Atta Halilintar Tuai Kritik Usai Pamer Salat di Trotoar China: Konten atau Ibadah?
Atta-Instagram-
Atta Halilintar Tuai Kritik Usai Pamer Salat di Trotoar China: Konten atau Ibadah?
Liburan ke luar negeri memang menjadi momen yang sering dimanfaatkan para selebriti untuk berbagi pengalaman dengan penggemar. Namun, kali ini Atta Halilintar justru menuai gelombang kritik setelah video dirinya salat di trotoar kota di Tiongkok beredar luas di media sosial. Aksi yang awalnya dimaksudkan sebagai unggahan rutinitas selama liburan justru dipersepsikan publik sebagai pencarian konten belaka—bukan ekspresi ibadah yang khidmat.
Video tersebut pertama kali diunggah oleh akun X @FaktaBerita89 pada Sabtu, 3 Januari 2025, dan dengan cepat menjadi viral. Dalam rekaman itu, terlihat Atta—suami penyanyi Aurel Hermansyah—sedang menunaikan salat di atas trotoar yang ramai, dikelilingi lalu lalang warga lokal. Tak hanya sekali, Atta juga terlihat salat di depan toko dan bahkan di bawah pohon, semuanya terekam kamera dengan jelas.
Reaksi Publik: Antara Menghargai Ibadah dan Menolak Konten Sensasional
Unggahan tersebut langsung memicu reaksi keras dari warganet. Banyak yang mempertanyakan niat di balik perekaman adegan ibadah tersebut. “Tidurnya di hotel bagus, salatnya di trotoar,” sindir pemilik akun @FaktaBerita89 dengan nada sarkastik—komentar yang kemudian banyak dikutip ulang.
Tak sedikit netizen yang menyayangkan cara Atta mengekspresikan ibadahnya. Mereka menilai bahwa salat seharusnya menjadi momen pribadi antara hamba dan Tuhannya, bukan konten yang diekspos untuk menarik perhatian publik.
“Salat aja gak sih, ngapain direkam-rekam? Kayak sengaja banget nunjukkin kalo emang sengaja buat dikontenin,” tulis seorang pengguna media sosial.
Pernyataan serupa juga dilontarkan netizen lain yang khawatir atas citra Islam yang mungkin terdistorsi. “Mohon maaf, konten yang salatnya hadap-hadapan sama pohon, orang yang gak tau pasti ngiranya nyembah ke pohonnya. Aneh banget lagi salat divideoin,” ujarnya dengan nada prihatin.
Antara Edukasi dan Eksibisi: Batas Tipis yang Sering Dilanggar
Sejumlah komentar lebih moderat mencoba memberikan perspektif lain. Ada yang berpendapat bahwa jika tujuannya edukatif—misalnya menunjukkan bagaimana umat Muslim bisa tetap menjalankan ibadah di tengah keterbatasan fasilitas di negara non-Muslim—maka perekaman tersebut bisa dimaklumi.
Namun, mayoritas warganet sepakat bahwa cara penyajian konten Atta terkesan berlebihan dan kurang sensitif. “Kalau memang mau edukasi, ya jelaskan juga latar belakangnya. Jangan cuma tunjukin adegan salat doang terus dikasih efek dramatis kayak lagi syuting MV,” komentar seorang pengamat media sosial.
Perdebatan ini pun menggarisbawahi isu yang lebih luas: batas antara dokumentasi ibadah sebagai bentuk dakwah digital dan eksploitasi ritual keagamaan demi engagement. Di era konten serba visual seperti sekarang, banyak kreator—termasuk selebriti—dihadapkan pada dilema ini.