Setelah 35 Tahun Menemani Generasi, Doraemon Resmi Pamit dari Layar Kaca Nasional – Akhir Era di TV, Bukan Akhir Kehadiran
Doraemon-Instagram-
Setelah 35 Tahun Menemani Generasi, Doraemon Resmi Pamit dari Layar Kaca Nasional – Akhir Era di TV, Bukan Akhir Kehadiran
Generasi Indonesia yang tumbuh dengan suara “Doraemon, tolong!” kini harus merelakan kepergian sang robot kucing dari layar televisi nasional. Setelah lebih dari tiga dekade menjadi teman setia di akhir pekan, serial anime legendaris Doraemon resmi tidak lagi ditayangkan di RCTI mulai awal tahun 2026.
Pemantauan terhadap jadwal penyiaran resmi di platform RCTI+ menunjukkan bahwa kehadiran Doraemon telah menghilang sejak akhir Desember 2025. Tepatnya, sejak Senin, 29 Desember 2025 hingga Minggu, 4 Januari 2026, nama Doraemon tak lagi muncul dalam daftar program harian stasiun televisi tersebut.
Langkah ini menandai babak penutup dari salah satu penayangan anime terpanjang dan paling ikonik dalam sejarah televisi Indonesia. Bagi jutaan penonton lintas usia—dari anak-anak hingga orang tua—kepergian Doraemon bukan hanya soal hilangnya tayangan hiburan, melainkan juga simbol perpisahan dengan masa kecil yang penuh imajinasi, pelajaran moral, dan petualangan bersama Nobita, Shizuka, Gian, dan Suneo.
Viral di Media Sosial: Nostalgia Meledak di Twitter dan TikTok
Kabar berhentinya Doraemon di RCTI langsung memantik gelombang nostalgia di jagat maya. Akun pop culture @IndoPopBase di platform X (sebelumnya Twitter) menjadi sorotan setelah membagikan unggahan bertuliskan:
“Doraemon officially ends its run on RCTI after nearly four decades.”
Unggahan tersebut telah diretweet dan dikomentari ribuan kali dalam hitungan jam. Warganet membanjiri kolom komentar dengan kenangan masa kecil mereka—mulai dari menunggu tayangan seusai sarapan Minggu pagi, hingga bermain “kantong ajaib” bersama teman-teman di sekolah dasar.
Di TikTok, tagar #SelamatJalanDoraemon dan #DoraemonRCTI sempat menjadi trending nasional. Banyak konten kreator muda membuat video edit klip klasik Doraemon, dipadukan dengan musik sedih atau audio narasi emosional yang menyentuh hati:
“Aku masih ingat nenek duduk di sampingku sambil ketawa lihat Nobita digebukin Gian…”
Respons publik ini membuktikan bahwa Doraemon bukan sekadar serial animasi, melainkan bagian dari identitas budaya populer Indonesia selama lebih dari 35 tahun.
Jejak Emas Doraemon di Tanah Air: Dari TV hingga Layar Lebar
Sejarah kehadiran Doraemon di Indonesia dimulai pada akhir dekade 1980-an hingga awal 1990-an, saat stasiun televisi swasta mulai menjamur pasca-reformasi informasi. RCTI, sebagai salah satu stasiun pionir, menjadikan Doraemon sebagai program unggulan dalam slot anak dan keluarga.
Serial ini diadaptasi dari manga karya legendaris Fujiko F. Fujio, yang pertama kali terbit di Jepang pada tahun 1969. Di Indonesia, Doraemon diterima bukan hanya karena kelucuannya, tetapi juga karena pesan universal yang disampaikan: pentingnya persahabatan, nilai tanggung jawab, kejujuran, serta empati terhadap sesama.
Selain serial televisi, film-film layar lebar Doraemon juga selalu ditunggu-tunggu. Judul-judul seperti Doraemon: Nobita’s Dinosaur, Doraemon: Stand By Me, hingga Doraemon: Nobita Drifts in the Universe sukses besar di bioskop Indonesia, sering kali memecahkan rekor penonton untuk film animasi non-lokal.
Berakhir di TV, Tapi Tak Mati: Doraemon Hidup di Era Digital
Meski tak lagi muncul di televisi nasional, kehadiran Doraemon sama sekali tidak lenyap. Di tengah pergeseran perilaku konsumsi hiburan—dari layar kaca ke layar ponsel dan laptop—serial ini tetap dapat diakses secara legal melalui berbagai platform digital seperti Netflix, Disney+ Hotstar, dan tentu saja RCTI+ sendiri.
Pakar media digital, Dr. Rina Suryadi, menjelaskan bahwa keputusan RCTI menghentikan penayangan Doraemon mencerminkan transformasi industri penyiaran.