China Kokoh Jadi Pengimpor Terbesar ke Indonesia, Impor Kendaraan Melonjak hingga 48%: Ini Rincian Lengkapnya
china-pixabay-
China Kokoh Jadi Pengimpor Terbesar ke Indonesia, Impor Kendaraan Melonjak hingga 48%: Ini Rincian Lengkapnya
Tren perdagangan internasional Indonesia pada tahun 2025 menunjukkan dominasi kuat Tiongkok sebagai mitra dagang utama. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa sepanjang Januari hingga November 2025, Tiongkok tetap menjadi negara pengimpor non-migas terbesar ke Indonesia, jauh meninggalkan negara-negara besar lainnya seperti Jepang dan Amerika Serikat. Bahkan, impor kendaraan dari negeri tirai bambu ini mengalami lonjakan signifikan hingga 48,56%, menandakan pergeseran besar dalam preferensi konsumen dan kebijakan perdagangan nasional.
Tiongkok Kuasai Hampir Separuh Impor Non-Migas Indonesia
Dalam konferensi pers yang digelar pada Senin, 5 Januari 2026, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menyampaikan bahwa impor non-migas dari Tiongkok mencapai US$77,52 miliar pada periode Januari–November 2025. Angka ini setara dengan 41,1% dari total impor non-migas Indonesia, menjadikan Tiongkok pemain dominan dalam rantai pasok industri dalam negeri.
“Tiga besar negara asal impor non-migas Indonesia masih ditempati oleh Tiongkok, Jepang, dan Amerika Serikat, yang secara kolektif menyumbang 52,87% dari total impor non-migas nasional,” ungkap Pudji.
Dominasi Tiongkok tak lepas dari peran penting komoditas teknologi dan manufaktur yang menjadi tulang punggung industri Indonesia. Dua kategori utama—mesin/peralatan mekanis dan mesin/peralatan elektrik—menjadi penopang utama arus impor dari Tiongkok.
Mesin dan Elektronik: Tulang Punggung Impor dari Tiongkok
Impor mesin dan peralatan mekanis beserta bagiannya dari Tiongkok mencapai US$17,63 miliar, menyumbang 22,75% dari total impor non-migas negara tersebut. Di posisi kedua, impor mesin dan perlengkapan elektrik mencatat angka US$16,97 miliar, atau sekitar 16,97% dari total impor Tiongkok ke Indonesia.
Kedua sektor ini menjadi fondasi bagi industri manufaktur, infrastruktur, dan energi di Tanah Air, menunjukkan ketergantungan yang signifikan terhadap komponen teknologi asal Tiongkok—sebuah tren yang terus menguat sejak pandemi.
Lonjakan Impor Kendaraan dari Tiongkok: Tanda Perubahan Selera Konsumen
Salah satu sorotan terpenting dalam laporan BPS kali ini adalah kenaikan tajam impor kendaraan dan komponennya dari Tiongkok. Nilainya mencapai US$4,37 miliar pada Januari–November 2025, meningkat 48,56% dibanding periode yang sama tahun lalu. Kontribusinya terhadap total impor dari Tiongkok mencapai 5,64%.
Lonjakan ini mencerminkan pergeseran dramatis dalam preferensi pasar otomotif Indonesia, yang mulai beralih ke kendaraan listrik (EV) dan mobil berbahan bakar alternatif buatan Tiongkok. Merek-merek seperti Wuling, BYD, Geely, dan DFSK kini semakin populer di kalangan konsumen urban, berkat harga kompetitif, teknologi canggih, dan dukungan kebijakan insentif pemerintah.
Jepang dan AS: Stabil, Tapi dengan Tren Berbeda
Sementara Tiongkok mencatat pertumbuhan pesat, Jepang dan Amerika Serikat tetap mempertahankan posisi sebagai mitra dagang strategis, meski dengan dinamika berbeda.
Impor dari Jepang mencapai US$13,28 miliar, dengan mesin dan peralatan mekanis (HS84) sebagai komponen terbesar (21,70%), tumbuh 5,76% secara cumulative-to-cumulative (c-to-c).
Namun, impor kendaraan dari Jepang justru turun 9,22%, mencapai US$1,93 miliar atau 14,55% dari total impor dari Jepang—tanda bahwa pangsa pasar otomotif Jepang mulai tergerus oleh kompetitor Tiongkok.
Di sisi lain, Amerika Serikat mencatat impor non-migas sebesar US$8,93 miliar, dengan mesin dan peralatan mekanis sebagai produk utama (US$1,64 miliar, atau 18,36% dari total impor AS), tumbuh 16,25% secara c-to-c.