Menit ke-44, Daley Blind melepas umpan silang panjang dari sisi kiri lapangan. Bola meluncur deras ke arah kotak penalti. Tepat di saat itu, Robin van Persie—yang awalnya berada di luar kotak penalti—melompat tinggi, melayang di udara seperti elang, dan menyundul bola dengan sempurna melewati jangkauan kiper legendaris Spanyol, Iker Casillas.

Gol itu bukan hanya menyeimbangkan skor menjadi 1-1, tapi juga menjadi awal dari kemenangan telak Belanda 5-1 atas Spanyol—sebuah hasil yang mengejutkan dunia sepak bola.

Mengapa Disebut ‘Flying Dutchman’?
Julukan Flying Dutchman (Belanda Terbang) sebenarnya merujuk pada legenda maritim Eropa tentang kapal hantu yang tak pernah bisa berlabuh. Namun dalam konteks ini, julukan tersebut dipakai secara puitis untuk menggambarkan cara Van Persie “melayang” di udara sebelum menyundul bola. Gerakan itu begitu elegan, berani, dan bersejarah—menjadi salah satu gol terbaik dalam sejarah Piala Dunia.

Bahkan FIFA sendiri memasukkan gol tersebut ke dalam daftar "Gol Terbaik Piala Dunia Sepanjang Masa", dan hingga kini, rekaman sundulan itu masih sering diulang di berbagai platform media sosial, termasuk TikTok, Instagram, dan YouTube.

Baca juga: Prediksi UMP 2026 di 38 Provinsi Indonesia: DKI Jakarta Masih Teratas, Buruh Desak Kenaikan Lebih Tinggi

Jawaban yang Tepat: Spanyol!
Dari keempat pilihan yang diberikan dalam kuis Trivia FC Mobile hari ke-6:

A. Australia → Belanda memang menghadapi Australia di laga kedua Grup B, tetapi gol Van Persie yang ikonik bukan terjadi di pertandingan itu.
B. Brasil → Belanda bertemu Brasil di perebutan tempat ketiga, bukan di fase grup.
C. Spanyol → Benar! Ini adalah lawan yang gawangnya dijebol oleh sundulan Van Persie yang legendaris.
D. Chili → Belanda menghadapi Chili di laga terakhir Grup B, tapi tanpa gol spektakuler semacam itu.
Jadi, jawaban yang benar adalah C. Spanyol.

Mengapa Momen Ini Masih Diingat Sampai Sekarang?
Selain karena keindahan teknisnya, gol tersebut melambangkan semangat kebangkitan. Belanda, yang empat tahun sebelumnya kalah di final, kini tampil percaya diri dan menunjukkan bahwa mereka tak gentar menghadapi juara bertahan. Gol Van Persie menjadi katalisator psikologis yang mengubah jalannya pertandingan—dan bahkan jalannya turnamen bagi Belanda.

Di bawah asuhan pelatih Louis van Gaal, tim Oranje tampil dengan formasi 3-5-2 yang revolusioner, memanfaatkan kecepatan dan ketajaman lini depan. Hasil 5-1 atas Spanyol menjadi bukti nyata keberhasilan strategi tersebut.