Khutbah Jumat 9 Januari 2026: Mengenal Sejarah Natal dari Perspektif Islam dan Menyikapinya dengan Bijak

Khutbah Jumat 9 Januari 2026: Mengenal Sejarah Natal dari Perspektif Islam dan Menyikapinya dengan Bijak

masjid-pixabay-


Khutbah Jumat 9 Januari 2026: Mengenal Sejarah Natal dari Perspektif Islam dan Menyikapinya dengan Bijak

Menjelang akhir tahun Masehi, topik seputar Natal kerap menjadi sorotan, tak terkecuali di kalangan umat Muslim. Seiring perayaan Natal yang telah berlalu pada 25 Desember 2025, banyak pertanyaan kembali muncul: benarkah tanggal tersebut adalah hari kelahiran Nabi Isa ‘alaihissalam? Bagaimana seharusnya umat Islam menyikapi perayaan umat lain, terutama terkait ucapan “Selamat Natal”? Pertanyaan-pertanyaan ini kerap mencuat, terutama di kalangan santri, pelajar, hingga masyarakat umum.



Dalam khutbah Jumat yang disampaikan pada 9 Januari 2026, seorang khatib mengangkat topik tersebut dengan pendekatan historis, teologis, dan spiritual yang mendalam. Ia menekankan pentingnya memahami akar sejarah Natal, menelusuri konteks Al-Qur’an terkait kelahiran Nabi Isa, serta menegaskan prinsip toleransi yang diajarkan dalam Islam—tanpa kompromi pada akidah.

Kelahiran Nabi Isa dalam Perspektif Al-Qur’an
Di awal khutbah, sang khatib mengingatkan jamaah bahwa seorang mukmin yang telah mencapai usia 40 tahun dituntut untuk senantiasa memohon kepada Allah agar diberi kemampuan “beramal saleh yang diridai-Nya”. Tidak semua amal yang tampak baik secara sosial otomatis diridai Allah, terutama jika bertentangan dengan prinsip tauhid.

“Umat Islam harus kritis terhadap narasi-narasi sejarah yang diterima begitu saja,” ujar sang khatib, mengingat pelajaran yang pernah ia terima semasa mondok di Pesantren Tebuireng.


Ia menjelaskan bahwa penetapan 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus Kristus bukan berasal dari kitab suci Injil, melainkan keputusan Konsili Nicea tahun 325 Masehi di bawah kepemimpinan Kaisar Konstantinus Agung. Tujuan politis dari keputusan ini adalah menyatukan doktrin Kristen yang saat itu sedang terpecah belah. Dalam konsili tersebut, Yesus secara resmi diangkat sebagai Tuhan, dan tanggal 25 Desember dipilih sebagai kelahirannya—meski tidak ada bukti historis konkret yang mendukung.

Sebaliknya, Al-Qur’an memberikan petunjuk astronomis dan alamiah yang kuat mengenai waktu kelahiran Nabi Isa ‘alaihissalam. Allah berfirman dalam Surah Maryam ayat 25:

هُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا
“Goyangkanlah batang kurma itu ke arahmu, niscaya ia akan menurunkan buah kurma yang masak kepadamu.”

Ayat ini menggambarkan momen kelahiran Isa, ketika Maryam sedang dalam persalinan dan diperintahkan oleh malaikat untuk menggoyangkan batang pohon kurma agar memperoleh buah matang sebagai penenang dan penguat badan. Fakta botani menunjukkan bahwa musim panen kurma di wilayah Timur Tengah terjadi antara Juli hingga Agustus. Dengan demikian, sangat tidak masuk akal jika kelahiran Nabi Isa terjadi pada Desember—bulan yang justru merupakan musim dingin di kawasan tersebut.

“Musim kurma tidak mungkin berbuah di Desember. Ini adalah isyarat kuat bahwa kelahiran Nabi Isa terjadi jauh sebelum tanggal yang ditetapkan oleh gereja,” tegas khatib.

Toleransi dalam Islam: Antara Hormat dan Prinsip Akidah
Khutbah kemudian beralih ke isu sensitif: bolehkah umat Islam mengucapkan “Selamat Natal”?

Sang khatib mengakui bahwa beberapa kalangan mengizinkan ucapan tersebut, berdalih dengan ayat:

وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا
“Dan kesejahteraan (salam) atas diriku pada hari aku dilahirkan, pada hari aku wafat, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” (QS. Maryam: 33)

Namun, ia menegaskan bahwa ayat ini tidak relevan sebagai dalil untuk mengucapkan selamat Natal. Mengapa? Karena ayat tersebut adalah bagian dari ucapan Nabi Isa sendiri sebagai hamba Allah yang mulia, untuk menegaskan bahwa ia bukan Tuhan, melainkan utusan-Nya. Ayat ini justru menjadi penegas tauhid, bukan pembenaran perayaan kelahirannya sebagai Tuhan.

“Mengucapkan selamat Natal dalam konteks pengakuan terhadap Yesus sebagai Tuhan jelas bertentangan dengan akidah Islam. Toleransi kita bukan berarti mengaburkan batas keyakinan,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa Al-Qur’an memang mengajarkan toleransi sosial—hormat kepada tetangga, menjaga hubungan baik, dan menghargai hak orang lain. Namun, pada ranah akidah, Islam tidak mengenal kompromi. Allah berfirman:

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
“Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 6)

Asal Usul 25 Desember: Hari Kelahiran Dewa Matahari
Fakta menarik lain yang diungkap dalam khutbah adalah asal-usul 25 Desember. Tanggal ini, menurut sejarah Romawi kuno, justru merupakan perayaan kelahiran Dewa Matahari (Sol Invictus). Pada masa pra-Kristen, masyarakat Romawi merayakan Dies Natalis Solis Invicti—Hari Lahir Dewa Matahari yang Tak Terkalahkan—pada 25 Desember, bertepatan dengan berakhirnya musim gelap terpanjang (winter solstice).

Ketika Kaisar Konstantinus mengadopsi Kristen sebagai agama negara, ia “meng-Kristen-kan” perayaan ini dengan mengganti tokohnya dari dewa matahari menjadi Yesus Kristus. Inilah mengapa lambang matahari sering muncul dalam ikonografi Natal awal.

Lebih jauh, sang khatib mengingatkan bahwa penamaan hari dalam kalender Barat pun sarat dengan muatan pagan.

Sunday = Sun’s day (Hari Dewa Matahari)
Monday = Moon’s day (Hari Dewa Bulan)
Tuesday hingga Friday = Nama-nama dewa Nordik
“Al-Qur’an telah memperbaiki sistem ini,” katanya. Dalam Islam, hari pertama disebut Ahad—bukan 'Sunday'—untuk menegaskan keesaan Allah (Al-Ahad). Sayangnya, di Indonesia, istilah “Ahad” kini jarang dipakai, digantikan oleh “Minggu”, yang berasal dari kata Latin Dominica atau Domingo, yang berarti “Hari Tuhan”.

“Mengganti ‘Ahad’ dengan ‘Minggu’ adalah bentuk akulturasi yang tidak sadar telah membawa unsur syirik. Umat Islam sebaiknya kembali menggunakan istilah Ahad,” imbaunya.

TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya