KABAR DUKA! Jin Denim Aktor Korea Meninggal Dunia di Usia 29 Tahun Pada Selasa, 6 Januari 2026

KABAR DUKA! Jin Denim Aktor Korea Meninggal Dunia di Usia 29 Tahun Pada Selasa, 6 Januari 2026

Jin-Instagram-

KABAR DUKA! Jin Denim Aktor Korea Meninggal Dunia di Usia 29 Tahun Pada Selasa, 6 Januari 2026
Jin Denim Meninggal Dunia di Usia 29 Tahun: Keluarga Tegaskan Bukan Bunuh Diri, Melainkan Kecelakaan Akibat Komplikasi Bipolar Disorder

Dunia hiburan Korea Selatan kembali berduka. Kabar duka datang dari sosok musisi indie yang dikenal lewat suara emosional dan lirik penuh makna—Jin Denim. Pada Selasa, 6 Januari 2026, media lokal seperti SBS Star dan Chosun Daily melaporkan bahwa penyanyi berusia 29 tahun ini telah meninggal dunia akibat kecelakaan jatuh pada malam 17 Desember 2025. Namun, yang menjadi sorotan utama adalah penegasan keluarganya: kematian Jin Denim bukan bunuh diri, melainkan insiden tragis yang terjadi dalam konteks perjuangannya melawan gangguan bipolar.



Pengumuman dari Sang Adik: “Ini Bukan Bunuh Diri”
Kabar duka ini pertama kali dibagikan oleh adik perempuan Jin Denim, yang memperkenalkan dirinya sebagai Danbee, melalui unggahan di akun media sosial milik sang kakak. Dalam postingan tersebut, Danbee membagikan foto makam sang kakak—pria bernama asli Kim Jeong Yeop—yang kini beristirahat di Evergreen Arboretum, Anseong, Provinsi Gyeonggi.

“Pada malam tanggal 17 Desember 2025, kakak laki-laki saya, Jeong Yeop, meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan,” tulis Danbee dengan penuh kesedihan namun tegas. Ia menekankan bahwa insiden tersebut terjadi secara tidak disengaja, bukan sebagai bentuk tindakan sadar untuk mengakhiri hidup.

Meski keluarga awalnya memilih menjalani prosesi pemakaman secara tertutup—hanya dihadiri oleh kerabat terdekat—Danbee merasa penting untuk memberikan klarifikasi kepada publik, terutama para penggemar yang mencintai musik dan sosok Jin Denim.


“Saya merasa perlu untuk berbagi kenyataan ini dengan orang-orang yang mencintainya dan menghargai musiknya. Jadi, saya membagikan kabar ini,” ungkapnya.

Perjuangan Panjang Melawan Bipolar Disorder
Salah satu aspek paling menyentuh dalam kisah Jin Denim adalah perjuangannya melawan gangguan bipolar sejak tahun 2015. Menurut Danbee, sang kakak sepenuhnya menyadari kondisinya dan tak pernah berhenti berusaha mengatasinya. Ia rutin menjalani perawatan medis dan minum obat sesuai resep dokter.

Namun, dalam beberapa bulan terakhir sebelum kematiannya, gejala gangguan bipolar yang diderita Jin Denim memburuk secara signifikan. “Belakangan ini gejalanya memburuk dengan cepat, hingga mencapai titik di mana keluarga kesulitan untuk mengelola situasi tersebut,” tulis Danbee.

Meski begitu, ia menegaskan bahwa kakaknya tetap berjuang—tidak hanya secara medis, tetapi juga melalui iman dan hubungan sosialnya. “Bahkan selama sakitnya, ia berusaha untuk tetap bertahan hidup melalui iman dan berbagi kasih serta keyakinan dengan orang-orang di sekitarnya,” lanjutnya.

Sayangnya, salah satu manifestasi dari gangguan bipolar adalah perilaku impulsif yang sulit dikendalikan. “Perilaku impulsifnya terus berulang akibat penyakitnya, yang merupakan gejala di luar kehendaknya sendiri,” jelas Danbee, sekali lagi menegaskan bahwa kematian Jin Denim adalah akibat langsung dari komplikasi medis dan psikologis, bukan niat sadar untuk bunuh diri.

Pesan Terakhir: “Jangan Berduka, Ini Hari Penuh Sukacita”
Di tengah kesedihan mendalam, Danbee membagikan pesan yang sering diucapkan Jin Denim semasa hidupnya—sebuah kalimat yang kini menjadi warisan spiritual bagi siapa pun yang mengenalnya.

“Janganlah berduka ketika aku pergi, karena itu akan menjadi hari yang penuh sukacita untuk pergi ke surga,” demikian kata-kata yang sering diulang sang musisi.

Danbee pun meminta publik untuk mengenang Jin Denim bukan sebagai simbol kesedihan atau stigma, melainkan sebagai seniman yang meninggalkan jejak melalui musik dan kenangan indah. “Tolong ingatlah ia, bukan hanya sebagai sumber kesedihan tetapi melalui musik dan kenangan indah yang ditinggalkannya.”

Perjalanan Musikal Jin Denim: Dari Hongdae ke Hati Pendengar
Lahir dan besar di Korea Selatan, Jin Denim—nama panggung Kim Jeong Yeop—menempuh pendidikan di Universitas Fudan, Tiongkok, sebelum akhirnya kembali ke Seoul untuk mengejar mimpinya di dunia musik. Ia mulai dikenal luas sejak aktif melakukan busking di kawasan Hongdae, pusat budaya anak muda di Seoul, pada tahun 2016.

Gaya musiknya yang unik—menggabungkan nuansa R&B alternatif dengan sentuhan indie pop—cepat menarik perhatian pecinta musik independen. Suaranya yang hangat namun penuh kerentanan mampu menyampaikan emosi yang mendalam, menjadikannya salah satu suara paling autentik di kancah musik indie Korea.

Beberapa lagu andalannya yang dikenang hingga kini antara lain "When This Night Passes," "Colorful," "Eternal," dan "Fairytale." Setiap karya tersebut bukan hanya sekadar lagu, melainkan jendela menuju jiwa seorang seniman yang terus berjuang melawan bayangan dalam pikirannya.

Pentingnya Kesadaran terhadap Kesehatan Mental di Industri Hiburan
Kematian Jin Denim kembali mengingatkan publik akan pentingnya dukungan sistematis terhadap kesehatan mental, terutama di industri hiburan yang penuh tekanan. Meski stigma seputar gangguan mental perlahan mulai memudar di Korea Selatan, masih banyak pekerja seni yang enggan mencari bantuan karena takut dihakimi atau kehilangan karier.

Baca juga: Ueno Family Sambut Anggota Baru: Uma Mega Melahirkan Putri Ketiga, Baby Mutsuki, di Awal Tahun 2026

TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya