Satu Pasien Super Flu Meninggal di Bandung: Dokter Ungkap Gejala Kritis dan Waktu Tepat Cari Pertolongan Medis
flu-pixabay-
Satu Pasien Super Flu Meninggal di Bandung: Dokter Ungkap Gejala Kritis dan Waktu Tepat Cari Pertolongan Medis
Gelombang kasus influenza A subklade H3N2 (c241), yang kerap disebut masyarakat sebagai “super flu”, kini telah menjangkiti berbagai wilayah di Indonesia. Di tengah kekhawatiran publik, satu pasien di Kota Bandung dilaporkan meninggal dunia akibat komplikasi virus ini yang diperparah oleh penyakit penyerta atau komorbid.
Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung mengonfirmasi bahwa hingga awal Januari 2026, sebanyak 10 pasien telah dirawat karena terinfeksi strain influenza A subklade H3N2 (c241). Dua di antaranya mengalami kondisi kritis, dengan satu pasien sempat menjalani perawatan intensif di ICU. Sayangnya, pasien tersebut tak tertolong nyawanya lantaran memiliki riwayat penyakit kronis seperti stroke, gagal jantung, dan gangguan ginjal.
“Super Flu” Bukan Istilah Medis Resmi, Tapi Jangan Disepelekan
Direktur Medik dan Keperawatan RSHS, dr. Iwan Abdul Rachman, menegaskan dalam konferensi pers di Medical Center Hasan Sadikin (MCHC) pada Kamis (8/1/2026) bahwa istilah “super flu” bukanlah terminologi resmi dalam dunia kedokteran. Namun, frasa tersebut digunakan secara luas oleh masyarakat untuk menggambarkan infeksi influenza yang gejalanya lebih berat, masa pemulihan lebih lama, atau penyebarannya yang sangat cepat.
“Gejalanya memang mirip flu biasa—demam, batuk, nyeri otot, sakit kepala—namun intensitasnya jauh lebih tinggi dan bertahan lebih lama,” ujar dr. Iwan. “Yang penting, kita tidak perlu panik. Saat ini tren kasus mulai menurun di seluruh daerah. Yang harus tetap dijaga adalah pencegahan: pakai masker, cuci tangan rutin, dan segera ke fasilitas kesehatan jika gejala terasa memburuk.”
Lonjakan Kasus Sejak Agustus 2025, Puncak di Oktober
Menurut dr. Yovita Hartantri, Ketua Tim Pinere RSHS, kasus influenza A mulai meningkat signifikan sejak Agustus 2025, mencapai puncaknya pada bulan Oktober, lalu menurun di November. Dari 10 pasien yang dirawat di RSHS antara September hingga November 2025, profil usianya sangat bervariasi: dua bayi (9 bulan dan 1 tahun), satu anak usia 11 tahun, mayoritas dewasa muda hingga paruh baya (20–60 tahun), serta dua lansia di atas 60 tahun.
Pasien yang meninggal, menurut dr. Yovita, memiliki komorbid kompleks yang memperparah kondisinya. “Kami tidak bisa menyatakan kematian itu semata-mata disebabkan oleh virus. Faktor komorbid seperti stroke, gagal jantung, dan infeksi yang memicu gagal ginjal turut berkontribusi besar,” jelasnya.
Subklade K: Varian Baru yang Menghindari Vaksin Musim Ini
Di balik istilah “super flu” terdapat realitas ilmiah yang cukup mengkhawatirkan. Dilansir dari Parade, spesialis penyakit menular Dr. Tyler B. Evans menjelaskan bahwa influenza A H3N2 tahun ini mengalami pergeseran genetik signifikan, melahirkan varian baru bernama subklade K.
Varian ini tidak sepenuhnya sesuai dengan komposisi vaksin flu musim 2025–2026, yang ditentukan berdasarkan prediksi virus yang beredar sebelumnya. Akibatnya, efektivitas vaksin menurun, dan sistem imun tubuh kesulitan mengenali virus ini.
“Musim flu 2025–2026 menjadi salah satu yang paling parah dalam sejarah,” ungkap epidemiolog Dr. Brad Hutton. “Beberapa negara bagian di AS bahkan melaporkan rekor rawat inap dan kunjungan IGD tertinggi. Lebih dari 90% sampel virus flu yang diuji adalah tipe A H3N2 subklade K.”
Dr. Shoshana Ungerleider, dokter penyakit dalam bersertifikat, menambahkan bahwa mutasi ini membuat virus “asing” bagi sistem kekebalan tubuh, terutama pada kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak. “Itu sebabnya angka rawat inap melonjak,” katanya.
Gejala Super Flu: Lebih dari Sekadar Flu Biasa
Meski gejala awalnya mirip flu musiman—demam mendadak, batuk kering, nyeri otot, kelelahan ekstrem, sakit tenggorokan, dan hidung tersumbat—flu jenis ini menunjukkan tanda-tanda peringatan yang harus diwaspadai:
Sesak napas atau kesulitan bernapas
Nyeri dada yang tajam
Kebingungan mental atau delirium
Kelemahan ekstrem hingga tak mampu bangun dari tempat tidur
Muntah terus-menerus
Gejala yang memburuk setelah hari ke-5, bukan membaik
Pada lansia dan anak kecil, gejala bisa tidak khas: rewel berlebihan, lesu ekstrem, atau perubahan perilaku mendadak. CDC (Centers for Disease Control and Prevention) menekankan bahwa gejala flu biasanya muncul secara tiba-tiba, bukan bertahap seperti pilek biasa.
Pengobatan: Antivirus Harus Diberikan Cepat
Untungnya, ada obat antivirus yang efektif melawan influenza A, yaitu oseltamivir (Tamiflu) dan baloxavir (Xofluza). Namun, kunci keberhasilannya terletak pada waktu pemberian: dalam 48 jam pertama sejak gejala muncul.
Bagi kelompok berisiko tinggi—lansia, anak di bawah 5 tahun, ibu hamil, penderita diabetes, penyakit jantung, paru-paru, atau ginjal—segera konsultasi ke dokter begitu gejala muncul. Jangan menunggu hingga kondisi memburuk.
“Sebagian besar orang sehat akan pulih dalam sekitar satu minggu,” kata dr. Ungerleider. “Namun, rasa lelah dan batuk bisa bertahan hingga dua minggu atau lebih.”
Namun, bagi mereka yang mengalami komplikasi atau memiliki penyakit kronis, masa pemulihan bisa memakan waktu beberapa minggu, terutama jika harus dirawat di rumah sakit