batu hitam” tersebut menunjukkan performa positif, menguat secara konsisten hingga mencatatkan level tertinggi sejak awal tahun 2026.



Pada penutupan perdagangan Jumat (9/1/2026), harga batu bara di pasar ICE Newcastle untuk kontrak pengiriman bulan depan ditutup pada level US$107,4 per ton, naik 0,47% dibandingkan hari sebelumnya. Lebih mengesankan lagi, selama sepekan penuh, harga batu bara membukukan kenaikan 0,8% secara point-to-point, menandai awal tahun yang cukup optimis bagi para eksportir dan produsen batu bara, termasuk Indonesia—salah satu negara pengekspor batu bara terbesar dunia.

Sentimen Positif dari China: Katalis Kenaikan Harga
Salah satu pemicu utama penguatan harga batu bara pekan ini berasal dari Negeri Tirai Bambu, China—konsumen batu bara terbesar di dunia. Kemarin, Biro Statistik Nasional China merilis data inflasi Desember 2025 yang mencatatkan angka 0,8% year-on-year (yoy), sedikit lebih tinggi dari November 2025 yang berada di 0,7% yoy.

Angka inflasi tersebut bukan hanya sekadar statistik biasa—melainkan sinyal penting bahwa permintaan domestik di China mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Inflasi yang meningkat umumnya mencerminkan aktivitas ekonomi yang lebih bergairah, termasuk konsumsi rumah tangga dan industri manufaktur yang mulai bangkit pasca-periode perlambatan.


Mengingat batu bara masih menjadi tulang punggung pembangkit listrik di China—meski upaya transisi energi terbarukan terus digencarkan—kenaikan permintaan energi dalam negeri otomatis akan mendorong impor batu bara. Dengan demikian, setiap perubahan kecil dalam data ekonomi China bisa langsung memantul ke pasar komoditas global, termasuk harga batu bara.

Faktanya, inflasi 0,8% yoy yang dirilis pekan ini merupakan angka tertinggi sejak Februari 2023, memberikan harapan baru bagi pelaku pasar bahwa roda ekonomi China mulai kembali berputar dengan stabil.

Analisis Teknikal: Apakah Momentum Kenaikan Akan Berlanjut?
Namun, di balik euforia penguatan harga, analisis teknikal justru memberikan gambaran yang lebih hati-hati. Dalam kerangka waktu mingguan (weekly time frame), indikator-indikator pasar menunjukkan bahwa batu bara masih berada dalam zona netral cenderung bearish.

Salah satu indikator utama, Relative Strength Index (RSI) 14 hari, saat ini berada di level 48. Angka ini berada di bawah ambang netral 50, yang secara teknis mengindikasikan tekanan jual masih dominan. Meski demikian, karena posisinya belum jauh di bawah 50, kondisi pasar bisa dikatakan relatif seimbang—tidak sepenuhnya bullish, namun juga belum masuk ke wilayah oversold.

Sementara itu, Stochastic RSI 14 hari berada di angka 38, yang menempatkannya dalam area jual kuat. Ini menandakan bahwa momentum kenaikan mungkin mulai kehabisan tenaga, dan peluang koreksi jangka pendek tetap terbuka.

Tak kalah penting, Average True Range (ATR) 14 hari mencatat angka 2, menunjukkan bahwa volatilitas harga batu bara diperkirakan akan rendah dalam waktu dekat. Artinya, pergerakan harga pekan depan kemungkinan besar akan terbatas dalam rentang sempit, tanpa gejolak signifikan seperti yang sering terjadi di masa lalu.

Proyeksi Harga Pekan Depan: Rentang Pergerakan Terbatas
Berdasarkan kombinasi sentimen fundamental dan sinyal teknikal, para analis memperkirakan bahwa harga batu bara pada perdagangan pekan depan tidak akan melonjak tajam, namun juga tidak akan anjlok drastis.

Resistensi terdekat diproyeksikan berada di kisaran US$108–109 per ton. Jika harga berhasil menembus level ini dengan volume perdagangan tinggi, maka potensi kenaikan lanjutan menuju US$112–115/ton bisa terbuka.
Di sisi lain, support terdekat berada di level US$106–104 per ton. Penembusan ke bawah zona ini—terutama jika disertai dengan data ekonomi China yang melemah—dapat memicu aksi jual lebih luas.
Bagi para eksportir batu bara di Indonesia, terutama di Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, dan provinsi penghasil batu bara lainnya, fluktuasi harga ini menjadi pertimbangan penting dalam menentukan strategi penjualan dan negosiasi kontrak jangka pendek.

Dampak bagi Ekonomi Lokal dan Strategi Eksportir
Indonesia, sebagai salah satu pemasok utama batu bara ke China, India, dan negara-negara Asia lainnya, sangat sensitif terhadap perubahan harga global. Kenaikan harga, meski tipis, tetap memberikan angin segar bagi pendapatan devisa dan kinerja perusahaan tambang nasional.

Namun, di tengah transisi energi global yang semakin gencar, banyak pelaku industri mulai mempertimbangkan diversifikasi—baik ke sektor energi terbarukan maupun pengembangan nilai tambah melalui gasifikasi batu bara atau proyek co-firing biomassa.

Pemerintah juga terus mendorong penerapan Domestic Market Obligation (DMO) dan Harga Patokan Batu Bara (HPB) untuk menjaga stabilitas pasokan dalam negeri, terutama bagi pembangkit listrik PLN yang masih sangat bergantung pada batu bara.

Baca juga: Innova Zenix Gagal Salib Daihatsu! Inilah Daftar Penjualan Mobil Januari 2026

TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya