Siapa Orang Terkaya Indonesia di Awal Tahun 2026 dengan Total Kekayaan Mencapai Rp754,17 Triliun?
Prajogo-Instagram-
Fluktuasi Kekayaan: Siapa Naik, Siapa Turun?
Tidak semua konglomerat menikmati pertumbuhan aset di awal 2026. Beberapa mengalami penyesuaian akibat volatilitas pasar saham dan penurunan harga komoditas. Namun, secara umum, total kekayaan 10 besar orang terkaya Indonesia masih menunjukkan tren positif dibandingkan akhir 2025.
Low Tuck Kwong, pemilik Bayan Resources, bertahan di posisi kedua dengan kekayaan Rp403,91 triliun, meskipun harga batu bara mengalami tekanan dari transisi energi global. Sementara itu, Sukanto Tanoto, pendiri Royal Golden Eagle (RGE), naik sedikit berkat permintaan global yang kuat terhadap produk pulp dan kertas.
Di peringkat empat dan lima, Budi dan Michael Hartono tetap solid. Keduanya—yang dikenal rendah hati dan jarang tampil di media—masih menjadi tulang punggung keuangan Indonesia lewat kepemilikan saham di BCA, bank swasta terbesar di Tanah Air.
Peran Orang Terkaya dalam Ekonomi Nasional
Keberadaan para miliarder ini bukan sekadar simbol kekayaan pribadi. Mereka memainkan peran strategis dalam mendorong investasi, menciptakan lapangan kerja, dan mendukung inisiatif sosial. Banyak dari mereka aktif dalam kegiatan filantropi, pendidikan, dan pembangunan infrastruktur, baik melalui yayasan maupun program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
Misalnya, Dato Sri Tahir, pendiri Mayapada Group, dikenal gencar dalam membangun rumah sakit dan mendukung program kesehatan masyarakat. Sementara Anthoni Salim, putra dari pendiri Salim Group, terus memperluas jejak bisnisnya di sektor makanan, ritel, dan telekomunikasi—termasuk melalui kepemilikan di Indosat Ooredoo Hutchison.
Tren 2026: Bisnis Berkelanjutan dan Digitalisasi Jadi Fokus Utama
Memasuki era pasca-pandemi yang penuh tantangan iklim dan geopolitik, para konglomerat Indonesia mulai mengalihkan fokus ke ekonomi hijau dan teknologi berkelanjutan. Investasi di energi surya, hidrogen hijau, serta ekosistem digital menjadi prioritas baru.
Hal ini tidak hanya menjawab tuntutan global terhadap ESG (Environmental, Social, and Governance), tetapi juga membuka peluang pertumbuhan jangka panjang di tengah pergeseran struktural ekonomi dunia.