Mengenal Braille: Sistem Tulisan Ajaib untuk Tunanetra yang Dirayakan Setiap 4 Januari

Mengenal Braille: Sistem Tulisan Ajaib untuk Tunanetra yang Dirayakan Setiap 4 Januari

brille-pixabay-

Mengenal Braille: Sistem Tulisan Ajaib untuk Tunanetra yang Dirayakan Setiap 4 Januari

Setiap tanggal 4 Januari, dunia memperingati Hari Braille Sedunia (World Braille Day) sebagai bentuk penghormatan terhadap salah satu inovasi paling revolusioner dalam sejarah komunikasi—sistem tulisan Braille. Sistem ini bukan sekadar alat baca bagi penyandang tunanetra, melainkan jembatan penting yang menghubungkan mereka dengan dunia literasi, pendidikan, informasi, dan hak-hak dasar sebagai warga negara.



Apa Itu Braille?
Braille adalah sistem tulisan berbasis sentuhan yang terdiri dari kombinasi titik-titik menonjol yang disusun dalam sel berukuran 2x3. Setiap konfigurasi titik melambangkan huruf, angka, tanda baca, atau simbol khusus. Dengan menyentuh dan membacanya menggunakan ujung jari, penyandang tunanetra dapat memahami teks secara mandiri—seperti cara orang awas membaca huruf Latin dengan mata.

Sistem ini tidak hanya digunakan untuk membaca buku, tetapi juga tersedia di lift, papan penunjuk arah, kemasan obat, label makanan, hingga keyboard komputer. Di era digital, Braille juga telah bertransformasi melalui refreshable braille displays—perangkat elektronik yang menampilkan teks digital dalam bentuk titik Braille yang dapat diperbarui secara real-time.

Kisah Inspiratif di Balik Penemuan Braille
Sosok di balik kelahiran sistem ini adalah Louis Braille, seorang pemuda Prancis yang kehilangan penglihatannya pada usia lima tahun akibat kecelakaan saat bermain di bengkel milik ayahnya. Meski mengalami kebutaan total, Louis tumbuh dengan semangat belajar yang luar biasa. Ia diterima di Royal Institute for Blind Youth di Paris—salah satu sekolah khusus tunanetra pertama di dunia.


Pada usia 15 tahun, Louis terinspirasi oleh sistem komunikasi militer bernama night writing, yang dikembangkan oleh Kapten Charles Barbier untuk memungkinkan tentara Prancis berkomunikasi dalam kegelapan tanpa suara. Namun, sistem tersebut terlalu rumit dan tidak praktis. Louis kemudian menyederhanakannya menjadi sistem 6-titik yang mudah dipelajari dan efisien—lahirlah Braille pada tahun 1824.

Sayangnya, inovasinya tidak langsung diterima. Bahkan, sekolah tempatnya belajar sempat melarang penggunaan sistem tersebut. Baru setelah Louis meninggal dunia pada usia 43 tahun (1852), Braille mulai diadopsi secara luas dan kini menjadi standar global.

Mengapa 4 Januari Diperingati sebagai Hari Braille Sedunia?
Tanggal 4 Januari dipilih bukan tanpa alasan. Hari tersebut merupakan hari kelahiran Louis Braille pada tahun 1809. Sebagai bentuk pengakuan atas kontribusinya yang monumental terhadap inklusi sosial dan hak-hak penyandang disabilitas, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) secara resmi menetapkan 4 Januari sebagai Hari Braille Sedunia pada November 2018.

Menurut PBB, Braille bukan hanya alat bantu, melainkan bagian dari hak asasi manusia. Akses terhadap informasi dalam format yang dapat diakses—termasuk Braille—adalah prasyarat penting bagi kesetaraan, partisipasi penuh dalam masyarakat, dan realisasi hak atas pendidikan.

Pentingnya Hari Braille Sedunia: Lebih dari Sekadar Peringatan
Peringatan Hari Braille Sedunia membawa pesan yang jauh lebih dalam daripada sekadar mengenang sosok Louis Braille. Berikut tiga alasan utama mengapa hari ini perlu terus diperingati:

1. Menegaskan Kesetaraan Hak atas Informasi
Tidak semua orang memiliki akses yang sama terhadap pengetahuan. Bagi penyandang tunanetra, Braille adalah kunci emas yang membuka pintu menuju literasi. Tanpa Braille, mereka rentan mengalami keterbelakangan pendidikan, keterbatasan pekerjaan, dan keterasingan sosial. Peringatan ini mengingatkan dunia bahwa hak atas informasi harus inklusif dan universal.

2. Mendorong Inklusivitas di Segala Sektor
Hari Braille Sedunia menjadi panggilan aksi bagi pemerintah, lembaga pendidikan, dunia usaha, dan masyarakat sipil untuk menyediakan lebih banyak fasilitas berbasis Braille. Mulai dari buku pelajaran, dokumen resmi, hingga antarmuka digital—semua harus dirancang dengan prinsip universal design agar dapat diakses oleh semua kalangan, termasuk penyandang disabilitas visual.

3. Meningkatkan Kesadaran Global tentang Tantangan Tunanetra
Banyak orang masih belum memahami tantangan sehari-hari yang dihadapi oleh tunanetra—mulai dari kesulitan membaca label obat, menavigasi ruang publik, hingga mengakses layanan perbankan. Melalui kampanye global setiap 4 Januari, masyarakat diajak untuk lebih empatik, responsif, dan proaktif dalam menciptakan lingkungan yang ramah disabilitas.

TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya