Rama Duwaji Agamanya Apa? Islam Atau Kristen? Inilah Biodata Istri Zohran Mamdani Wali Kota New York, Benarkah Seorang Seniman Ternama?
Rama Duwaji Agamanya Apa? Islam Atau Kristen? Inilah Biodata Istri Zohran Mamdani Wali Kota New York, Benarkah Seorang Seniman Ternama?
Kemenangan mengejutkan Zohran Mamdani dalam pemilihan pendahuluan Partai Demokrat untuk jabatan Wali Kota New York pekan lalu bukan hanya mengguncang dunia politik Amerika Serikat—tetapi juga membawa sosok yang selama ini berada di balik layar ke sorotan publik: istrinya, Rama Duwaji. Perempuan berusia 27 tahun ini tiba-tiba menjadi pusat perhatian nasional, bukan hanya karena statusnya sebagai pasangan hidup seorang calon pemimpin kota paling ikonik di dunia, tetapi juga karena identitasnya sebagai seniman visual yang vokal dan progresif.
Dalam momen penuh emosi pada malam kemenangan di hari Selasa, Duwaji berdiri tegak di samping suaminya, tersenyum lebar sambil memegang tangannya. Di panggung itu, Mamdani—yang baru berusia 33 tahun—menyampaikan ucapan terima kasih yang menyentuh: “Rama, terima kasih,” sambil mencium punggung tangan sang istri. Gestur sederhana itu menjadi simbol cinta dan solidaritas di tengah badai politik yang tak henti-hentinya menerpa pasangan muda ini.
Dari Aplikasi Kencan Hingga Panggung Politik
Siapa sangka, kisah cinta mereka berawal dari sebuah aplikasi kencan populer, Hinge, beberapa tahun sebelum nama Mamdani dikenal luas di kancah politik. “Masih ada harapan di aplikasi kencan tersebut,” ujar Mamdani dengan nada bercanda saat diwawancarai oleh podcast The Bulwark selama masa kampanye.
Pertemuan digital itu berubah menjadi hubungan nyata yang kokoh, hingga akhirnya mereka menikah secara sipil tiga bulan lalu di kantor Panitera Kota New York. Namun, selama masa kampanye yang intens, Duwaji memilih untuk tidak tampil di depan umum—keputusan yang justru dimanfaatkan oleh lawan-lawan politik Mamdani untuk melontarkan tuduhan bahwa ia “sengaja disembunyikan.”
Tudingan tersebut langsung dibantah Mamdani melalui unggahan Instagram yang menyertakan foto-foto pernikahan mereka. “Jika Anda melihat Twitter hari ini, atau hari apa pun, Anda tahu betapa kejamnya politik,” tulisnya. “Saya biasanya mengabaikan ancaman pembunuhan atau seruan agar saya dideportasi. Tapi ketika menyangkut orang yang saya cintai, itu berbeda.”
Ia menegaskan bahwa Duwaji bukan sekadar ‘istri politisi’, melainkan seniman luar biasa yang layak dikenal atas prestasinya sendiri.
Akar Budaya dan Identitas Multikultural
Di bio Instagram-nya, Duwaji menuliskan bahwa ia “berasal dari Damaskus”—sebuah penghormatan terhadap warisan budaya Suriah dari keluarganya. Namun, juru bicara tim kampanye Mamdani mengklarifikasi kepada The New York Times bahwa Duwaji sebenarnya lahir di Texas, Amerika Serikat, menjadikannya warga negara AS dengan latar belakang diaspora Timur Tengah yang kaya akan narasi identitas ganda.
Identitas multikultural inilah yang kerap menjadi inspirasi utama dalam karya-karyanya. Sebagai ilustrator dan animator, Duwaji dikenal karena karya-karya visual yang sarat makna politik, terutama yang mendukung hak-hak Palestina dan mengkritik kebijakan pemerintahan Trump serta agresi militer Israel.
Karya Seni yang Berbicara Lebih Keras dari Kata-Kata
Karya Duwaji tidak hanya eksis di media sosial, tetapi juga telah dipamerkan di institusi seni bergengsi seperti Tate Modern di London. Publikasi internasional ternama seperti The New Yorker, BBC, dan The Washington Post pun pernah menampilkan karyanya, mengukuhkan posisinya sebagai suara artistik yang relevan di era ketidakadilan global.
Salah satu karyanya yang viral adalah animasi bertema Gaza, yang menampilkan seorang perempuan memegang mangkuk bertuliskan: “Ini bukan krisis kelaparan… ini adalah kelaparan yang disengaja.” Dalam keterangan unggahannya, Duwaji menulis: “Saat saya membuat ini, Israel terus-menerus membombardir Gaza dengan serangan udara berturut-turut.” Ia juga menyematkan tautan donasi ke organisasi nirlaba yang mendukung pengungsi Palestina—menunjukkan komitmennya tidak hanya dalam seni, tetapi juga aksi nyata.
Belum lama ini, Duwaji juga menggunakan platformnya untuk mendukung Mahmoud Khalil, aktivis pro-Palestina dan mahasiswa Columbia University yang sempat ditahan selama berbulan-bulan tanpa dakwaan oleh pemerintahan Trump. Pembebasan Khalil pekan lalu disambut dengan unggahan penuh sukacita oleh Duwaji, yang menyebutnya sebagai “kemenangan bagi keadilan.”
Di Tengah Badai Politik: Perlindungan terhadap Keluarga
Popularitas Mamdani yang meledak—meski minim pengalaman eksekutif (ia hanya pernah menjabat sebagai anggota Dewan Negara Bagian New York)—telah memicu gelombang kritik, termasuk serangan personal terhadap keluarganya. Namun, Mamdani bersikeras memisahkan ranah politik dari kehidupan pribadi.
“Pemilihan ini seharusnya tentang warga New York—bukan tentang istri saya,” tegasnya. Ia menolak upaya politisasi identitas Duwaji, terutama oleh kelompok sayap kanan yang mencoba menggambarkan sang istri sebagai “ancaman” karena latar belakang etnis dan pandangan politiknya.
Visi Radikal Mamdani dan Peran Duwaji dalam Membentuk Narasi Baru
Mamdani sendiri mengusung platform politik yang sangat progresif: menaikkan pajak bagi 1% warga terkaya New York, menggratiskan layanan penitipan anak dan transportasi umum, serta mengalokasikan US$65 juta untuk perawatan transgender. Ia juga berjanji akan membekukan sewa apartemen berkontrak tetap, mendirikan toko kelontong milik kota, dan mereformasi sistem kepolisian dengan memotong anggaran NYPD.
Yang paling kontroversial, Mamdani secara terbuka mendukung slogan “globalisasikan intifada” dan bahkan menyatakan akan menangkap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu jika ia menginjakkan kaki di New York—pernyataan yang tentu saja memicu perdebatan sengit di tingkat nasional.
Di balik visi radikal ini, banyak pengamat melihat pengaruh nilai-nilai humanis dan keadilan sosial yang juga tercermin dalam karya Duwaji. Pasangan ini, meski muda, tampaknya menyatukan seni, aktivisme, dan politik dalam satu gerakan yang utuh.
Update Terbaru
Apa Pekerjaan Martinus Sudiryono? Ayah Kandung Syifa Hadju yang Resmi Menikah dengan El Rumi, Bukan Orang Sembarangan?
Selasa / 28-04-2026, 19:09 WIB
Profil Martinus Sudiryono Ayah Kandung Syifa Hadju yang Resmi Menikah dengan El Rumi: Umur, Agama dan IG
Selasa / 28-04-2026, 19:01 WIB
Euphoria Season 3 Episode 4 Tayang 4 Mei 2026, Konflik Baru Rue dan Cassie Makin Memanas
Selasa / 28-04-2026, 18:40 WIB
OPPO Find X9 Ultra Siap Tantang Flagship 2026 dengan Kamera 10x dan Baterai 7050 mAh
Selasa / 28-04-2026, 18:37 WIB
Prabowo lanjutkan kunjungan kerja ke Cilacap dan Banyumas usai menjenguk korban kecelakaan kereta
Selasa / 28-04-2026, 18:34 WIB
Link Baca Manhwa Eleceed Chapter 399 Bahasa Indonesia, Aksi Superpower yang Tetap Menarik
Selasa / 28-04-2026, 18:02 WIB
Link Baca Manhwa Eleceed Chapter 400 Bahasa Indonesia, Cek Update Terbaru di SIni
Selasa / 28-04-2026, 18:00 WIB
KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL di Bekasi Timur, Dugaan Gangguan Sinyal Diselidiki
Selasa / 28-04-2026, 17:51 WIB
Evaluasi Gerbong Khusus Perempuan di KRL Diusulkan Menteri PPPA Arifah Fauzi Dipindah ke Bagian Tengah
Selasa / 28-04-2026, 17:48 WIB
Prabowo Subianto Tinjau TPST BLE di Banyumas untuk Evaluasi Pengelolaan Sampah Berkelanjutan
Selasa / 28-04-2026, 17:45 WIB
Tabrakan Kereta di Bekasi Timur Dipicu Taksi Listrik Mogok di Perlintasan Ampera
Selasa / 28-04-2026, 17:42 WIB
Icha Putri Utami Terseret Isu Penipuan Investasi Rp88 Juta, Klaim Mahasiswi FK UI Dipertanyakan
Selasa / 28-04-2026, 17:41 WIB
Infinix Smart 20 Tawarkan Layar 120Hz dan Baterai Besar di Harga 1 Jutaan April 2026
Selasa / 28-04-2026, 17:27 WIB






