Kasih Sayang, Jembatan Emas Menuju Persaudaraan Sejati! Inilah Khutbah Jumat 9 Januari 2026
al quran-freebiespic/pixabay-
Kasih Sayang, Jembatan Emas Menuju Persaudaraan Sejati! Inilah Khutbah Jumat 9 Januari 2026
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang sering kali dipenuhi persaingan, tekanan sosial, dan konflik horizontal, pesan sederhana namun mendalam dari khutbah Jumat hari ini menjadi angin segar bagi jiwa-jiwa yang rindu kedamaian. Bertepatan dengan hari Jumat berkah, 9 Januari 2026, tema “Kasih Sayang Lahirkan Persaudaraan” diangkat sebagai pengingat universal bahwa nilai-nilai kemanusiaan sejati bermula dari rasa cinta dan belas kasih terhadap sesama.
Sebagai umat Muslim, menanamkan kasih sayang bukan sekadar anjuran moral—melainkan perintah ilahi yang membawa berkah tak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat kelak. Allah SWT mencintai mereka yang saling berkasih sayang, dan Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa surga tidak akan pernah terbuka lebar bagi siapa pun yang menutup pintu hatinya dari sifat rahmah ini.
Kasih Sayang: Inti Ajaran Islam yang Tak Boleh Diabaikan
Dalam khutbah pertama, khatib membuka dengan pujian syukur kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Ia mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa meningkatkan takwa—sebab takwa, menurut firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 197, adalah “sebaik-baik bekal” dalam perjalanan hidup yang tak berujung.
“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa, dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.”
Namun, takwa yang sempurna tidak cukup hanya dengan menjalankan ibadah ritual. Ia harus diwujudkan dalam bentuk perilaku yang membawa kemaslahatan bagi sesama—salah satunya melalui kasih sayang.
Rahmah: Lebih dari Sekadar Perasaan, Tapi Sebuah Perbuatan
Kata “kasih sayang” dalam bahasa Arab dikenal sebagai Ar-Rahmah—akar kata yang sama dengan Ar-Rahman dan Ar-Rahim, dua dari 99 asmaul husna Allah SWT. Ini menunjukkan betapa luhurnya nilai kasih sayang dalam Islam. Bukan hanya sebagai emosi, kasih sayang dalam Islam adalah tindakan nyata yang menciptakan kedamaian, menenangkan jiwa, dan mempererat ikatan sosial.
Dalam hadis riwayat Abu Dawud, Nabi Muhammad SAW bersabda:
"Orang-orang yang saling berkasih sayang akan disayang oleh Dzat yang Maha Penyayang. Maka sayangilah penduduk bumi, maka Allah yang di langit akan menyayangi kalian."
Pernyataan ini mengandung pesan luar biasa: kasih sayang bukan hanya urusan akhlak pribadi, tetapi juga kunci membangun hubungan vertikal dengan Sang Pencipta. Bahkan, dalam riwayat Muslim, Nabi menegaskan:
“Tidaklah kalian masuk surga kecuali kalian beriman kepada Allah, dan tidaklah kalian beriman secara sempurna kecuali kalian saling menyayangi.”
Kasih Sayang dalam Realitas Sosial: Antara Harapan dan Kekhawatiran
Khatib tidak menutup mata terhadap realitas kekinian. Di satu sisi, banyak orang masih menebar kasih sayang—dalam keluarga, persahabatan, bahkan di ruang digital. Namun di sisi lain, dunia juga dihantui oleh tindakan-tindakan kejam: kekerasan, ujaran kebencian, bahkan pembunuhan yang dilakukan tanpa rasa bersalah.
Mereka yang tega menyakiti sesama, menurut khatib, adalah orang-orang yang “telah mati nuraninya”. Jiwa mereka kering dari nilai spiritualitas, sehingga kehilangan kemampuan untuk merasakan penderitaan orang lain. Padahal, sebagai makhluk yang dimuliakan Allah (QS Al-Isra: 70), manusia seharusnya menjadi cerminan sifat rahmah Ilahi di muka bumi.
Kasih Sayang yang Universal: Untuk Semua Makhluk
Islam tidak membatasi kasih sayang hanya untuk sesama Muslim. Ajaran ini bersifat universal. Kasih sayang juga harus ditunjukkan kepada non-Muslim, hewan, tumbuhan, bahkan alam semesta. Sebab, rahmah adalah energi positif yang mengalir dari hati yang sehat—hati yang terus dirawat dengan ibadah, muhasabah, dan amal saleh.
Allah SWT berfirman dalam Surah Maryam ayat 96:
“Sesungguhnya bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, (Allah) Yang Maha Pengasih akan menanamkan kasih sayang (dalam hati) mereka.”
Ayat ini menggambarkan bahwa kasih sayang bukan sesuatu yang dipaksakan, melainkan buah dari iman dan amal baik yang tumbuh subur dalam jiwa seorang mukmin.
Membangun Persaudaraan melalui Rahmah Sehari-hari
Menurut cendekiawan Muslim M. Quraish Shihab, orang yang hidup dalam naungan kasih sayang akan bersikap toleran terhadap kesalahan orang lain, rendah hati, dan lembut dalam menasihati. Mereka tidak mudah marah, tidak suka memfitnah, dan selalu berusaha memperbaiki hubungan yang retak.
Khutbah menekankan pentingnya menggeliatkan praktik kasih sayang dalam kehidupan sehari-hari:
Menyapa tetangga dengan senyum,
Mendengarkan keluhan saudara tanpa menghakimi,
Memaafkan kesalahan kolega,
Bahkan memberi makan kucing liar di pinggir jalan.
Semua itu adalah bentuk nyata dari rahmah yang mengalir dari hati yang takwa.