Viral di Media Sosial, Perawat Ini Beberkan 7 Alasan Bahaya di Balik Minuman Matcha yang Dikemas dalam Infus Medis
Matcha-Instagram-
Viral di Media Sosial, Perawat Ini Beberkan 7 Alasan Bahaya di Balik Minuman Matcha yang Dikemas dalam Infus Medis
Sebuah tren minuman kekinian di Bali mendadak menjadi sorotan nasional setelah seorang perawat profesional menyoroti potensi bahaya kesehatan dari konsep pemasaran yang dianggap tidak bertanggung jawab. Minuman matcha yang dikemas dalam wadah infus medis—lengkap dengan selang dan kantong transparan layaknya cairan intravena—kini menuai kecaman dari kalangan tenaga kesehatan dan masyarakat luas.
Viralnya foto dan video minuman tersebut di TikTok dan Instagram memang awalnya memancing rasa penasaran. Banyak netizen terpikat dengan tampilan uniknya, seolah sedang "diberi infus matcha" alih-alih meminumnya dari gelas biasa. Namun di balik estetika yang menarik, muncul kekhawatiran serius tentang aspek keamanan, etika, dan regulasi yang tampaknya diabaikan demi gimmick pemasaran semata.
Peringatan dari Tenaga Medis: Ini Bukan Sekadar Gaya
Salah satu suara paling vokal datang dari Rizal Do, seorang perawat yang aktif di media sosial. Melalui unggahan di akun Twitter-nya, @afrkml, pada Senin (5/1/2026), Rizal menyampaikan keprihatinannya dengan tegas: "Tujuh alasan kenapa gimmick begini bahaya dan sebaiknya dihentikan."
Ia menegaskan bahwa penggunaan kemasan infus—yang secara harfiah dirancang untuk keperluan medis kritis—sebagai wadah minuman konsumsi bisa membawa risiko nyata bagi kesehatan publik, terlepas dari apakah kemasan tersebut baru atau bekas.
Tujuh Bahaya Tersembunyi di Balik Gimmick “Infus Matcha”
Dalam cuitannya yang kini telah dibagikan ribuan kali, Rizal merinci tujuh poin kritis yang patut menjadi perhatian:
Label Obat Keras yang Masih Tercantum
Kantong infus asli biasanya menyertakan label farmasi, termasuk peringatan “Obat Keras” serta informasi dosis dan komposisi obat medis. Penggunaan label ini pada produk konsumsi bisa membingungkan konsumen dan melanggar aturan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Kepemilikan dan Sumber Kemasan yang Meragukan
Rizal mempertanyakan apakah kemasan infus tersebut berasal dari limbah medis atau dibeli baru. Ia juga menyoroti keberadaan logo PT Otsuka, perusahaan farmasi ternama, yang tercetak di kemasan. Jika benar berasal dari limbah rumah sakit, risiko kontaminasi biologis—seperti virus hepatitis B (HBsAg+) atau HIV—sangat mungkin terjadi.
Risiko Struktural dan Kimia dari Bahan Kemasan
Kantong infus dirancang untuk menyimpan cairan medis tertentu, bukan minuman seperti matcha. Plastik medis jenis PVC yang sering digunakan bisa mengandung DEHP (di(2-ethylhexyl) phthalate), zat plastisizer yang berbahaya jika terpapar makanan atau minuman, apalagi dalam suhu tinggi.
Potensi Ketidakseimbangan Elektrolit
Jika kemasan infus benar-benar baru, lalu cairan aslinya dibuang dan diganti dengan matcha, pertanyaannya: bagaimana rasio pencampuran dijaga? Sisa cairan elektrolit medis yang tertinggal bisa berinteraksi dengan matcha, menciptakan risiko electrolyte imbalance—gangguan keseimbangan garam dalam tubuh yang berbahaya, terutama bagi penderita ginjal atau jantung.
Tidak Ada Sertifikasi Food Grade
Infus medis tidak pernah dirancang untuk konsumsi pangan. Tidak ada sertifikasi food grade yang menjamin keamanannya untuk menyimpan minuman. Regulasi pangan mengharuskan wadah makanan/minuman melewati uji ketat—yang tidak pernah dilalui oleh peralatan medis.
Migrasi Bahan Kimia ke Minuman
Tanpa uji migrasi (migration test), tidak ada jaminan bahwa senyawa kimia dari plastik infus tidak larut ke dalam matcha. Apalagi jika minuman disajikan hangat atau dibiarkan lama, risiko paparan bahan beracun justru meningkat.
Desensitisasi terhadap Alat Medis
Di luar aspek kesehatan fisik, Rizal juga menyoroti dampak psikologis dan sosial. Mengubah alat medis—yang bagi banyak pasien melambangkan penderitaan, pengobatan intensif, bahkan kematian—menjadi aksesori lucu adalah bentuk desensitisasi yang tidak sensitif. Bagi penyintas sakit berat, hal ini bisa memicu trauma.
Warganet Geram: "Ini Bukan Lucu, Tapi Menyakitkan"
Respons publik terhadap unggahan Rizal pun meledak. Banyak netizen, terutama dari kalangan tenaga kesehatan dan mantan pasien, menyuarakan ketidaknyamanan mereka.
“Bayangin kalau infus itu bekas pasien HBsAg+ atau HIV... trus dipakai buat jualan minuman. Ngeri banget,” tulis akun @minjeongoppa.
“Jujur, ini triggering banget. Aku pernah kena infeksi parah sampai harus pakai PICC line di rumah selama sebulan. Infus itu bukan mainan,” ungkap @terusterong, yang curhatannya viral dan mendapat ratusan ribu likes.
“Infus set-nya merk apa? Apakah food grade atau merk yang biasa dipakai untuk BMHP (Bahan Medis Habis Pakai)? Kalau tidak jelas, ini bisa jadi pelanggaran berat,” tambah @karurawit.
BPOM dan Kemenkes Diminta Turun Tangan
Menanggapi kekhawatiran yang meluas, banyak warganet mendesak Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta Kementerian Kesehatan untuk segera menyelidiki praktik bisnis tersebut. Apakah kafe tersebut memiliki izin penggunaan kemasan non-pangan? Apakah ada sertifikasi keamanan? Dan yang terpenting: dari mana sumber infus tersebut?